Analisis

Semiotika Komunikasi Visual, Pengkajian Kampanye Cak Imin Cawapres 2019

16 Mei 2018   20:42 Diperbarui: 16 Mei 2018   20:48 178 0 0
Semiotika Komunikasi Visual, Pengkajian Kampanye Cak Imin Cawapres 2019
Foto: Tribunnews.com

Pendahuluan

Pada tahun 2019, Indonesia akan menyelenggarakan Pemilihan Presiden. Partai-partai politik mulai bermunculan. Masing-masing orang pilihan dari Partai Politik maju untuk mencalonkan dirinya sebagai Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden. Mendekati waktu-waktu tersebut, poster-poster yang berbau politik mulai menjamur dimana-mana.

Billboard iklan Cak Imin sebagai Calon Wakil Presiden 2019 yang bertempat di Kota Palopo, Sulawesi Selatan akan dianalisis menggunakan pendekatan semiotika. Semiotika bertujuan untuk mengetahui makna-makna yang terkandung dalam sebuah tanda atau menafsirkan makna tersebut sehingga diketahui bagaimana komunikator mengkonstruksi pesan. Jadi, dengan menganalisis billboard iklan Cak Imin ini, pembaca akan lebih tahu tentang makna yang tersirat dalam iklan tersebut.

Layout

Tata susunan dalam layout banner Cak Imin menggunakan prisip-prinsip seni dan desain yaitu ruang kosong (white space), kejelasan (clarity), kesederhanaan (simplicity), dan emphasis (point of interest). 

Ruang kosong (white space) terlihat pada background putih banner Cak Imin ,yang menimbulkan sebuah ruang bernafas pada objek agar terlihat jelas dan dominan. Kejelasan (clarity) terlihat dengan objek Cak Imin yang cukup dominan pada banner, memperlihatkan kejelasan sehingga tampak lebih sederhana dan mudah dimengerti. 

Kesederhanaan (simplicity) terlihat dari tidak tumpah ruahnya objek yang terdapat pada banner dan jumlahnya juga tidak berlebihan, sehingga audience bisa memahami secara cepat apa pesan dari banner tersebut. Terakhir adalah emphasis (point of interest). Objek yang menonjol pada banner tersebut adalah ikon dari "Cak Imin" yang memiliki bentuk lingkaran dengan warna orange. Tulisan "Cak Imin" dalam lingkaran hendak menyimbolkan rupa Cak Imin di sampingnya.

Pesan Verbal

Pada pesan verbal pertama, Cak Imin menggunakan hashtag "#CAWAPRES2019". Namun, walaupun nama panjang Cak Imin terlihat lebih menonjol, pesan utama dalam iklan ini adalah bahwa Cak Imin hendak mengajukan dirinya sebagai cawapres. Secara visual, nama panjang Cak Imin lebih menonjol, tetapi maknanya cenderung lebih kuat pada hashtag di bawahnhya. Maka, tulisan hashtag di bawahnya walaupun menggunakan tulisan lebih tipis dapat disebut sebagai headline.

Penggunaan simbol pagar yang berfungsi sebagai hashtag pada subheadline ini bermaksud agar orang-orang yang mengikuti kata kunci #CAWAPRES2019 pada sosial media seperti Instagram, Twitter, dll, dapat mengetahui perkembangan kampanye Cak Imin dalam usahanya menjadi calon wakil presiden 2019. Selain itu, hashtag disini bertujuan juga untuk memperlihatkan bahwa Cak Imin masih muda dan trendi, yang aktif di sosial media dan tidak kolot.

Penggunaan warna yang berbeda antara simbol pagar, cawapres, dan 2019 bermaksud sebagai "spasi". Hashtag ini tidak memiliki spasi karena penggunaannya dalam sosial media memang tidak mengenal spasi. Oleh sebab itu warna tiap bagian tulisannya ini dibedakan agar pembaca tidak bingung dengan kata-kata yang terdapat pada subheadline ini. 

Warna pemisahnya adalah warna hijau dan hitam, dengan komposisi warna hijau terletak pada "pagar" (#), dan "2019", dan warna hitam pada "cawapres". Selain untuk mudah dibaca dan penyelarasan warna dengan background di bagian bawahnya, pemisahan warna juga hendak menekankan kata cawapres, yang merupakan bentuk ambisinya. 

Tanda tersebut digunakan untuk menyebarkan informasi secara luas. Penulis memaknai tanda itu yang digunakan oleh cak imin untuk mengutarakan maksud dan keinginan Cak Imin sebagai calon wakil presiden di 2019 mendatang.

