Satyadhiswara
Satyadhiswara NyuPir AngKot

Tinggal di Bantul. Anak jaman (Jawa-Mandailing) dan pujakesuma (putra Jawa kelahiran Sumatera).

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight headline

Ketika Agama Berlomba Menyodorkan Rumus untuk Menolak Kemiskinan

19 April 2017   18:43 Diperbarui: 20 April 2017   11:11 420 6 6
Ketika Agama Berlomba Menyodorkan Rumus untuk Menolak Kemiskinan
Ilustrasi | sumber gambar: www.uscatholic.org

Nyatanya yang namanya kemiskinan itu memang akan tetap ada. Dan soal kenapa Tuhan meniscayakan kemiskinan, kenapa kemiskinan mesti diterima dan kenapa orang-orang bijak lebih memilih menjauhi kenikmatan dunia atau materi, saya rasa pertanyaan tadi mestinya tak bisa begitu saja diabaikan dari konteks kemiskinan yang selalu terjadi dari waktu ke waktu. 

Apalagi kalau menyaksikan paradigma yang belakangan ini, dimana kemiskinan menjadi sesuatu yang katanya mesti diberantas. Saya rasa ini bener-bener aneh. Kok kayaknya kemiskinan disamakan dengan kriminalitas ya? Apa iya kemiskinan mesti dikonotasikan demikian? Padahal orang-orang miskin itu pun menjalani hidup miskin bukan lantaran kehendak atau niat mereka, melainkan lantaran persoalan sistemik atau secara lebih komprehensif yaitu lantaran Tuhan menghendaki demikian. 

Beda dengan seorang pembunuh yang memang berdasarkan atas niat. Memang, kita seringkali tak berkuasa atau ihwal di luar diri kita, atau hidup kita. Dalam arti, bahwa apa yang ada di luar kita, itu ya sesuka hati Dia yang memiliki kehidupan. Dia mau buat orang jadi kaya atau jadi miskin, itu hak Dia sebagai Dzat Yang Maha Kuasa.

Di sisi lain, permasalahan dan pertanyaan tentang kemiskinan ini pun sebenarnya sudah dijawab dalam agama, tapi sayangnya pengetahuan tentang kemiskinan itu sendiri tidak sampai ke diri kita. Tapi kok belakangan saya merasa lucu ketika sebagian ahli agama memberikan rumus-rumus agar terhindar dari kemiskinan, bahkan sebuah rumus untuk bisa menjadi orang kaya. 

Bukannya apa, seolah-olah hal itu bagaikan penolakan terhadap kehendak Tuhan. Lha kalau nyatanya banyak manusia memang menolak kemiskinan atau emoh jatuh miskin, ya itu lantaran hakikat di balik kemiskinan tadi tidak dipahami. Dan kenapa orang-orang bijak lebih memilih hidup dalam kesederhanaan, ini pun tak terlepas dari pengetahuan mereka akan makna hidup yang tidak sampai diketahui manusia pada umumnya. Secara spesifik, seseorang boleh saja menolak kemiskinan pada dirinya atau orang lain. Tapi, soal kehendak Tuhan atas kemiskinan tersebut, inilah yang tidak boleh ditolak. Manusia boleh menolak kemiskinan karena faktor kemanusiaan. Tapi tidak kalau itu berkaitan dengan kemauan Tuhan.

Saya pun pernah berpikiran bahwa orientasi hidup ini tak lain hanyalah untuk kaya. Atau dengan kata lain, kita hidup tak lain untuk sukses dan kaya raya; begitu paradigma saya dulu. Dan setelah saya dibawa untuk memahami persoalan-persoalan kehidupan dan hakikat di baliknya, di situ tersadarkan saya yang dulu terjebak dalam ketidaktahuan. Maksud saya, kalau seseorang sudah berusaha mati-matian mencari rezeki tapi ternyata tidak dikehendaki Tuhan, mestinya ketetapan Tuhan itulah yang diterima.

Lagian, kalau orang-orang ahli agama itu memberitahu rumusan untuk jadi kaya semacam tadi, saya jadi makin heran; kok bisa mereka seolah-olah bener-bener sanggup menjamin orang lain untuk kaya? Memangnya yang mengkayakan manusia itu siapa? Memangnya yang mengkaya-rayakan tiap manusia itu mereka, sehingga mereka berani menjamin dengan harapan-harapan seperti itu?

Masalahnya, orang kebanyakan pun tidak tahu bahwa kekayaan itu bisa melalaikan manusia sampai-sampai tak tahu diri dan lupa kepada Dia yang mengkayakan orang tersebut. Menjadi kaya itu ternyata membahayakan dan sangat riskan, terutama bagi orang-orang yang tak mengetahui kehidupan. Bagi orang-orang seperti itu sebuah kekayaan ya hanya sekedar kekayaan tanpa pernah mereka pikirkan soal konsekuensi dan pertanggungjawabannya di hadapan manusia maupun di hadapan Tuhan.

Pantaslah kalau nabi-nabi seperti Isa dan Muhammad lebih memilih hidup asketis atau zuhud; Pantas saja kalau Nabi Isa ke mana-mana nyeker tanpa sandal; Pantaslah kalau Nabi Muhammad mau tidur di tikar sampai punggungnya berbekas. Coba saja bayangkan kalau mereka hidup mewah, lantas bagaimana umat-umat yang mengikutinya? Bisa makin jauh perbedaan status sosial pada masyarakat. Dan orang pastinya orang tak akan segan mengatakan, "Kami hanya mengikuti gaya hidup para nabi yang hidupnya penuh harta dan kenikmatan." Lha buktinya, persoalan life-style asketis ini pun diabaikan begitu saja oleh para pengikutnya.

Mereka tentunya lebih menyukai hidup kaya dan selalu ingin kaya. Tak habis-habisnya saya merasa lucu ketika kekayaan materi semacam itu dikait-kaitkan dengan agama. Kalau kaya yang lain sih boleh-boleh saja. Ini kaya materi lho. Materi, yaitu sesuatu yang merupakan bagian terakhir dari hierarki penciptaan, dimana dia merupakan bagian paling rendah kualitasnya, yang paling mudah rusak, yang paling hina, dan paling terakhir. Lalu, apa di atas materi itu ada yang lebih mulia? Tentu tak lain jawabannya adalah pengetahuan. Jadi bukan sesuatu yang fisik sebagaimana materi tadi, melainkan dia bersifat metafisik.

Dan terkait soal pengetahuan, inilah makanya pada awal tulisan saya menyinggung soal pertanyaan-pertanyaan eksistensial seperti, "Kenapa ada kemiskinan?", "Kenapa manusia harus bisa menerima kemiskinan?" dan lain sebagainya. Ini soal pengetahuan. Dan nyatanya memang harus ketahui apa yang ada pada kehidupan ini supaya seseorang tahu bagaimana harus menyikapinya. Dari hal demikianlah saya juga menyadari bahwa memang dalam anasir-anasir kehidupan ini mesti ada yang ditolak, diterima, atau bahkan disikapi secara moderat. 

Kalau kita tak berpengetahuan, lalu bagaimana kita harus menyikapinya? Diibaratkan kalau ada singa lapar di hadapan seseorang yang tidak tahu tentang apa itu binatang singa, apa makanannya, bagaimana kekuatannya, terus apa yang akan dilakukan orang tersebut? Atau, akan jadi apa orang tadi di depan singa yang perutnya sedang keroncongan? Tapi bisa saja malah singa lapar itu yang dimakan oleh seseorang yang tak berpengetahuan tadi. Jika Tuhan berkehendak lain, tentunya.[]