Mohon tunggu...
Shinta Harini
Shinta Harini Mohon Tunggu... Penulis - From outside looking in

Pengajar dan penulis materi pengajaran Bahasa Inggris di LIA. A published author under a pseudonym.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Lima Puluh Satu Alasan

25 Juli 2021   10:00 Diperbarui: 8 Agustus 2021   05:32 119 10 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Lima Puluh Satu Alasan
(Foto: Predra6 dari Pixabay) 

“Oh Tuhan,  aku rindu padanya.  Aku sangat rindu padanya!”

Dari balik telapak tangannya yang menutupi wajahnya erat-erat, terdengar sedu sedan. Tak ada gunanya, pikirnya pahit, penuh keputusasaan. Betapapun kerasnya ia memohon, Tuhan tetap tak akan berubah pendirian. Sebetulnya ia mengerti bahwa Tuhan sudah punya rencana mendetil untuk seluruh jagat raya. Tak akan ada perubahan hanya karena seorang malaikat kecil seperti dirinya didera rasa rindu yang sangat dan berharap bahwa orang yang dirindukannya segera ditarik ke surga untuk mengobati rindu itu. Apalagi ia tahu pasti bahwa hari ini menurut waktu Bumi adalah hari ulang tahun orang yang sangat ia cintai tersebut.

Terdengar tangis tertahan yang kemudian diikuti oleh isakan-isakan kecil dan helaan nafas ketika malaikat kecil itu mulai bisa menguasai dirinya. Dilepaskannya tangannya yang basah bersimbah air mata dari wajah mungilnya yang muram. Diletakkannya kedua belah tangannya di atas meja. Dilihatnya sekeliling, ia bahkan merasa jauh lebih kesepian dan menderita. Tuhan, bagaimanapun, telah menjawab permohonannya dan membuatnya berpikir mengapa ada orang yang harus tetap tinggal di dunia. Tapi ia tak hanya harus berpikir. Tuhan juga menyuruhnya menuliskan alasan-alasan di balik hal itu.  

“Mungkin kau tak bisa mengerti alasan-Ku yang sesungguhnya,” jelas Tuhan, membantunya mengerti keadaan. “Atau mungkin,  kau tak akan pernah tahu apa alasan-alasan itu karena semuanya adalah rahasia jagat raya. Tapi luangkanlah waktu untuk memikirkannya. Cobalah bayangkan apa yang sekiranya akan kaulakukan – seandainya kau ada di posisi-Ku.”

Malaikat kecil itu berdiri terpaku kebingungan dengan mata nanar. Lalu tiba-tiba ia menjatuhkan diri, berlutut dan membungkuk dalam-dalam.    

“Ampuni aku, Tuhan. Aku tak akan berani, Tuhanku. Tak mungkin aku akan berani membayangkan berada di posisi-Mu.”

Tapi Tuhan hanya menyunggingkan senyum kecil. Penuh pengertian.

“Tentu tidak. Tapi bagaimana lagi caranya Aku bisa membuatmu mengerti akan hal ini? Aku tahu kau sangat menyayangi ibumu. Aku tahu kau harus ‘terbang’ jauh dari sisinya dan meninggalkannya di saat kau masih sangat kecil...”  

"Tiga tahun," sela Hannah dalam bisik yang pilu.

“Ya, tentu aku ingat. Waktu itu kau baru tiga tahun,” balas Tuhan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x