Mohon tunggu...
Fachrur Rozi Nasution
Fachrur Rozi Nasution Mohon Tunggu...

>> Saya hanya lah kumpulan Hari - hari yang sesungguhnya jika hari berkurang maka berkurang juga umur saya. >> Saya sering menghabiskan waktu di depan layar laptop berjam-jam untuk online dan atau membaca ebook. >> Founder & CEO https://tokoandalan.com

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Pendiskriminasian Terhadap Kaum Hawa

22 Juni 2012   15:51 Diperbarui: 25 Mei 2018   06:29 190 1 0 Mohon Tunggu...

Selamat malam sahabat kompasiana….

Udah lama bangat nih saya ndak nulis di kompasiana ini karena suatu alasan yang tidak bisa di pertanggung jawabkan di meja hijau. He he he

Akhir-akhir ini banyak bangat saya dengar gosip-gosip yang sangat membosankan telinga ini untuk mendengarkannya. Mulai dari kasus korupsi yang tak tuntas-tuntas di negeri tecinta ini, sampai dengan gosip-gosip tentang kebijakan pemerintah dan pembantu-pembantunya yang sangat membosankan juga menurut saya. dan gosip terbaru yang masih hangat dan sempat membuat saya murka adalah tentang klim orang Malaysia yang pengen mendaftarkan Tarian suku saya dan budaya saya menjadi warisan mereka (Malaysia). Tarian dan sudah membudaya dalam suku saya yang saya maksud adalah : Tor-tor dan gondang sambalan.

Ya... karena saya yang asli dan besar di salah satu daerah di Propinsi Sumatera Utara dan mempunyai marga sebagai ciri khas orang batak, saya pada  awalnya merasa tersinggung atas tindakan orang Malaysia tersebut. Namun setelah saya pikir-pikir dan merenung beberapa hari lamanya. Maka saya merasa bersalah juga jika tidak merestui orang untuk melestarikan budaya tersebut. hal ini di karenakan saya pribadi sendiri termasuk tipe orang yang sok modern padahal kampungan dan katrok. He he he

Bahwa saya yang selama ini dan sekarang ini tidak pernah ikut ambil bagian dalam pelestarian budaya saya tersebut. jangankan untuk melestarikan budaya saya tersebut. untuk nonton yang namanya tari tor-tor di dalam suatu acara hingga saat ini Cuma satu kali,  Saya baru satu kali pernah menyaksikan  tari tor-tor dalam pertunjukan, ini pun tidak lama dikarenakan ketidak tertarikan saya terhadap tarian tersebut. dan saya pernah suatu ketika di minta teman-teman untuk membawakan tari tor-tor di dalam perayaan ulang tahun ORDA SUMUT yang ada di Malang. Dan saya tolak, hingga pada akhirnya yang  membawakan tari tor-tor bukan dari suku batak, melainan dari suku melayu medan yang ada di Malang ini. Atas dasar inilah saya merasa bersalah jika saya tidak mengizinkan tetangga saya melestarikan budaya saya tersebut.

Waduh… kok jauh bangat menyimpang tema saya ini ke pembahan yang di maksud, untuk itu kembali lagi deh kita ke topic semula… :D

Beberapa hari terakhir ini saya selalu kepikiran terus tentang teman saya. teman saya ini sebut saja namanya Mardi’ah. Mardi’ah ini orangnya sangat elok di pandang mata, budi pekertinya bagus, ramah dan tidak sombong. Mardi’ah sudah lama menjalin hubungan dengan seorang cowok yang bekerja sebagai pembela Negara. Cowoknya ini adalah seorang militer. Dan katanya si mardi’ah ini hubungan mereka itu sangat serius dan akan di bawa ke ikatan suci tali pernikahan (pantasan saya ajak kencan mardi’ahnya selalu di tolak, karena saya ini masih berandalan jika di bandingkan calon suaminya yang seorang militer tersebut. :( )

Bukan karena di tolak oleh dia atas ajakan saya untuk kencan loh, sehingga saya menuliskan arikel ini. Melainkan atas kasihannya saya terhadap dia sebagai wanita yang akan menikah dengan seorang militer tersebut. bahwa mardi’ah sebelum nikah dengan cowoknya tersebut. masih sangat jauh perjalanan yang dia tempuh. Si Mardi’ah harus di cek dulu kesehatannya, keperawanannya, fisiknya. Dan lain-lain yag otomatis jika pengen melihat keperawanannya harus di perlihatkannya kedokter kegadisannya dan harus rela kegadisannya di pegang-pegang oleh si dokter. Syukur-syukur kalo dokternya sama-sama perempuan, jadi si mardi’ah tidak terlalu risih. Kalo dokternya ternyata laki-laki ?

Lebih jauh lagi saya berpikir bahwa si perempuan (mardi’ah) wajib menjalani tes keperawanan, tes kesehatan untuk di ketahui apakah dia mempunyai penyakit bawaan atau tidak. Sementara si cowok tidak menjalani tes keperjakaan. Inilah yang saya maksudkan pendiskriminasian terhadap perempuan. Jika nyatanya di hasil pemerikasaan si mardi’ah tidak perawan karena suatu alasan yang tidak bisa dijelaskan, bisa di pastikan 90% si laki-laki tersebut tidak akan mau memperistrinya.

Kasus Mardi’ah ini sebenarnya sudah saya dengar dulu ketika saya masih duduk di bangku SMA. Namun hal diatas, saya masih melihat sisi positifnya, dan tidak berpikiran yang aneh-aneh. Semoga dengan adanya pemeriksaan keperawanan buat perempuan ketika ingin menikah. Si perempuan tersebut lebih hati-hati menjaga diri dan kegadisannya. Dan tidak akan menyerahkan kegadisannya ke pada calon suaminya atau apalagi hanya sebatas pacar. Melainkan si perempuan akan menyerahkan kegadisannya hanya kepada  Suaminya yang sudah di ikat dengan tali pernikahan.

Yang pada akhirnya  penyakit AIDS dan HIV yang sangat meresahkan umat manusia ini sedikit merasa tenang. Karena perempuan dan laki-laki sudah sama-sama menjaga diri. Dan buat Bu Menteri Kesahatan tidak perlu lagi membagi-bagikan KONDOM. Dan beliau bisa focus terhadap penyakit-penyakit BUSUNG LAPAR yang sudah semakin memprihatinkan tersebut.

Wallahu’alam…


By: Founder & CEO Tokoandalan.com

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x