Saut Donatus
Saut Donatus lainnya

Aku bukan siapa-siapa! Dan tak ingin menjadi seperti siapa-siapa. Parjalpis, Siantarcity

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Belajar Ikhlas dari Tukang Becak

14 Maret 2018   09:48 Diperbarui: 14 Maret 2018   15:49 308 0 0
Belajar Ikhlas dari Tukang Becak
Becak Jogja - Foto : Kompas.com

Pagi itu saya dan anakku Rendovi buru-buru pergi ke Jl. Malioboro Jogja untuk membeli buah tangan berupa hiasan dinding titipan istri tercinta. Soalnya siang hari kami harus sudah "check-out" dari hotel dan kembali ke Jakarta. Tiba di Pasar Beringharjo saya disamperin pria paruh baya dan menyapa kami. Dengan ramah bapak itu menawarkan jasa becaknya untuk mengantar kemana saja cukup hanya membayar tarif Rp 5.000 saja. Saya tidak menjawab, sebagai pendatang saya sedikit was-was kemungkinan adanya 'jebakan batman' yang bisa merugikan' diri sendiri. Saya tetap berusaha untuk bersikap ramah dengan tersenyum membalas sapaan bapak itu sambil berlalu.

Baru beberapa langkah saya baru menyadari bahwa sebenarnya saya sendiri tidak tahu harus kemana mencari toko hiasan dinding. Maka saya kembali ke bapak tadi untuk bertanya.

"Mas, kalau cari toko yang jual hiasan lukisan batik dinding di sini dimana ya?"

"Kalau di Malioboro banyakan jual pakaian batik pak, kalau bapak mau di Taman Sari ada galeri yang jual lukisan batik. Kalau bapak mau, saya antar ke sana cuma Rp 5.000, nanti 'tak tungguin balik lagi ke sini."

"Beneran pak, lima ribu!"

"Inggih pak!!

Sebenarnya yang namanya Taman Sari itu letaknya dimana, saya tidak tahu. Ini juga baru dengar. Namun melihat keramahan dan penjelasan bapak itu, saya bisa diyakinkan. Setelah 'deal' saya dan anak naik becaknya. Lima ribu menurut saya sudah cukup murah dibanding tarif becak dari hotel ke Jl. Malioboro tadi kami dikenai Rp 20.000 padahal jarak hotel dan Jl. Malioboro jaraknya cukup dekat.

Menikmati suasana kota Jogja dari atas becak
Menikmati suasana kota Jogja dari atas becak

Sampai di tujuan saya masuk ke galeri sederhana. Si bapak menunggu di luar. Agak lama saya mencari lukisan batik yang cocok. Setelah menemukan dan membeli kami kembali naik becak. Sepanjang jalan si bapak banyak bercerita tentang spot wisata kota. Tak lupa merekomendasikan toko yang kami lalui untuk disinggahi membeli oleh-oleh. Si bapak selalu sabar menunggu selama saya berbelanja.

Karena merasa oleh-olehnya sudah cukup, maka saya batalkan untuk kembali ke Jl. Malioboro. Saya minta si bapak untuk mengantarkan kami langsung ke hotel di Jl. Mataram. Sepanjang jalan kami menikmati bangunan-bangunan tua yang kami lalui termasuk juga tembok putih memanjang di mana kompleks perumahan para "abdi dalem keraton" bermukim.

Sampai di gerbang hotel kami turun. Kemudian saya tanya si bapak berapa ongkos yang harus saya bayar mengingat kami diantar bukan lagi kembali ke Jl. Malioboro seperti kesepakatan awal namun langsung ke hotel dimana kami menginap.

"Pak, jadi berapa total yang harus saya bayar?"

"SeIkhlasnya saja pak!"

Jawaban singkat yang mengagetkan. Beliau menjawab lembut setengah membungkuk hormat. Ah mungkin beliau sungkan pikirku. Kutanya lagi eeh... beliau tetap memberi jawaban yang sama, menolak menyebut nominal rupiah. Agar tidak berlama-lama akhirnya saya memberi lembaran rupiah yang menurutku lebih dari cukup. Beliau tersenyum puas sambil mengucapkan terimakasih berulang-ulang.

SeIkhlasnya!

Sulit bagi saya untuk mengkonversi kata "SeIkhlasnya" menjadi angka dalam rupiah. Dan bukan nilai rupiahnya yang membuatku tersentak tapi ketulusan dan keramahan si bapak yang membuatku terkagum-kagum. Di jaman penuh hedonisme ini ternyata masih ada orang-orang baik yang sederhana seperti si bapak sang pengayuh becak. Satu setengah jam bersama bapak hanya dihargai "seIkhlasnya".

Tukang becak itu benar-benar telah menampar saya, sehingga terbangun dari tidur saya selama ini untuk benar-benar mengerti apa itu arti kata 'Ikhlas'.

Mudah-mudahan!

Tabik erat,

Parjalpis, Siantarcity

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi