Mohon tunggu...
Setiyo Bardono
Setiyo Bardono Mohon Tunggu... Staf Kurang Ahli

SETIYO BARDONO, penulis kelahiran Purworejo bermukim di Depok, Jawa Barat. Staf kurang ahli di Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (MAPIPTEK). Antologi puisi tunggalnya berjudul Mengering Basah (Aruskata Pers, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (Pasar Malam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014).

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Puteri Kereta dan Pemuda Bermasker

17 September 2020   08:30 Diperbarui: 17 September 2020   08:35 60 7 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Puteri Kereta dan Pemuda Bermasker
Ilustrasi perempuan memakai masker (Kompas.com)

Suatu ketika di Kerajaan Kereta, hiduplah seorang wanita bernama Puteri Ayu Diah Keretawati yang cantik jelita mirip Maudy Ayunda. Banyak pemuda jatuh cinta pada Puteri Kereta. Beberapa pemuda bahkan berani mengutarakan cintanya.

Sang Puteri yang baik hati itu, tak tega menolak namun tak juga memberi jawaban. Ia dan seluruh penghuni kerajaan sedang sibuk mengatasi pandemi Covid-19 yang melanda kerajaan. Bahkan Puteri Kereta ditunjuk Sang Raja untuk jadi juru bicara gugus tugas penanganan Covid-19, jadi tak ada waktu untuk memikirkan cinta. Tak heran jika wajahnya sering nongol di televisi kerajaan maupun televisi swasta.
 
Akhirnya, kepada para pemuda yang menyatakan cinta, Sang Puteri memberi jawaban: "Senin pagi di awal bulan, datanglah ke peron satu Stasiun Kerajaan. Datanglah dengan memakai masker sebagai tanda cintamu."

Pada hari yang telah ditentukan, datanglah beberapa pemuda di peron satu Stasiun Kerajaan. Sang Puteri dengan memakai masker datang bersama seorang ajudan dan Paspamputer (Pasukan Pengaman Puteri Kerajaan). Ajudan pun memanggil satu persatu pemuda yang datang sesuai antrian yang telah mereka isi melalui aplikasi di smartphone.

Pemuda pertama datang memakai Masker N95. Puteri Kereta tersenyum dan berkata, "Masker N95 memang sangat baik untuk menangkal virus." Pemuda itu berbunga-bunga mendengar komentar Puteri Kereta.

"Tapi masker itu untuk tenaga medis, cinta tidak boleh egois," lanjut Puteri Kereta sambil menggelengkan kepala. Pemuda itu langsung patah hati karena ditolak cintanya.

Pemuda selanjutnya terlihat memakai memakai masker bedah. Puteri Kereta memberi komentar senada, "Masker bedah lebih pas untuk pasien dan tenaga medis. Kalau semua memakainya nanti hilang di pasaran dan harganya melonjak tak karuan. Demi cinta kamu tidak boleh mementingkan diri sendiri." Pemuda bermasker bedah pergi dengan luka cinta.

Pemuda datang memakai masker scuba. Sang pemuda langsung ciut nyalinya mendengar perkataan Puteri Kereta, "Untuk melindungi diri sendiri kamu mengandalkan masker selapis. Cintamu terlalu tipis."

Dua pemuda terakhir menghadap Puteri Kereta dengan masker kain tiga lapis. Puteri Kereta tersenyum dan menganggukkan kepala. "Kalian telah memilih masker yang tepat, segala sesuatu harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi." Kedua pemuda itu berbunga-bunga.

"Tapi tak mungkin aku memilih kalian berdua," kata Puteri Kereta. "Selain masker kain apa yang kalian bawa untuk menunjukkan cinta?"

Pemuda pertama menyodorkan bunga mawar tanda cinta. Puteri Kereta diam saja tak mengambilnya.

Pemuda kedua membuka menyodorkan sebuah bingkisan, "Selain membawa masker kain tiga lapis, saya mempersembahkan lapis talas Bogor, ada aneka warna dan rasanya lezat berlapis-lapis, seperti cinta saya pada Puteri Kereta."

Mata Puteri Kereta langsung berbinar-binar saat melihat lapis talas. Cinta pemuda itu langsung terbalas.

Depok, 17 September 2020

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x