Mohon tunggu...
Septian Murival
Septian Murival Mohon Tunggu... Lainnya - Pekerja

Mendengar musik, membaca. Jika alam mengijinkan diakhiri dengan belajar menulis.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Keluarga Sastra

9 Januari 2024   19:10 Diperbarui: 9 Januari 2024   19:26 55
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Terlihat realita bunting dengan wajah lusuh dan pucat

Menahan sakit mengelus perutnya

Sepasang pemberian tuhan dalam rahimnya

Malam itu pukul dua belas tepat

Lahirlah sepasang puisi yang sehat walafiat

Berat masing masing bersih tujuh puluh gram

Kini tak terasa bertahun-tahun tahun lamanya

Puisi-puisi telah menjadi dewasa

Keduanya pun nampak jelas berbeda

Puisi yang tertua melulu soal cinta serta pernak-perniknya

Sedangkan adiknya lebih suka politik dan sosial pula

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun