Mohon tunggu...
Sheila Rebeca
Sheila Rebeca Mohon Tunggu... -

Journalism student

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Rama Pradja: Abdi Dalem Rangkap Guru Macapat

23 September 2017   23:05 Diperbarui: 24 September 2017   11:07 2502
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Rama Pradja di Sekolah Macapat | Sumber: Dokumentasi Pribadi

Meskipun macapat bukan konsumsi untuk anak-anak muda, tapi diharapkan generasi muda bisa tertarik dengan macapat. Baru kemudian muncul rasa tertarik untuk mempelajari, supaya nanti jika usianya sudah cukup dewasa, mereka sudah pandai dalam me-nembang.

"Sekarang yang tua-tua masih belum pinter. Harapannya kami bisa menarik generasi muda. Untuk itu sudah ngomong keberadaan ke dinas pendidikan, dengan harapan supaya guru-guru bisa senang dan belajar macapat. Supaya kalau sudah bisa, mengajarkan ke murid-muridnya. Pada umumnya guru pada belum bisa." harap Rama Pradja.

Sosok di balik sekolah macapat sekarang

Rama Pradja di Sekolah Macapat | Sumber: Dokumentasi Pribadi
Rama Pradja di Sekolah Macapat | Sumber: Dokumentasi Pribadi
Kanjeng Mas Tumenggung Pradja Suwarsono adalah seorang abdi dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sekaligus pengajar macapat di Pamulangan Sekar KHP. Kridha Mardawa. Di usianya yang tak lagi muda, Rama Pradja masih terus mengabdikan dirinya pada Kraton dan tentunya budaya Jawa. Dirinya merupakan alumni dari sekolah macapatpada tahun 1995.

Ditanya mengenai suka dan duka ketika mengajar, Rama Pradja mengatakan bahwa dirinya merasa senang karena macapat berkecimpung dalam kesenian yang notabene adalah tempat bersenang-senang. Selain itu, ia juga memiliki banyak teman dan bisa menambah relasi dengan orang-orang yang belum pernah dikenalnya. Namun juga ada duka ketika ia berperan sebagai pengajar macapat, seperti murid yang tidak kunjung bisa me-nembang atau harus menempuh proses yang cukup lama. Ada juga murid-murid yang drop out dari sekolah setelah datang dua atau tiga kali karena merasa bosan dan kesulitan belajar. Bahkan yang paling buat Rama Pradja sedih adalah ketika ada murid yang memutuskan untuk berhenti belajar karena tidak tahu untuk apa dirinya belajar macapat.

"Karena tidak mendapatkan income, ga kaya belajar dhalang, nyanyi, campursari, kalo macapat ga dapet uang. Merasa sedih karena tujuan utama bukan itu, tapi melestarikan budaya." keluh Rama Pradja.

Bukan sekedar abdi dalem Kraton

Rama Pradja di Depan Sekolah Macapat | Sumber: Dokumentasi Pribadi
Rama Pradja di Depan Sekolah Macapat | Sumber: Dokumentasi Pribadi
Baginya, menjadi seorang abdi dalem bukan semata-mata menjadi abdi atau pesuruhnya Sri Sultan. Tapi abdi budaya, seseorang yang bersedia, mau dan mampu mengembangkan dan melestarikan budaya. Tidak hanya macapat, wayang, ketoprak, campur sari tapi juga unggah-ungguh, sopan santun, tata krama, percakapan. Budaya perlu ditanamkan, lalu dipupuk dan dilestarikan, terutama untuk anak-anak muda sekarang.

Rama Pradja dalam Pertunjukan Macapat Kraton | Sumber: Dokumentasi Pribadi
Rama Pradja dalam Pertunjukan Macapat Kraton | Sumber: Dokumentasi Pribadi
Bagi kalian yang ingin belajar macapat bersama dengan Rama Pradja, langsung saja datang ke Pamulangan Sekar di hari Selasa dan Kamis pukul 4-6 sore. Selain itu, kalau kalian penasaran dengan kegiatan nembang Rama Pradja, bisa langsung datang ke pertunjukan macapat di Pagelaran Kraton pada hari Jumat pukul 9-12 siang.

---

Ditulis oleh Sheila Rebeca

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun