Mohon tunggu...
Sendy Ahmad Ghazali
Sendy Ahmad Ghazali Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Sosiologi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Saya punya obsesi untuk menguasai tiga disiplin ilmu sekaligus, yaitu Fisika, Linguistik, dan Sosiologi. Mengenai kapan saya akan menguasai semuanya, mungkin baru akan terjadi ketika saya tua nanti. Tak masalah, hidup memang sebuah pembelajaran tiada henti.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud Pilihan

Stratifikasi Berdasarkan Ras dan Etnisitas

7 November 2022   00:43 Diperbarui: 7 November 2022   00:44 337
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

            Dalam kehidupan sosial, kita pasti mengenal yang namanya startifikasi, baik secara sadar maupun tidak sadar. Orang yang secara sadar melihat stratifikasi, akan melihat posisi orang-orang di masyarakat seperti sebuah piramid; berlapis-lapis dan bertingkat-tingkat secara vertikal. Adapun orang-orang yang melihat stratifikasi secara tidak sadar adalah orang-orang awam, mereka mungkin tidak bisa melihat piramid imajiner itu, tetapi mereka tetap bisa merasakan bahwa orang dengan kekayaan berlebih bisa dengan mudah mendapatkan penghormatan dari orang lain, meski mungkin secara jabatan, posisinya tidaklah begitu prestisius.

            Stratifikasi, apabila didalami lebih jauh, ternyata bisa dilatarbelakangi oleh berbagai macam faktor. Mungkin bagi orang awam, faktor yang paling mudah disadari dan dilihat dari startifikasi adalah perihal kekayaan, jabatan, dan kekuasaan. Namun, sosiologi sebagai ilmu yang mengkaji masyarakat secara mendalam dapat melihat fenomena ini lebih jauh; sosiologi melihat bahwa perbedaan ras dan etnis juga bisa menjadi faktor penting dari munculnya stratifikasi sosial.

            Dalam esai ini, saya sebagai penulis akan membatasi ruang lingkup pembahasan di wilayah Amerika Serikat saja. Alasannya sederhana, karena AS adalah negara yang stratifikasi sosialnya paling menonjol, paling banyak dibahas, dan paling banyak meninggalkan informasi berupa literatur. Kebetulan, stratifikasi sosial di AS terkenal karena kategorisasinya yang berdasarkan ras dan juga etnisitas; sesuai dengan tema yang saya bawakan.

            Jadi, sebenarnya seperti apa stratifikasi sosial di Amerika Serikat apabila dilihat dari kategorisasi ras dan etnis? Amerika Serikat terkenal sejak lama karena menempatkan ras kulit putih, utamanya bangsa Germanik di posisi paling atas. Orang-orang berkulit putih dari bangsa Germanik memiliki kekuatan berlebih secara politis, dan diperlakukan secara istimewa dibanding masyarakat dari kategori ras dan etnis lainnya. Di Amerika Serikat, telah sejak lama hidup bangsa-bangsa lain, seperti bangsa Hispanik, Asia, orang-orang Pasifik, dan yang paling menonjol yaitu orang-orang Afrika-Amerika. Tak lupa pula di sana ada orang-orang asli Amerika, yaitu bangsa Indian. Namun, kontrasnya stratifikasi di sana dapat dilihat apabila kita membandingkan cukup dua kategori ras dan etnis saja, yaitu kulit hitam dan kulit putih.

Sumber Foto: Ira Rosenberg
Sumber Foto: Ira Rosenberg

MUHAMMAD ALI DAN MEDALI EMAS

            Di tahun 1960, hanya beberapa hari setelah mendapatkan medali emas di Olimpiade Roma, Muhammad Ali berjalan ke tengah kota. Dengan bangga ia masuk ke sebuah restoran, meminta dilayani bak seorang pahlawan; sebab ia memang seorang pahlawan. Namun, apa yang terjadi? Petugas di restoran tersebut menolak untuk melayani Ali, dengan alasan yang sangat sederhana; karena ia berkulit hitam.[1]

            Diskriminasi terhadap warga kulit hitam di AS, dan bahkan di hampir semua negara di planet Bumi, membuktikan adanya stratifikasi sosial yang menempatkan masyarakat kulit putih di bagian puncak; memiliki hak untuk menikmati segala macam keistimewaan dalam kehidupan sosial. Di lain pihak, warga kulit hitam menempati bagian paling bawah, sulit bagi mereka untuk meraih kehidupan yang mewah, bahkan untuk mendapatkan pendidikan saja bagi mereka begitu susah.

            Sosiologi melihat fenomena ini terjadi tidak semata-mata karena masalah jumlah, tapi ada faktor lain yang juga ikut mendorongnya; yaitu kekuasaan. Bukti yang bisa kita lihat ada di negara-negara di Afrika. Saat masa imperialisme masih berlangsung, orang-orang Eropa tidaklah datang dalam jumlah yang masif. Dibanding dengan penduduk asli Afrika, tentu jumlah para pendatang dari Eropa sangatlah sedikit. Namun, mereka memiliki kekuasaan berupa status sebagai penguasa baru, yang mereka raih melalui peperangan (mereka memiliki kekuatan militer yang jauh lebih besar ketimbang penduduk asli Afrika). Dengan berbagai macam dinamika yang terjadi selama ratusan tahun, negara Amerika Serikat kemudian terbentuk dengan penduduknya yang multietnis. Bangsa kulit putih yang datang sebagai penguasa kemudian mendapatkan warisan berupa kekuasaan di pemerintahan. Sementara itu, bangsa kulit hitam yang hadir karena perbudakan selama berabad-abad harus mewarisi status "budak"-nya bahkan setelah negara Amerika yang "menyetarakan" penduduknya lahir.

            Bukti sahih dari adanya stratifikasi tersebut, yang menempatkan masyarakat kulit putih di bagian atas dan masyarakat kulit hitam di bagian paling bawah, dapat kita lihat dari kisah hidup Muhammad Ali. Status 'pahlawan' yang disandangnya sejak menyumbangkan medali emas di Olimiade Roma tidak berarti apa-apa; ia bahkan tidak dilayani ketika memesan makanan di restoran tengah kota.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun