Mohon tunggu...
SENO R. PUSOP JR
SENO R. PUSOP JR Mohon Tunggu... Desainer - @rockyjr.official17

More Than Winner

Selanjutnya

Tutup

Diary Artikel Utama

Bersama Malaikat Tak Bersayap di Pedalaman Yahukimo Papua

24 September 2021   00:00 Diperbarui: 24 September 2021   10:03 474 15 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bersama Malaikat Kecil di Perbukitan Kampung Hombuka, Distrik Kosarek, Kabupaten Yahukimo Papua (Sorce: Dokpri)

Hari itu, tertanggal 19 Desember 2019 Pesawat Cessna milik maskapai Mission Aviation Fellowship (MAF) tipe Kodiak PK-MC K-100 yang kami tumpangi landing tepat di ujung lapangan di sebuah kampung di pedalaman Yahukimo-Papua. 

Pada tepian itu dipenuhi dengan massa yang mengitari bundaran. Setelah baling-balingnya perlahan terhenti, agen yang bekerja menghampiri pesawat sembari menggengam besi dan mengaitnya pada roda.

Sesegera pilot dan agen membuka pintu bagasi dan menurunkan barang bawaan kami, terdengar dari kejauhan saat melepaskan sabuk pengaman, tak sedikit bibir yang berucap menyebutkan nama ketika melihat saya menuruni tangga Pesawat. 

Kala saya menepi terlihat begitu banyak lesung pipi yang terpancar karena senyuman manis mereka yang membuat hati saya terpukau pada perjumpaan itu.

Selejang pesawat take off, gerombolan malaikat penghuni kawasan Paseka, menghampiriku dan memulai dengan sapaan cipika-cipiki. melekangkan waktu yang cukup lama meninggalkan tempat ini semenjak usia 3 tahun dan masih terlalu kecil, sangat sulit untuk mengingat orang-orang semasa itu saat bertemu. 

Saya tercengang dengan orang-orang yang berdiri maupun suasana di tempat ini. Karena begitu banyak perubahan yang terjadi, rumit mereview masa lalu untuk membandingkannya dengan kehidupan yang kekinian.

Kami diantarkan ke rumah petakan. Sebelum itu kami dicanangkan tinggal di rumah Adit-Putri, tetapi Anderson yang megang kunci rumah itu sedang bepergian dan mengikuti kegiatan gereja di Kampung Punum, barangkali jaraknya berkisar sekitar 100 mil dari kediaman kami. Seharian kami menunggu, keesokan harinya sekitar pukul 22.00 malam Anderson tiba depan rumah dan memberikan kuncinya.

Sumber foto: Dok. Pribadi
Sumber foto: Dok. Pribadi
Sebelum itu, saya sempat menggigil siangnya jam 02.00, setiba dari Jayapura jam 01.30, saat itu saya mengenakan jacket tebal dilapisi dengan selimut yang empuk untuk menghangatkan tubuh. 

Sampai pada jam 03.00 saat berada di ketinggian pegunungan Papua, sore hari itu sangat mendinginkan, disertai dengan lalu-lalangnya awan kumulus yang menutupi seluruh dataran dan angin kali yang mulai meniup dari bagian lembah enggan mengenai seluruh rumah, tampaknya membuat saya kedinginan.

Memang sudah sepatutnya saya harus merasakan bagaimana rasanya mengigil itu. Karena terbiasa dan lama hidup di daerah panas, hingga saat berada di daerah pegunungan yang amat dingin, tentu saja hal itu akan amat terasa. 

Namun hatiku seraya bibirku berucap dalam sikap doa, "bahwa gigilnya tidak boleh berujung pada malaria" sembari terbaring di tempat tidur. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan