Satyadhiswara
Satyadhiswara NyuPir AngKot

Tinggal di Bantul. Anak jaman (Jawa-Mandailing) dan pujakesuma (putra Jawa kelahiran Sumatera).

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Seorang Anak dan Tumpukan Buku

10 Juni 2018   19:33 Diperbarui: 10 Juni 2018   19:49 385 2 1
Seorang Anak dan Tumpukan Buku
dokumentasi pribadi

Hari ini memang asyik buat nyantai. Tak tahu juga, apa karena kita dikarunia iklim yang begini ini lantas kita jadi malas ngapa-ngapain. Ini hanya asumsi. Dan apapun itu, rasanya aku tak patut menyalahkan siapa-siapa kalau nyatanya suatu kemalasan itu datangnya memang dari personalitas diri kita. Masak aku harus menyalahkan iklim atau cuaca yang seperti ini? Masak aku harus menyalahkan Tuhan yang menganugerahkan keasyikan seperti ini? Tak ada yang patut disalahkan selain diri kita sendiri.

Terlihat Orang Itu menunjuk ke arah seorang anak yang sedang asyik membaca dengan beberapa tumpukan buku tebal di sampingnya. Kalau sekilas kulihat sih, buku-buku itu kayak buku ideologi-ideologi yang seringkali membuat kep'alaku pusing. 

"Kamu lihat anak itu. Dia begitu asyik membaca, melihat dunia, melihat kehidupan dari kacamata persepsi orang lain.

Dunia yang dipersepsikan," katanya, "dimana realitasnya telah dikonotasikan dengan berbagai macam impresi, mau itu baik atau buruk, mau itu indah atau menjijikkan. Bukannya memang seperti itu sikap manusia dalam memaknai dunia ini?" tanyanya.

Apa kegiatan membaca buku kayak yang dilakukannya itu salah?" balik aku bertanya.

"Tidak. Cuma, aku khawatir kalau dia nantinya terlalu terpengaruh pada apa yang dibacanya, yaitu pemikiran dan persepsi-persepsi seseorang. Nyatanya, suatu pemikiran adalah sebuah kenyataan dari hasil proses mengabstraksi atau mengolah atau memaknai kenyataan. Ada kenyataan yang telah dipersepsikan sehingga menjadi kenyataan baru, yang jika kita tidak menyadarinya, kenyataan pada pikiran seseorang seringkali terkesan hiperbolis bahkan tidak sesuai dengan realitas faktual. 

Mana sesungguhnya yang mesti kita baca dan kita pahami? Bukannya kamu juga pernah mengatakan pada saya kalau apa yang kamu dengar dari orang lain seringkali tidak sesuai dengan pengetahuanmu yang peroleh secara mandiri? Bagaimana itu bisa terjadi, padahal kasus yang kamu ceritakan itu konteksnya tidak lain berkaitan dengan agama? Bagaimana bisa seseorang mengatakan bahwa agama ini bersubstansi begini-begitu yang kemudian persepsi itu dipersepsikan kembali sampai-sampai otentisitasnya tertutupi oleh berbagai persepsi-persepsi personal?

Lalu, bagaimana menurutmu kalau Tuhan juga dipersepsikan seperti itu? Apa kamu bisa menerima persepsi demikian yang berasal dari seseorang? Kita tidak lagi mengetahui hakikat dari sumber utamanya. Itulah masalahnya.  Semoga saja anak itu bisa memfilter persepsi orang-orang yang dibacanya dan mau mengenal  dan memaknai suatu fenomena secara langsung tanpa perantara orang lain. Karena jika tidak, apa yang dibacanya tentu bisa menjadi semacam doktrin, bahkan dogma, kalau dia membenarkannya secara buta."

Kupikir, apa persoalan iklim cuaca yang kayak begini ini bisa membuat kita juga jadi malas berpikir? Maksudku, kita malas berpikir lalu hanya mengikuti pemikiran orang lain tanpa mau memfilternya. Ah, lebih bagus kubuang jauh-jauhlah asumsi-asumsi yang begitu itu. Sampai aku ngantuk karena angin sepoi-sepoi, kulihat anak itu masih tetap asyik membaca melalui kacamata yang lebarnya hampir separuh wajah. 

"Pada awalnya manusia membaca karena dia tidak tahu," kata Orang Itu mengagetkan aku yang sedang mengantuk. "Tapi kemudian setelah dia tahu, sebuah buku bacaan hanya akan menjadi media komparasi antara pemikirannya sendiri dengan pemikiran orang lain; di samping sebagai sarana kognisi penambah pengetahuan." 

Dan aku kembali ngantuk dibuai lembut angin sepoi-sepoi. Tak kudengar lagi apa kata Orang Itu. 

Note: Cerpen ini merupakan fragmen dari anti-novel berujudul Orang Itu... yang entah kapan akan menjadi buku lantaran masih berkelana mengetuk pintu-pintu penerbit.