Mohon tunggu...
Reno Dwiheryana
Reno Dwiheryana Mohon Tunggu... Blogger

blogger harus punya dedikasi dan harga diri. bersyukur seminim apapun keadaan. umur kian bertambah, jatah hidup di dunia semakin berkurang. mati-matian manusia demi dunia, akan tetapi dunia tidak manusia bawa mati. sebanyak apapun harta manusia tidak akan mencukupi hidup yang singkat ini.

Selanjutnya

Tutup

Esport Pilihan

Kompetisi Esport Bukanlah Candu

11 Juni 2019   08:30 Diperbarui: 11 Juni 2019   08:42 0 2 0 Mohon Tunggu...
Kompetisi Esport Bukanlah Candu
Kompetisi CS Go (vpesports)

Apa sih itu eSports? Gim-gim apa saja sih yang dipertandingkan dalam eSports? Kiranya pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak perlu Penulis jelaskan lagi dikarenakan sudah Penulis pernah cantumkan dalam artikel-artikel mengenai eSports di Kompasiana ini.

Dalam kesempatan ini Penulis tidak akan berlama-lama karena pasti akan panjang, artikel ini sekadar ingin mencerahkan sebuah pandangan dari para netizen yang beberapa saat lalu menanggapi postingan mengenai kecanduan gim. 

Mungkin tak sedikit netizen yang bertanya-tanya, jika gim dapat menjadi candu lantas mengapa pemerintah justru gencar-gencarnya menginiasi kompetisi gim atau eSports?

Perkenankan Penulis menjelaskan. Sebelumnya Penulis bukanlah siapa-siapa, hanya seorang gamers dan full time blogger, apalagi tak ada sama sekali kaitannya dengan pemerintah. Namun disini Penulis merasa perlu mengklarifikasi disebabkan eSports merupakan materi yang acapkali Penulis bawakan khusus di Kompasiana.

Sebagai permulaan, perlu Penulis ingatkan sejatinya kecanduan gim dan eSports merupakan dua hal yang berbeda. 

Apa yang dimaksud dengan "kecanduan"? Berbeda dengan hobi yang punya konotasi positif, kecanduan adalah suatu kondisi dimana individu adiktif terhadap sesuatu dan tidak mampu mengontrol dirinya. 

Kata kecanduan pun lekat dengan konotasi negatif, sebagai contoh kecanduan narkoba. Kecanduan narkoba bukan saja berdampak buruk (jangka panjang) pada tubuh si penggunanya, kemudian narkoba atau zat adiktif tersebut dilarang dan melanggar hukum, serta dapat pula menimbulkan dampak buruk lainnya seperti tindakan kriminal, dan sebagainya.

Serupa tetapi tak sama, kecanduan gim pun demikian adanya. Kecanduan gim ialah kondisi dimana individu adiktif terhadap gim dan berakibat buruk kepada dirinya maupun merugikan orang lain. 

Efek negatif dari kecanduan gim yang paling ketara ialah menurunnya produktivitas individu dimana cenderung bermalas-malasan, membuat individu kurang konsentrasi, kemudian minim bersosialisasi bahkan anti sosial, tidak dapat memanage waktu dengan baik, hingga dapat mendorong seseorang bertindak kriminal seperti kasus pencurian guna membeli item pada gim. 

Bahkan yang lebih parah, kecanduan gim dapat berdampak buruk pada orang lain seperti kasus di luar negeri dimana sepasang suami istri lalai mengasuh bayinya hingga akhirnya meninggal disebabkan asyik bermain gim. Penulis persilahkan anda-anda cek kasus-kasus kriminal akibat kecanduan gim di Google.

Tak mengherankan saking begitu parahnya efek negatif dari gim beberapa negara di luar sana bahkan membuat tempat rehabilitasi bagi pencandu gim. Beberapa negara pun ada yang membuat peraturan prihal gim agar mereka dapat mengontrolnya, tetapi ingat bukan melarangnya atau menghentikannya.

Lantas dari gambaran diatas, pertanyaannya ialah apakah gim sebegitu buruknya? Mengapa pemerintah justru mendukung adanya gelaran kompetisi eSports di Indonesia?

Sebagaimana Penulis telah utarakan kecanduan gim dan eSports merupakan dua hal yang berbeda. Mengapa pemerintah mendukung adanya kompetisi eSports menurut pandangan Penulis lebih kepada bagaimana membuka sebuah peluang.

Anda para pembaca tahu mengenai "The International" (dota2.com/international/battlepass), "Dota Pro Circuit", "Dreamhack", "eGames" (egames.org), dan lain sebagainya ialah beberapa kompetisi eSports berskala internasional dimana individu atau sebagai tim bertanding satu dengan yang lain untuk memperebutkan trofi maupun sejumlah nominal uang. 

Sebagai gambaran prize poll awal kompetisi The International Dota 2 tahun 2019 saat ini (s.d bulan Mei 2019) telah mencapai 8,5 juta US Dollar! (silahkan anda gunakan kalkulator) Bisa anda bayangkan betapa besar dan gilanya bukan industri gim saat ini. Anda juga bisa cek Youtube sebagai referensi prihal seperti apa gambaran kompetisi eSports berskala internasional tersebut berlangsung.

Pada kenyataannya, mau tidak mau, sadar tidak disadari bahwa gim kini bukan lagi sekadar sarana hiburan. Tetapi gim kini telah bertransformasi menjadi sebuah industri raksasa dimana perputaran uang terjadi atau ada kegiatan ekonomi disana. 

Anda tahu berapa uang yang berputar dari gim online di Indonesia? Berdasarkan laman berita online pada bulan Maret 2019 sekitar lebih dari 2 triliun! (baru dalam gimnya saja)

Dalam kapasitas pemerintah membuka peluang bukan berarti semua menyangkut uang. Tetapi pertama prihal bagaimana menjadikan gim yang sekadar sarana hiburan terkesan kurang bermanfaat ini agar diubah agar lebih positif. 

Mereka yang berlabelkan atlet eSports profesional sejatinya ialah individu dimana dilatih untuk bagaimana memberdayakan skill atau kemampuan bermain gim agar produktif.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2