Mohon tunggu...
Widodo Judarwanto
Widodo Judarwanto Mohon Tunggu... Penulis Kesehatan

Dr Widodo Judarwanto, pediatrician. VIRTUAL MEDICINE CALL TODAY: 021.29614252 - 021.5703646 ** www.drwido.com ** www.kesulitanmakan.com ** www.alergiku.com ** www.pickyeatersclinic.com ** www.klinikbayi.com ** www.dokteranakindonesia.com **

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Anak Gangguan Konsentrasi, Orangtua Emosi

20 September 2020   10:59 Diperbarui: 20 September 2020   18:50 329 14 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Anak Gangguan Konsentrasi, Orangtua Emosi
Ilustrasi: shutterstock via kompas.com

Pandemi Covid-19 berdampak sangat luas bagi masyarakat. Bukan hanya dampak kesehatan dan ekonomi, tetapi bidang pendidikan juga terdampak hebat karena anak tidak bisa sekolah harus belajar di rumah

Problema belajar di rumah bukan hanya sekadar masalah sinyal internet atau biaya pulsa. Masalah besar lainnya karena ketidakmampuan orangtua membimbing anak terutama karena banyak anak mengalami masalah gangguan konsentrasi. 

Hal ini inilah menjadi salah satu alasan sebagian orangtua menuntut untuk segera sekolah tatap muka langsung meski wabah semakin mengkawatirkan. Bahkan hal ini menjadi penyebab orangtua tidak sabar dan emosi dan melakukan kekerasan pada anaknya. 

Tragisnya, kisah seorang ibu kandung di Gunung Kendeng, Kecamatan Cijaku, Lebak sampai tega menganiaya anaknya yang masih duduk di bangku kelas 1 SD hingga tewas hanya karena kesal lantaran korban susah diajari saat belajar online.

Gangguan konsentrasi pada anak sangat bervariasi, terjadi dengan tingkat yang ringan hingga berat membuat anak tidak mampu mengikuti pelajaran atau anak tidak bisa mengikuti keinginan orangtua atau mendengarkan dengan baik arahan orangtua saat belajar di rumah atau daring. Hal ini yang membuat sebagian orangtua kewalahan, tidak sabar, emosi hingga melakukan kekerasan verbal atau fisik pada anaknya.

Sebenarnya masalah tersebut sudah muncul sebelum masa pandemi, hanya saja orangtua tidak mengalami secara langsung. Maka, keinginan orangtua untuk segera sekolah tatap muka langsung karena alasan sulit mengajari anak di rumah tidak menyelesaikan masalah atau hanya memindahkan masalah. Karena, anak juga mengalami problema yang sama saat di sekolah hanya saja orantua tidak ikut merasakannya.

Pada anak usia sekolah gangguan konsentrasi tampak pada gejala cepat bosan terhadap pelajaran atau sulit mendengarkan pelajaran yang diberikan guru atau orangtua sehingga saat belajar di rumah sering bengong (melamun), tidak peduli, tidak mau mendengarkan sangat cuek dan bila dipanggil beberapa kali baru menoleh. 

Tidak bisa membaca lama buku pelajaran, sering mencari alasan dengan mengatakan "capek", "nanti saja" atau "sudah bisa" saat disuruh membaca buku pelajaran. 

Saat remaja atau dewasa biasanya bila belajar harus dalam keadaan tenang atau biasanya saat tengah malam. Karena , saat siang hari tidak bisa belajar mudah teralih banyak aktifitas di sekitarnya. Tetapi uniknya pada beberapa kasus baru bisa belajar dengan baik saat mendengarkan musik 

Uniknya biasanya bisa bertahan lama pada hal yang disukai seperti menonton televisi, baca komik, novel atau bermain gadget atau game. Karena anak dengan gangguan konsentrasi tertentu tidak terganggu bila menghadapi hal yang disukai tetapi akan sangat bosan terhadap hal yang tidak disukai. Akibatnya dalam pelajaran sekolah akan didapatkan mata pelajatran tertentu sangat tinggi tetapi pelajaran lainnya sangat buruk. 

Anak juga sering mengalami kehilangan barang di sekolah , tidak teliti, lupa perintah guru di sekolah dan suka terburu-buru. Anak kelompok ini biasanya kurang cermat dan tidak teliti sehingga saat diminta tolong mencari atau mengambil barang di meja akan selalu mengatakan tidak ada, karena tidak mampu dengan teliti mencari barang di natara tumpukan banyak barang di meja. Padahal barang tersebut jelas terlihat jelas di atas meja. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x