Mohon tunggu...
Si Murai
Si Murai Mohon Tunggu... Itu, burung kecil berekor panjang yang senang berkicau!

“Do not ask who I am and do not ask me to remain the same. More than one person, doubtless like me, writes in order to have no face.” ― Michel Foucault

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerita untuk Tuan

15 Oktober 2019   12:26 Diperbarui: 15 Oktober 2019   13:01 0 9 4 Mohon Tunggu...
Cerita untuk Tuan
Replika pinisi (dokpri)

Aku sudah tua. Tapi, usia Pak Salman jauh lebih tua daripada aku. Ia bangun perpustakaan pribadi ini tiga puluh tahun yang lalu. Aku lahir di tahun yang sama. Dahulu, aku adalah buku kesayangannya. Mungkin hingga kini.

Kepada orang-orang yang datang, ia selalu bilang, "Ini adalah buku cerita anak terbaik yang pernah kubaca. Aku sangat menyukainya. Bacalah, kamu juga pasti akan suka!"

Aku pun dielu-elukan. Setiap hari orang datang, mengambilku, membacaku, mengagumi kisah yang tertulis. Hingga pada suatu hari, kudengar Pak Salman menangis. Tangannya yang kekar namun lembut mengelus-elus tubuhku. Air matanya yang hangat jatuh membasahi halaman judul buku. Sejak saat itu, kutahu, tak ada lagi yang datang untuk mengambilku. Aku tak lagi dibaca. Pak Salman menyimpanku di laci meja kerja.

***

            Aku menghitung kapal pinisi

            Satu per satu kembali ke laut

            Seorang punggawa menghitung hari

            Kayu-kayu saling bertaut

Gatta suka puisi. Ia menulisnya di dermaga yang panas. Ombak tampak bergegas, sementara para lelaki sibuk merakit kapal pinisi.

"Mengapa kita membuat kapal pinisi, Bapa?" tanya Gatta pada ayahnya pada suatu malam.

"Karena kita adalah pelaut," jawab ayah Gatta.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
15 Oktober 2019