Mohon tunggu...
Iya Oya
Iya Oya Mohon Tunggu... Laki-laki

90's

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Agama dan Egoisme: Soal "Ajaran yang Sedikit Berbeda"

1 Agustus 2019   17:30 Diperbarui: 1 Agustus 2019   17:37 205 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Agama dan Egoisme: Soal "Ajaran yang Sedikit Berbeda"
Ilustrasi: Dokumen Pribadi

Tingkah manusia memang ada-ada saja ya. Semua mau dikuasai. Semua mau dipenjarakan. Bahkan agama, yang merupakan ajaran dari Tuhan yang itu dianggap mulia. Kalau ditanya oleh siapa, ya jawabnya bisa oleh siapa saja. Bahkan oleh para penganut agama itu sendiri. Saya kira kita gak lagi kaget, ya kan?

Bukan hal yang mengherankan, apalagi menakjubkan. Kita memang sering menyalahgunakan sesuatu demi kepentingan, walaupun di dalam kepentingan itu Tuhan dibawa-bawa ke sana kemari seenaknya dan seolah dipaksa untuk menuruti kepentingan tadi. Persoalannya bukan lagi soal kebutuhan atau sesuatu yang sangat mendesak, melainkan hal-hal remeh dan gak penting.

Misalnya --walaupun sebenarnya ini fakta-- ada sebagian orang-orang Islam garis keras yang "menguasai" Islam sehingga dia merasa Islam itu punya mereka. Mereka memenjarakan Islam seolah-olah Islam tidak boleh disentuh oleh selain orang Muslim. Atau mungkin juga tidak, karena bahkan terhadap saudara seiman sendiri pun Islam ditutup dari berbagai interpretasi sehingga bagi mereka yang ada hanya satu interpretasi golongan.

Islam dipenjara sehingga tak ada yang boleh mengenal Islam selain melalui atau orang-orang semacam itu. Seolah hanya ada satu kebenaran, yaitu kebenaran interpretasi mereka. Yang kayak  gini di muka bumi banyak. Bukan hanya satu golongan saja. 

Aneh kan, ada golongan yang merasa paling benar, tapi yang kayak gitu ada banyak? Heran... Apa mereka gak melihat kenyataan dari luar diri mereka? Okelah, kita sudah tahu masalah ini. Ya gak apa-apa, karena memang ini masih terjadi, masih aktual, dan mungkin akan terus begitu keadaannya sampai kiamat nanti.

Tapi di sisi lain, Islam pun ternyata diasingkan atau dijauhkan dari orang Islam sendiri oleh orang-orang non-muslim. Kalau masalah ini terjadi di luar sana, di negeri yang orang Islamnya masih minoritas. Mau disebut itu islamophobia atau apa, ya terserah. Walaupun rasanya tidak logis kalau orang-orang itu menyalahkan ajaran agama. 

Kalau pun orang Islam di sana dijauhkan dari Islam--entah karena alasan separatis atau apa--itu pun rasanya naif kalau ujug-ujug menyalahgunakan Islam itu sendiri. Apalagi kalau sampai melarang orang Islam beribadah. Atau melakukan semacam cuci otak untuk menghilangkan ajaran Islam di kepala umat Muslim.

Tapi, memang akan selalu ada sikap tegas dari suatu negara kalau itu terkait soal "ajaran yang sedikit berbeda". "Ajaran yang sedikit berbeda" ini bisa agama atau ideologi. Tergantung bagaimana manusia-manusia di negara itu memandangnya.

Karena begini: kalau pun misalnya di negeri ini ada satu agama baru di mana penganutnya kemudian mendirikan bangunan dan beribadah di situ, pun barangkali kita akan menentang itu, walaupun itu bukan gerakan separatisme. Bahkan kita pun akan mengatakan mereka sesat. Ini pengandaian saja. Saya sendiri gak tahu apa yang semacam itu pernah terjadi atau belum.

Nyatanya kan sama saja. Mau negara tersebut berlandaskan pada ideologi nasionalisme sekuler atau agama, cara menyikapinya bisa dikatakan hampir sama. Kalau di negara sekuler sana agama (Islam) diberi stereotipe tertentu, maka di negeri ini pun ada "orang-orang relijius" yang begitu anti terhadap sekularisme maupun ideologi-ideologi asing.

Kalau landasannya saja sudah berbeda, maka pandangan terhadap kebenarannya pun beda. Di sini kita bisa menilai sesuatu itu salah karena dianggap asing atau tidak sesuai dengan nilai kultural dan agama. Tetapi di negara lain hal itu kan bisa sebaliknya?

Dan akhirnya saya menyadari bahwa kita semua tak akan benar-benar bisa objektif walaupun kita berusaha objektif. Jauh di dalam diri manusia, pikiran manusia, subjektivitas itu masih ada dan tidak bisa ditutup-tutupi. 

Kita memiliki suatu pemahaman yang sangat mendasar yang itu kita yakini. Dan perbedaan keyakinan semacam ini memang tidak akan pernah bisa akur kalau dia bertemu. Terlalu sensitif. 

Nyatanya itu pun bukan cuma dalam soal kepribadian seorang manusia. Tapi juga dalam kepribadian dalam tiap bangsa. Ini soal bagaimana suatu bangsa memiliki sudut pandang dan kebenaran --atau mungkin bisa dikatakan egoismenya-- sendiri.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x