Mohon tunggu...
Vsiliya Rahma
Vsiliya Rahma Mohon Tunggu... Lainnya - Seseorang yang suka bermain dengan kata (🕊ϚìӀѵìą འ ą հʍ ą ա ą է ì🕊)

Manusia yang tak luput dari dosa dan hina

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Pendosa Tak Pantas Hidup

24 November 2020   09:16 Diperbarui: 24 November 2020   09:20 256
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Aku mau mencoba hibur, Kesi." Tasya menggeleng, gadis itu tidak setuju dengan ideku itu.

"Tenang aja." Seulas senyum kutampilkan untuk meyakinkan dirinya. Tasya menghela napas, kemudian mengangguk lemah.

"Jangan terlalu dekat!" peringatnya, aku hanya tersenyum ke arahnya kemudian berjalan menuju Kesi berada.

"Kes."

"Kesi." Berulang kali gadis itu kupanggil, namun ucapanku seakan hanya sebuah angin lewat yang tak penting. Masih tak memperdulikan ucapanku, gadis itu mengeluarkan buku dan pensil dari tasnya. Aku mengernyit ketika tangan gadis itu menorehkan karbon di atas kertas dengan tangan bergetar.

Aku terdiam, hanya memperhatikan gadis itu. Entah apa yang ingin ia gambarkan. Kutajamkan penglihatan, kerutan di dahi semakin menjadi tatkala pensil miliknya telah berhenti menari. Sebuah pohon besar dengan ayunan yang menggantung di dahannya terlihat olehku, di samping pohon tersebut Kesi menggambar sebuah kolam, atau mungkin danau, entahlah. Tapi, apa maksud gambar itu. Baru saja aku ingin bertanya, tiba-tiba Kesi menjerit.

"Da-darah, darah." Semua orang di ruangan itu seketika menoleh. Aku yang berada di dekat Kesi mencoba menenangkan gadis itu. Tapi dia terus saja berteriak layaknya orang kesetanan.

"Darah, darah."

"Tidak! Monic! Monic!" Semua orang bingung harus berbuat apa, Kesi terus saja menjerit. Gadis itu sulit untuk ditenangkan. Hingga beberapa orang berbaju putih datang mencoba melumpuhkannya.

"Tidak, lepaskan!" jeritnya sambil memberontak mencoba melepaskan kedua tangannya yang dipegang erat.

"Aku tidak gila, lepaskan aku! Lepaskan!" Aku hanya diam menyaksikan semua itu, begitu pula dengan semua orang yang ada di ruangan ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun