Mohon tunggu...
Wisnu Adhitama
Wisnu Adhitama Mohon Tunggu... Jalani hidup hari ini dan rencanakan besok dan kedepan untuk berbuat sesuatu

Writer on sihitamspeak.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi

Opini: Jang Koe Sajang Indonesia

18 Desember 2016   05:45 Diperbarui: 18 Desember 2016   08:33 154 0 0 Mohon Tunggu...

Melihat apa yang terjadi belakangan hari ini banyak membuat saya miris. Perebutan kepentingan antara mayoritas dan minoritas amat kental terasa. Permainannya sebenarnya bukan masalah salah benar, tetapi lebih kepada siapa yang paling kuat. Indonesia bahkan dunia sekarang sedang merindukan perdamaian. Sesuatu yang seolah menjadi angan jika melihat media-media memberitakan beritanya.

Di Indonesia semisal, banyak pemeluk Agama Islam yang keblinger hanya karena Ahok dituduh melakukan penistaan terhadap agamanya. Padahal jelas, hukum di Indonesia sudah mengatur hal itu. Lalu mengapa ngotot memenjarakan orang yang belum jelas status apakah ia bersalah atau tidak. Sesuatu keegoisan yang akhirnya menimbulkan kebodohan. Yang kena imbasnya bukan cuma Ahok, tetapi banyak pihak juga menjadi korban seperti roti yang cukup saya suka, Sari Roti.

Saya menulis ini dengan konsekuensi siap untuk dituntut jika ada yang merasa bahwa saya melecehkan atau tidak mendukung agama mayoritas di Indonesia ini. Agama mayoritas? Punya hak lebih apa? Bukan karena kalian mayoritas lantas bisa bertindak semau hati di negara ini.

Saya ingatkan kembali, negara kita ini mayoritas Islam dan tidak berbentuk “Negara Islam”! Saya paling menentang jika ada yang hendak mengubah negara ini dengan bentuk agama tertentu. Ingat, keinginan mengubah bentuk negara tanpa prosedur yang dikehendaki secara konstitusi adalah bentuk “makar”!

Islam memang memiliki peran penting dalam tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, maklum saja karena mayoritas. Tetapi bukan berarti Islam saja lah yang memiliki peran. Sejarah mencatat bahwa negara ini dibangun oleh banyak lapisan agama, kepercayaan, keyakinan, dan adat-budaya. Bayangkan jika dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini Indonesia memandang agama, kepercayaan, keyakinan, dan adat-budaya yang dimiliki. Apa yang membuat Indonesia menyatu?

Kita disatukan bukan berdasarkan “Bhinneka Tunggal Ika” yang dibawa oleh Pancasila. Bhinneka Tunggal Ika itu hanya semboyan untuk mengingat peristiwa penting yang sesungguhnya. Kita, Negara Indonesia, dalam banyak sejarah secara tidak langsung disebutkan disatukan oleh “menghilangnya egoisme” antara pemimpin-pemimpin kita saat itu. Lihatlah bagaimana Hatta dan Soekarno yang jelas memiliki pemikiran berbeda tetapi masing-masing saling mengalah dan meleburkan diri hingga kita bisa merdeka dan beliau membacakan teks proklamasi.

Sejarah dimanapun telah mencatat satu hal penting, runtuhnya iman, runtuhnya agama, negara, keyakinan bukan diakibatkan oleh serangan dari luar. Keegoisan yang melahirkan kebodohan lah yang jelas-jelas dapat meruntuhkan iman, agama, keyakinan, kepercayaan, bahkan negara sekalipun. Persetan dengan mayoritas!

Mengubah Negara Republik Indonesia menjadi Negara Islam? Jelas anda telah melakukan tindakan makar! Sampai sekarang saya belum yakin ada dalil yang menyatakan orang Islam harus berada di Negara Islam. Bagaimana Islam bisa besar jika hanya berkungkung di baskom yang itu-itu saja? Seekor katak yang ada dalam sebuah tempurung tidak akan pernah tahu bahwa dunia itu luas.

Anda bodoh boleh, tetapi jangan sebar kebodohan anda! Bodoh itu hak dari setiap orang, tetapi menyebar kebodohan itu adalah tindakan kriminal yang melanggar hukum positif Indonesia! Jika tak mau mematuhi peraturan di Indonesia, please jangan membuat gaduh di Indonesia. Masih banyak Negara Islam didunia dan anda berhak untuk berpindah kewarganegaraan jikalau anda mau.

Mulailah memakai helm saat anda bepergian, jangan menggunakan peci atau sorban saja! Jika anda ummat Tuhan yang baik, patuhilah segala aturan yang ada di negara ini. Jika menurut anda menggunakan helm atau hal lainnya itu tidak baik dan anda merasa dirugikan, saya persilahkan untuk men-judicial review UU lalu lintas ke Mahkamah Konstitusi. (AWI)

VIDEO PILIHAN