Pada pesan verbal kedua, Cak Imin menggunkan nama panjangnya dan berfungsi sebagai subheadline, dengan menggunakan jenis font sans serif. Hal ini diperkuat dengan efek Bold yang bertujuan untuk memperjelasnya agar dapat dengan mudah dilihat dan dipahami oleh banyak orang. Nama panjang Cak Imin menunjukkan kualitas orangnya dengan menampilkan gelar-gelar akademisnya, yang bertujuan agar masyarakat mengetahui latar belakang Cak Imin. 

Hal ini ditunjukkan dengan nama beserta gelar Cak Imin yang diperkuat dengan embel-embel Honoris Causa, Doktor, dan Magister. Selain itu, terdapat pula Haji yang ingin menampilkan bahwa Ia adalah seorang yang religius, yang harapannya dapat menjaring suara bagi dirinya.

Baik headline maupun subheadline, kedua jenis teks tersebut menggunakan huruf kapital. Bila diaplikasikan pada tulisan yang panjang huruf kapital akan melelahkan mata, tetapi penggunaannya dalam desain iklan ini bertujuan agar tulisan dapat dibaca dengan mudah, apalagi dari kejauhan. Selain itu, Cak Imin seakan ingin menunjukkan dirinya dengan sifat yang tegas, walaupun pada kenyataannya hal ini hanya merupakan pembenaran dan pencitraan untuk menutupi sikap ketidakkonsistenan dirinya.

Pada pesan verbal ketiga, text 'Gue Banget...' menggunakan huruf jenis sans serif yang dicetak tebal (bold) dan miring (italic). Penulisan yang menggunakan cetak miring (italic) bisa dimaknai sebagai keraguan. Pada text 'Gue Banget...', "Lo" dan "Gue" merupakan kata yang sudah sangat lama digunakan oleh masyarakat di Indonesia khususnya di Jakarta. 

Kata tersebut sangat populer digunakan oleh masyarakat sejak tahun 70-an sampai saat ini. Kata "Lo" yang berarti kamu dan "Gue" yang artinya saya atau aku, sering digunakan karena terkesan simple dan santai untuk orang sebaya. Bahasa Indonesia dengan ragam Betawi itulah yang dianggap modern.

Hanya saja, kata "Lo" dan "Gue" ini akan sangat tidak sopan digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua dari kita. Mungkin, pesan ini ingin disampaikan kepada anak-anak milenial yang pada umumnya tidak peduli terhadap politik. Diakhir teks 'Gue Banget...' terdapat tiga titik. Penulis memaknai adanya kalimat yang belum terselesaikan, seperti adanya kelanjutan yang ingin disampaikan.

Kemungkinan penulis memaknai kelanjutan tersebut adalah keinginan dari ambisi Cak Imin itu sendiri sebagai calon wakil presiden 2019. Teks 'Gue Banget...' berwarna putih, memiliki makna bersih, suci, ringan, dan terang. 

Menggunakan perpaduan antara uppercase pada huruf G dan B pada tagline (Gue Banget...). Penggunaan uppercase ini dimaknai penulis sebagai penekanan yang ingin diutarakan oleh cak imin untuk menjadi seorang wakil presiden adalah cak imin sendiri.

Pada pesan verbal keempat, text 'Cak Imin' menggunakan font Serif, terlihat dari bentuk huruf yang memiliki kait dan adanya kontras antara tebal dan tipis garis font. Font tersebut menggunakan tambahan efek 3D. 

Tulisan sengaja sedikit dimiringkan, dalam terminologi tipografi digunakan untuk memberikan penekanan. Penekanan yang dimaksud adalah untuk menonjolkan text tersebut sebagai pusat perhatian. Text diletakan didalam sebuah lingkaran, lingkaran dimaknai penulis memiliki kesan dinamis, sempurna, dimana ia tidak memiliki awalan juga akhiran. Lingkaran juga termasuk simbol yang akan mengendalikan pikiran serta perasaan orang lain. Lingkaran tersebut berwarna oranye, kombinasi dari warna merah dan kuning. 

Warna oranye dimaknai penulis memiliki kesan hangat, bersemangat, optimis, percaya diri dan kemampuan bersosialisasi. Dan lingkaran tersebut memiliki outline, dimana outline dimaknai penulis untuk memperkuat makna teks 'Cak Imin'. Outline dan tulisan "Cak Imin" berwarna putih, dimana putih dimaknai penulis memiliki kesan kebebasan dan keterbukaan.

Pesan Visual

Pada pesan visual pertama, ikon yang digunakan dalam banner ini merupakan ikon dari tiruan langsung atau foto diri dari Cak Imin. Seperti halnya desain, sebuah foto dapat menjadi kekuatan dalam menarik perhatian masyarakat, apalagi yang berkaitan dengan politik. Sebuah foto memiliki kekuatan tersendiri dalam membangun citra seseorang. Foto dalam desain billboard adalah foto cawapres Dr. (HC) H. Muhaimin Iskandar, M.Si. Pose Cak Imin menghadap kamera dengan sudut kemiringan wajah kurang lebih 25 derajat dari arah kiri.

Cak Imin menunjukan ekspresi senyum yang terlihat tidak ikhlas terlihat dari mata agak sipit dan dahi yang mengkrenyit, senyum yang tergolong ikhlas bisa terlihat dari mata yang terbelalak. Sehingga dimaknai penulis bahwa senyum Cak Imin memiliki kesan terjepit akan situasi yang dia hadapi terkait pencalonan dirinya sebagai Cawapres tahun 2019. 

Tubuh Cak Imin agak condong ke kiri dari perspektif penonton. Posisi Cak Imin seperti duduk dilihat dari bahu yang terangkat, dengan pundak kanan yang condong menunjuk ke arah kanan atas sejajar dengan tulisan #cawapres2019.

Rambut Cak Imin yang memiliki potongan jaman dulu dengan kacamata yang sama jaman dulunya terlihat kontras dengan tulisan 'gue banget...' yang mempresentasikan kesan anak muda. Atribut yang dikenakan seperti kemeja putih tanpa mengenakan dasi yang dilapisi dengan jas berwarna gelap. Hal ini dimaknai penulis memberikan kesan Cak Imin terlihat santai dari kerah yang dibuka dan tanpa dasi. 

Namun, masih terlihat rapi karena dilengkapi adanya jas yang melapisi kemeja sehingga kontras dengan tulisan 'gue banget...' yang mengesankan serba santai dan luwes.

Warna foto hitam putih pada desain tersebut lagi-lagi mengesankan tidak dinamis karena kurangnya warna pada foto dan terkesan tua. Garis bayangan dibagian kiri Cak Imin nampak dari penonton dengan warna abu-abu, dimaknai penulis mengesankan latar belakang Cak Imin yang masih bingung dalam mengambil perannya sebagai wapres Indonesia.


Keterangan : Garis Gestalt pada iklan kampanye Cak Imin

Segitiga gestalt adalah istilah yang digunakan dalam psikologi persepsi yang populer pada awal abad ke-20. Tokoh yang mencetuskan teori gestalt menjelaskan bahwa otak manusia cenderung menghubungkan atau mengelompokan apa yang dilihat menjadi satu kesatuan yang utuh.

Mengambil pengertian tersebut desain billboard kampanye Cak Imin dapat ditarik garis garis gestalt dari bahu kiri dilihat dari arah penonton menuju kerah baju kemudian kea rah tulisan #cawapres2019. Hal yang kurang mendukung hanya tatapan Cak Imin yang menatap kearah kiri bukannya menatap kalimat #cawapres2019 sehingga menunjukkan kurang konsistensinya dalam perannya dalam penyalonan cawapres tahun 2019.

Penempatan dan Pemilihan

Papan iklan reklame atau yang bisa disebut juga Billboard merupakan salah satu media periklanan yang mempromosikan iklan dibidang luar dalam ukuran besar. Peletakkan Billboard berada ditempat yang tinggi dan cenderung dilewati oleh banyak orang. Contohnya adalah di pinggiran jalan raya, sebelum atau setelah lampu merah, bahkan disebelah restoran, dll.

Pemilihan media papan reklame oleh Cak Imin memberikan beberapa keuntungan berdasarkan analisis SWOT, dengan gelar yang diberikan Cak Imin menawarkan CAWAPRES 2019 dengan kualitas memadai, sehingga menampilkan gelar dokter bahkan HC (Honoris Causa). Hanya saja cara Cak Imin mempromosikan dirinya sebagai calon Wakil Presiden sangatlah minim, kegiatan promosi melalui papan iklan reklame dengan penataan desain yang minimalis kurang mampu menarik target audience untuk memilihnya. 

Semakin maraknya pemilihan umum maka akan semakin marak periklanan melalui papan iklan reklame politik, Cak Imin memberikan bentuk papan iklan reklame yang berbeda dari yang lain dimana ia tidak memberikan kelebihan dirinya melalui verbal dan hanya mencantumkan foto serta nama, hal ini membuat target audience untuk mau melihat atau setidaknya membaca papan iklan reklame miliknya. Sifat penempatan papan iklan reklame yang berada disepanjang jalan raya cukup mengganggu pemandangan kota yang tadinya asri.

Makna

Perlunya kebutuhan informasi masyarakat dalam komunikasi politik mengakibatkan para calon legislatif maupun eksekutif termasuk cawapres, memerlukan berbagai media untuk mengenalkan dirinya. 

Dampakya, kampanye-kampanye menjadi sangat marak pada musim pemilu. Mereka memerlukan media agar masyarakat memahami visi dan misi, maupun hanya ingin mengenalnya secara sekilas. Sisi negatifnya adalah munculnya berbagai sampah visual di berbagai tempat yang membuat penampakan kota menjadi buruk. "Komunikasi politik menelaah dampak pemerintahan terhadap media massa atau dampak media terhadap perilaku pejabat pemerintah dan saluran formal/informal dalam menjalankan pemerintahan". (Rivers.et.al, dalam Charles R. Wright, 1975 : 81-85)

Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap desain billboard kampanye Cak Imin dengan menggunakan landasan teori semiotika milik Roland Barthes, ditemukan makna tanda yang belum didapatkan sebelumnya dimana terdiri dari pesan verbal dan visual. 

Ditemukannya banyak makna yaitu kurang konsistennya Cak Imin dalam pencalonan dirinya sebagai cawapres Indonesia tahun 2019. Cak Imin mencoba menampilkan kesan yang bersifat kekinian dengan menggunakan kalimat 'Gue Banget...' , sehingga dapat menarik hati para calon pemilihnya terutama anak-anak muda yang akan menjadi peserta pemilu tahun 2019.

Namun hal ini ditepis dengan tampilan foto yang kurang didesain sedemikian rupa agar memberikan kesan yang diinginkan supaya sesuai dengan kata tersebut. Seperti tampilan Cak Imin yang rapi atau formal tentunya kontras dengan kalimat tersebut. 

Kurang konsisten juga didapatkan dari analisis garis gestalt yang ditarik dari titik bahu kiri Cak Imin menuju kerah baju kemudian sampai pada tulisan #cawapres2019. Tatapan mata Cak Imin melihat arah kiri bukannya kearah kanan menuju tulisan #cawapres2019. Hal ini yang memperlihatkan ketidakkonsistenan Cak Imin.

Daftar Pustaka

Buku

Budiman, Kris. 2013. Semiotika Visual : Konsep, Isu, dan Problem Ikonisitas. Yogyakarta : Jalasutra.

Sanyoto, Sadjiman Ebdi. 2005. Dasar-Dasar Tata Rupa dan Desain (Nirmana). Yogyakarta : Arti Bumi Intaran.

Sasonto, Eko Harry. 2013. Komunikasi Politik Pesan Kepemimpinan dan Khalayak. Jakarta :Penerbit Mitra Wacana Media.

Tinarbuko, Sumbo. 2017. Membaca Tanda dan Makna Desain Komunikasi Visual. Yogyakarta : Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Internet

https://riarizkymaharani30.wordpress.com/2016/02/15/artikel-font-serif-dan-sans-serif/ diakses pada 8 Mei 2018 pukul 14:03

https://pendidikanlagi.blogspot.co.id/2016/11/pengertian-huruf-miring-penulisan-dan-contoh-huruf-miring.html?m=1 diakses pada 8 Mei 2018 pukul 14:10

https://erbinabaroes.wordpress.com/2013/06/24/arti-warna-dalam-ilmu-psikologi-lalu-apa-warna-kepribadianmu/amp/ diakses pada 8 Mei 2018 pukul 14:20

pembuatanlogo.com/filosofi-lingkaran-pada-logo-dan-maknanya/ diakses pada 8 Mei 2018 pukul 14:18

komunikasi-info.blogspot.co.id/2012/05/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html?m=1 diakses pada 8 Mei 2018 pukul 14: 32

https://kbbi.web.id/cak-5 diakses pada 8 Mei 2018 pukul 14: 34

https://aditpato7.wordpress.com/2010/12/07/outline/ diakses pada 8 Mei 2018 pukul 14: 44

https://kamusonline49.blogspot.co.id/2011/01/headline.html?m=1 diakses pada 14 Mei 2018 pukul 11:49

https://rajaagam.wordpress.com/2008/12/24/cak-dan-ning-surabaya/ diakses pada 15 mei 2018 pukul 22:13

https://www.cakimin.com/rekam-jejak/ diakses pada 15 Mei 2018 pukul 22:39

https://inet.detik.com/fotostop-tips-dan-trik/d-3212003/merangkai-komposisi-foto-dengan-segitiga-gestalt diakses pada 16 Mei 2018 pukul 20:25

Kelompok Penulis

Kelompok Astral Visual

Noficca Aura G. P. / 1610179124 / NR

Bintan Nurhadi / 1610181124 / NR

Roymondhus Rosetha / 1610192124 / NR

Agung Prabowo / 1610194124 / NR

Widya Ayu Ria Latifa / 1610199124 / NR

Gustami Wahid F. / 1610202124 / NR

Aditya Mahatma / 1610205124 / NR

Prawoto / 1610207124 / NR

Aries Rezky / 1610209124 / NR

Alya Zahra / 1610213124 / NR


Program Studi Desain Komunikasi Visual

Jurusan Desain Fakultas Seni Rupa

Institut Seni Indonesia Yogyakarta