Setiyo Bardono
Setiyo Bardono

SETIYO BARDONO, penulis kelahiran Purworejo bermukim di Depok, Jawa Barat. Staf kurang ahli di Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (MAPIPTEK). Antologi puisi tunggalnya berjudul Mengering Basah (Aruskata Pers, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (Pasar Malam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014).

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan highlight

Tampil Bugar dan Bebas Pegal Jalani Aktivitas sebagai Pekerja Komuter

12 Oktober 2017   10:23 Diperbarui: 12 Oktober 2017   10:53 684 2 0
Tampil Bugar dan Bebas Pegal Jalani Aktivitas sebagai Pekerja Komuter
Suasana di KRL Commuterline (foto Setiyo Bardono)

Sudah terlalu lama berdiri. Di kereta terlalu lama aku harus berdiri. Berdiri mencari tumpuan kaki. Pegalnya

Modifikasi lagu Terlalu Lama Sendiri yang dinyanyikan secara syahdu oleh Kunto Aji sepertinya mewakili keseharian pengguna Kereta Rel Listrik (KRL) di seputar ibukota. Pada jam-jam sibuk, penumpang harus berdiri di antara himpitan dan desakan manusia, seperti pepes ikan peda.

Kadang terpikir, saat naik KRL tubuh orang berubah selentur karet busa. Dalam kondisi penuh sesak, ada saja penumpang yang bisa memaksa dan merangsek masuk. Sementara penumpang di dalam kereta harus menjaga keseimbangan dan terhimpit sesak.

Ketika akan turun di stasiun tujuan penumpang juga harus berjuang menyibak sesak penumpang. Jurus jalan miring seperti kepiting menjadi andalan. Begitu turun, periksa kembali barang bawaan Anda, jangan sampai tertinggal atau kehilangan. Termasuk kaki barangkali tertukar.

Suasana naik turun penumpang KRL di Stasiun Manggarai (Foto Rizki Ramadhan/Group FB KRLMania)
Suasana naik turun penumpang KRL di Stasiun Manggarai (Foto Rizki Ramadhan/Group FB KRLMania)

Dalam rutinitas seperti itu, bagaimana penumpang KRL menjaga kebugaran? Mau olahraga waktu banyak tersita di perjalanan. Pergi pagi pulang malam. Bahkan ada yang pergi kerja ketika anak belum bangun, pulang saat anak sudah tidur.

Tak hanya berjuang di kereta. Para pekerja komuter atau penglaju juga harus berhadapan dengan kemacetan jalan raya. Sementara sampai di tempat kerja, banyak pekerja yang aktivitasnya lebih banyak duduk di belakang meja.

Nah, agar tulang sendi tak kaku-kaku atau pegal, penglaju bisa berolah raga sambil berangkat atau pulang kerja. Salah satunya dengan naik turun tangga stasiun atau kantor.

Aduh! Mendengar kata naik turun tangga saja sudah terbayang lelahnya. Apalagi di samping anak tangga ada eskalator atau lift yang menggoda.

Anak tangga dan eskalator di Stasiun Gondangdia. (Foto Setiyo Bardono)
Anak tangga dan eskalator di Stasiun Gondangdia. (Foto Setiyo Bardono)

Memang niat untuk berolahraga sembari menuju atau pulang dari tempat kerja tidak mudah. Berbagai hal menggoda langkah, seperti eskalator/lift, sapaan tukang ojek saat turun kereta: "Ojek Bos!", murahnya transportasi online, dan lain-lain. Kemajuan teknologi membuat segalanya mudah, sehingga makin lama orang lebih banyak diam di tempat atau istilah gaulnya mager, sehingga otot dan sendi kaku-kaku.

Padahal, menurut beberapa referensi, naik turun tangga memberi banyak manfaat dibanding berolahraga di pusat kebugaran. Gerakan ini dinilai lebih efektif menurunkan berat badan dan melatih pernapasan.

Naik turun tangga juga membuat jantung lebih sehat karena mampu membakar kalori. Hasilnya jantung lebih sehat karena terlatih dan tak mudah lelah saat beraktivitas. Gerakan naik turun tangga berguna untuk mengurangi pegal dan nyeri sendi. Terutama bagi pekerja kantoran yang jarang bergerak karena seharian duduk di depan komputer.

Tangga menuju Stasiun Cawang. (Foto Setiyo Bardono)
Tangga menuju Stasiun Cawang. (Foto Setiyo Bardono)

Naik turun tangga secara rutin membuat otot kaki akan lebih kuat dan mencegah osteoporosis. Efek yang menyenangkan, lemak pada bagian pinggul, perut, paha pun bisa menyusut. Sebab naik turun tangga dapat membakar kalori dua kali lipat dibandingkan berenang. Lebih efektif lagi jika dikombinasikan dengan lari, bersepeda, dan jalan kaki. Tubuh pun jadi langsing deh.

Jadi tak perlu repot-repot panggil Jin Tomang untuk mengajukan satu permintaan, "Pengin langsing Jin!"

Suasana saat penumpang naik turun tangga di Stasiun Tanah Abang (Foto Setiyo Bardono)
Suasana saat penumpang naik turun tangga di Stasiun Tanah Abang (Foto Setiyo Bardono)

Hidup aktif atau banyak bergerak merupakan syarat yang harus dimiliki bila kita ingin bugar dan terhindar dari penyakit. Selain naik turun tangga, hal itu dapat dicapai dengan berjalan kaki minimal 10.000 langkah tiap hari. Bahkan studi terbaru menyebutkan, jalan kaki 10.000 langkah masih kurang. Kita disarankan berjalan 5.000 langkah lebih banyak lagi.

Penulis terbiasa jalan kaki dari stasiun Gondangdia ke tempat kerja di bilangan jalan MH Thamrin dengan jarak sekitar 1 km. Awalnya memang cukup melelahkan, tapi lama-lama terbiasa.

Sepuluh ribu langkah tak lama, hanya sekejap saja. Pasti kita kan terbiasa pula. (Modifikasi lagu Tinggi Gunung Seribu Janji yang dipopulerkan Bob Tutupoli)

Hasil studi Stanford University menyatakan, orang yang rajin jalan kaki memiliki otak lebih kreatif ketimbang mereka yang tergantung pada alat transportasi. Jalan kaki ke kantor, selain menghemat uang juga bisa menjadi olahraga pagi yang murah meriah.

Manfaat jalan kaki berdasarkan laporan American Journal of Preventive Medicine pada 2013 membuat kita terhindar dari serangan diabetes. Tak hanya itu, jalan kaki terbukti menyehatkan jantung, sehingga tekanan darah lebih bagus.

Yang perlu diperhatikan saat menjalani aktivitas seperti naik turun tangga atau jalan kaki adalah jangan sambil bermain telepon genggam. Jangan sampai niat ingin sehat malah terpeleset anak tangga atau terperosok lubang trotoar.

Di dalam kereta, kita juga bisa melakukan gerakan-gerakan ringan agar badan tidak pegal misalnya peregangan jemari tangan dan kaki. Menggerakkan kepala dan leher ke kanan, kiri, lalu memutarnya juga bisa melancarkan aliran darah. Sebelum melakukan sesuatu, lihat situasi sekitar agar tidak menganggu penumpang lain. Tentu saja kita jangan melakukan gerakan heboh seperti kayang, push up, salto, atau senam aerobik.

Selain itu, Jangan lupa sediakan selalu obat-obatan di dalam tas seperti balsam atau minyak angin. Jangan takut dibilang seperti nenek-nenek, karena sekarang obat-obatan juga "move on". Contohnya, Geliga Krim yang terampil trendi sesuai untuk generasi masa kini.

Menunggu KRL di Stasiun Depok Baru. (Foto Setiyo Bardono)
Menunggu KRL di Stasiun Depok Baru. (Foto Setiyo Bardono)

Geliga Krim membantu meredakan sakit dan nyeri punggung, pundak, nyeri pada persendian, keseleo, kram dan masalah otot lainnya. Geliga Krim mudah digunakan, tinggal mengoleskan ke bagian otot yang sakit dan nyeri. Geliga Krim lekas menyerap dan cepat terasa khasiatnya. Geliga Krim tidak lengket di kulit dan tidak menimbulkan noda pada pakaian kerja.

Agar lebih bugar dan bebas pegal, aktivitas rutin di hari kerja harus disertai dengan olah raga di akhir pekan. Jangan bermalas-malasan atau larut dalam tumpukan bantal dan pelukan guling. Selain olah raga, aktivitas rutin juga harus diimbangi dengan pola hidup sehat, pola makan dengan gizi seimbang, dan jauhi narkoba.

Dengan menjalani pola hidup sehat, kita bisa tampil bugar dan bebas pegal saat menjalani aktivitas sebagai pekerja komuter

Sudah terlalu lama berdiri. Di kereta terlalu lama aku harus berdiri. Berdiri tak takut pegal lagi. Ada Geliga...

Depok, 12 Oktober 2017


Sumber bacaan :

#29CaraSehat: Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari: Cegah Sakit Jantung Hingga Bikin Langsing

Mengapa Kita Harus Jalan Kaki Lebih dari 10.000 Langkah Tiap Hari