Mohon tunggu...
Shinta Harini
Shinta Harini Mohon Tunggu... Penulis - From outside looking in

Pengajar dan penulis materi pengajaran Bahasa Inggris di LIA. A published author under a pseudonym.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Anugerah, Bukan Kutukan - Sinopsis dan Part 1

15 Agustus 2021   05:38 Diperbarui: 29 Agustus 2021   16:47 575
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Anugerah, Bukan Kutukan (Sumber: Pixabay)

Sinopsis

Hidup serba kekurangan sebagai pegawai kecil di Bank Nusantara, Molly seperti mendapat durian runtuh ketika ia diberitahu bahwa ia mendapat warisan sebuah rumah mewah beserta isinya. Walau 'isi' yang dimaksud tentunya bukan seorang laki-laki yang bertubuh dan berwajah sempurna yang berdiri di hadapannya ketika pintu rumah itu dibuka oleh seseorang dari dalam.

Ari telah menempati rumah itu selama beberapa tahun ketika tiba-tiba datang seorang gadis yang mengklaim bahwa ia mewarisi rumah itu dari pamannya. Ia tidak menuduh Molly berbohong. Gadis itu memang berhak atas rumah tersebut. Masalahnya, ia pun tidak mungkin keluar dari sana.

Apa yang harus dilakukan Ari dan Molly? Mungkinkah mereka menemukan cara supaya masing-masing tetap mendapat hal yang mereka inginkan? Sementara itu, akankah Molly mengungkap rahasia mengapa Ari tidak berani meninggalkan rumah itu? Apakah benar kedatangan Molly di rumah itu mengundang bahaya buat Ari yang selama ini ia coba hindari? Lalu siapa itu Keluarga Septadibrata yang kelihatannya terlibat dengan mereka berdua?

Part 1

Molly memandang ke sekitar kamar kos-nya. Sudah tidak ada yang tertinggal. Alas tempat tidur berwarna biru bergambarkan Nemo dan ayahnya, itu saja yang masih tersisa beserta bantal dan guling. Di meja rias yang biasanya tertata rapi dengan bedak, sisir, dan botol parfum-nya, sekarang sudah bersih menyisakan cermin besar dan lampu meja milik ibu kos. 

Selama hampir lima tahun Molly tinggal di sini, jumlah bajunya bisa dihitung dengan jari tangan -- mungkin ditambah jari kaki. Baju baru merupakan barang mewah buatnya. Seorang teller junior di satu bank tidak menghasilkan banyak buatnya. Biaya kamar kos sudah menghabiskan  setengah dari gaji untuk sebulan, dan Molly masih harus membantu seorang sepupu yang terbelit hutang beberapa waktu lalu.

Apa yang terjadi tiga hari lalu -- surat panggilan ke sebuah kantor pengacara, pertemuan dengan salah satu perwakilan mereka, pembacaan surat wasiat, sampai kemudian pertemuan itu diakhiri dengan jabat tangan erat -- Molly masih seperti berada di awang-awang.

...berupa sebidang tanah dan sebuah rumah dua tingkat yang terletak di jalan...

"Surat wasiat siapa tadi?" Sang pengacara sudah menyebutkan sebuah nama di awal pertemuan mereka, Molly merasa pasti tentang itu. Ia hanya ingin mendengarnya sekali lagi. Ingin memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun