Mohon tunggu...
Satrio Nata Mulia
Satrio Nata Mulia Mohon Tunggu... Mahasiswa S2 Pascasarjana UPI

Mahasiswa S2 Pascasarjana Jurusan Pariwisata UPI

Selanjutnya

Tutup

Travel

Virtual Tourism di Masa Pandemi

11 Mei 2021   10:52 Diperbarui: 11 Mei 2021   12:10 93 3 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Virtual Tourism di Masa Pandemi
visualisasi virtual tour (sumber : freepik.com) 

Di masa pandemi, dimana banyak larangan untuk melakukan perjalanan wisata, virtual tour menjadi salah satu pilihan yang banyak diminati dan menjadi tren di era new normal seperti sekarang ini. Di Indonesia, virtual tour mulai ramai dan menjadi sorotan di tahun 2020. Definisi virtual tour sendiri belum diakui secara universal, namun secara umum dapat diartikan sebagai membuat pengalaman wisata dengan menggunakan teknologi.

Banyak orang yang keliru dan sering tertukar antara istilah virtual tour dan VR tour, padahal kedua istilah tersebut adalah dua hal berbeda. VR (Virtual Reality) tour adalah jenis tour yang khusus menggunakan teknologi augmented reality, dengan menciptakan sebuah lingkungan khusus seperti menggunakan kacamata VR atau media lain yang dapat menciptakan penggabungan secara real-time terhadap digital konten yang dibuat oleh komputer dengan dunia nyata (augmented reality), sedangkan virtual tour adalah sensasi melakukan perjalanan wisata ke tempat-tempat wisata yang diinginkan secara online. Seiring dengan perkembangan teknologi yang pesat, maka virtual tour ini menjadi sebuah alternatif wisata yang patut dicoba oleh para wisatawan.

Saat ini, situasi pandemi COVID-19 masih belum selesai, di Indonesia sendiri kurang lebih 5000 kasus ditemukan setiap harinya (covid19.go.id). Hal ini membuat orang-orang merasa takut untuk bepergian apalagi untuk melakukan wisata ke tempat-tempat yang biasanya ramai dikunjungi orang. Dalam kondisi demikian, virtual tour menjadi salah satu alternatif yang banyak disediakan oleh para penyedia jasa.

Bentuk virtual tour ini beragam, mulai dari wisata yang ditemani oleh pemandu wisata (guide) secara langsung yang mengajak mengelilingi suatu destinasi wisata, penggunaan kamera 360° di suatu destinasi, slide gambar-gambar dari suatu destinasi, video singkat yang menjelaskan suatu destinasi, kombinasi dari video, kamera 360° dan slide gambar-gambar, dan masih banyak lagi macamnya.

Bagi para pembaca yang ingin mencoba dan merasakan langsung jenis tour ini, dapat mengunjungi situs https://indonesiavirtualtour.com/ yang menawarkan 16 destinasi wisata yang dapat diakses secara gratis. Situs tersebut menyediakan dua jenis resolusi tampilan, yaitu Hi-Res yang menampilkan gambar dengan resolusi tinggi dan Super Hi-Res yang menampilkan gambar dengan resolusi yang lebih tajam dari Hi-Res.

Sebenarnya virtual tour ini dirasakan masih kurang menarik minat para wisatawan. Hal ini disebabkan karena banyak hal yang tidak dapat dilakukan secara virtual, para wisatawan biasanya, selain berkunjung ke destinasi tersebut, mereka juga melakukan eksplorasi di luar destinasi, seperti mencoba makanan atau kuliner yang terdapat di sekitar lokasi destinasi, melakukan interaksi dengan warga lokal dan wisatawan lainnya, bersenang-senang sambil bercanda dengan teman-teman, dan hal-hal lainnya. Kerinduan melakukan wisata aktivitas outbound seperti flying fox, hiking atau snorkeling yang tidak dapat digantikan secara virtual. Sehingga masyarakat pasti akan tetap melakukan wisata jenis ini.

Para penyedia jasa virtual tour biasanya melakukan hal-hal yang mengundang minat wisatawan, yaitu pengalaman yang tidak dapat dirasakan secara nyata dan yang hanya bisa dirasakan melalui virtual. Ada yang berpendapat, bahwa virtual tour ini akan menarik jika ada pemandu (guide) yang menemani dan berinteraksi secara langsung, sehingga membuat pengalaman virtual tersebut menjadi menyenangkan dan berkesan. Tanpa adanya pemandu, gambar-gambar saja akan kurang menarik. Hal lain yang menarik di virtual tour adalah jika penyedia jasa dapat membuat pengalaman dimana wisatawan dapat menjelajahi suatu destinasi dari sudut pandang yang tidak biasa, seperti menjelajahi suatu destinasi dengan cara “terbang” di angkasa atau menyelam di lautan, hal-hal tersebut tidak dapat dilakukan secara nyata namun dapat dilakukan secara virtual.

Bagaimana kelanjutan dari virtual tour ini jika kondisi pandemi ini selesai? Belum ada yang tahu kapan pandemi COVID-19 ini akan berakhir dan kapan orang-orang akan kembali melakukan perjalanan wisata secara langsung seperti dulu. Andai kata pandemi ini usai dan orang- orang dapat berwisata kembali, apakah orang-orang masih akan mencari virtual tour?

Maka jawabannya adalah, bahwa para wisatawan akan tetap meminati virtual tour ini, namun model yang akan dicari mungkin akan lebih rumit dan sangat bergantung pada perkembangan teknologi. Hal ini dimaksudkan, bahwa virtual tour ini dapat menyediakan pengalaman yang hanya dapat dirasakan secara virtual, maka hal-hal yang “tidak mungkin” dilakukan di dunia nyata, bisa menjadi salah satu incaran yang akan dicari oleh wisatawan. Seperti terbang di angkasa, menjelajahi pulau demi pulau, menyelam di laut yang belum pernah dikunjungi sebelumnya karena keterbatasan biaya dan hal lain, berjalan di bulan, dan wisata-wisata lain yang sangat menarik untuk dilakukan secara virtual.

Mungkin untuk saat ini, virtual tour di Indonesia belum dapat menyediakan paket tour sedemikian rupa, namun dengan perkembangan teknologi dan kreatifitas masyarakat Indonesia kedepannya, model-model wisata tersebut di atas dapat diwujudkan. Selain penyedia jasa, minat para wisatawan juga berperan sangat penting untuk kemajuan virtual tour ini. Jika peminatnya sedikit, maka penyedia jasa pun menjadi kurang tertarik untuk membuat tour semacam ini.

VIDEO PILIHAN