Mohon tunggu...
Satriyo Wahyu Utomo
Satriyo Wahyu Utomo Mohon Tunggu... Cogito Ego Sum | Sic Parvis Magna

Ngerasa sayang aja kalo ga ditulis | Instagram : @satriyowu

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan

Mendadak Mengidap Skizofrenia di Bulan Puasa

18 April 2021   02:45 Diperbarui: 18 April 2021   05:08 179 2 0 Mohon Tunggu...

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan, semoga kita semua mendapat rahmat-Nya, aamin.

Bagi yang pernah membaca buku Filosofi Teras, mungkin telah mengetahui bahwa salah satu faktor penyumbang permasalahan manusia adalah perbedaan, "berbeda" dianggap berkonotasi negatif dan harus diseragamkan. Maka anggapan seperti selamanya akan tetap muncul dan menimbulkan konflik beruntun jika perbedaan bukan dipahami sebagai sunnatullah, melainkan sesuatu yang harus disamakan dengan paksaan. Sering ditemui kasus, di beberapa daerah saat bulan puasa, konflik-konflik yang sebenarnya tak perlu terjadi, dan lebih baik jika memang tak terjadi. Penulis rasa, si pembuat konflik ini tak mengerti mana ruang lingkup privat mana ruang lingup formal. Mereka mendasarkan tindakan mereka hanya pada subjektifitas personal, lupa jika orang lain juga memiliki subjektifitas yang berhak untuk dijalankan.

Tak lama dalam media masa, video viral melihatkan ada tindakan penutupan warung makan oleh Satpol PP. Ada lagi ultimatum walikota Serang, Banten yang mengancam akan memberi sanksi berat kepada warung yang nekat buka pada saat siang hari di bulan puasa. Penutupan itu dengan alasan menghormati umat yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Tindakan-tindakan itu menjadi rancu dalam logika, dan mengikis kulaitas dari makna ibadah itu sendiri. Jika pernyataan alasan penutupan adalah karena untuk menghormati seseorang yang sedang menjalankan ibadah puasa, maka logika yang sama juga berlaku bahwa seseorang yang berpuasa juga harus menghormati seseorang yang sedang tidak menjalankan ibadah puasa. Tidak ada diferensiasi dalam kepercayaan. Tidak ada pula penilaian objektif-kualitatif terhadap suatu kepercayaan, karena memang tidak ada analisa disana. Logika sederhana saling menghormati adalah cukup dengan tidak membuat orang yang dihormati untuk melakukan hal-hal yang bertolak. Kehormatan terletak pada sikap masing-masing pemilik privat, cukup dengan tidak memaksa orang lain ikut masuk kedalam ruangnya. Apakah orang yang menjalankan ibadah puasa berarti baik, dan yang tidak menjalankan berarti buruk? Itu tak terdefinisi, karena ibadah merupakan ruang privat manusia, dan setiap manusia memiliki ruang privat. Kerancuan itu terjadi karena penempatan sesuatu yang bukan tempatnya. Ruang privat seharusnya hanya menjadi urusan pribadi bagi yang memilikinya, bukan menjadi urusan orang lain yang memiliki privat berbeda. Begitu juga dengan makna ibadah. Jihad tertinggi adalah perang melawan diri sendiri. Maka seharusnya berpuasa adalah menahan diri dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa, bukan menghilangkan macam probabilitas yang dapat membatalkan puasa. 

Negara yang baik seharusnya berada di tengah antara ketegangan-ketegangan yang terjadi, bukan malah menjadi faktor utama adanya ketegangan tersebut. Klaim keadilan sosial tidak bisa didasarkan pada penegasian (baca: pengorbanan) hak salah satu pihak untuk menciptakan menyokong kemapanan pihak lain. Kebijakan seharusnya koheren di dalam kebutuhan seluruhya, bukan sebagian. 

Kesewenang-wenangan itu berasal dari ketakutan-ketakutan terhadap delusi pikirnya sendiri, delusi yang tak pernah terbukti adanya. Pembiaran terhadap matinya nalar---atau mungkin memang tak mau menalar---akan menumbuhkan bibit-bibit feodalisme yang memberangus hak-hal sosial. Maka, mari perlahan-lahan menjadi realistis, tinggalkan dogma-dogma yang tak relevan dalam ruang sosial dan jangan sekali-sekali membeci akal sehat.

VIDEO PILIHAN