Mohon tunggu...
sampe purba
sampe purba Mohon Tunggu... Pemuka Agama - Insan NKRI

Insan NKRI

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Naik Angkot, Ojo Dibanding-bandingke

30 Agustus 2022   05:44 Diperbarui: 30 Agustus 2022   05:44 186
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Naik Angkot - Ojo dibanding bandingke

Tadi, dari Senen - Kp. Melayu saya naik angkot. Angkotnya keren. TransJakarta dgn kode lambung PPD 0163. Ongkosnya rp. 3.500. Saya naik PPD pertama kali adalah 35 thn yl. Ongkosnya waktu itu Rp. 100. Artinya 35 kali lebih mahal dalam 35 tahun. Tetapi untuk naik bis harus mengejar ngejar. Itupun dapatnya berdesakan. Tangan kanan bergelantung. Tangan kiri menjepit map surat lamaran kerja. Akibatnya terasa. Sepertinya tangan kanan saya sedikit terkesan lebih panjang dari tangan kiri. Hingga sekarang

PPD yang ini beda. Masuk via halte menggunakan kartu. Kartu smart terintegrasi yang juga bisa dipakai bayar tol, parkir, LRT commuter line dan kereta api Jabodetabek. Sekedar masukan ke Pengelola. Jarak lantai pintu bis dengan lantai halte turun naik, masih perlu dibenahi. Masih terlalu lebar.

Full AC. Lantai bis bersih. Tidak ditemukan pengamen, orang jualan koran, teh botol dsb (sebagaimana dulu sangat common di bis kota tahun 1990 an, seperti dinostalgiakan kembali oleh Kakak Asuh Bung Toilam - Murbanto Sinaga ). Terima kasih kepada Pemerintah Kota - saat ini di bawah Pak Gubernur Anies Baswedan , yang memaintain kebersihan ini semakin baik dari waktu ke waktu.

Saya duduk di belakang. Bisa selonjoran. Ada fotonya tuch. Setiap menjelang halte, ada pengumuman via recorded speaker. Pakai bahasa Inggris lho. Pokok e, naik bis kota di Jakarta sekarang tidak kalah keren dibanding dengan di kota lain seperti Singapore, Hong Kong atau London.

Di bis ini ada 6 larangan. Ditempel di dinding. TIGA yang berkesan adalah dilarang bawa PISTOL. Juga dilarang PACARAN, dan bawa DUREN. Untuk yang kedua ini, saya duga adalah agar jangan sampai orang pacaran ngadem seharian di bis kota, dengan modal rp. 3.500. Bikin sempit.

Kalau larangan bawa pistol ?. Ya. Mungkin karena CCTV di bis ini belum berfungsi. Jadi sulit menelusuri kalau ada penyalah gunaan. Seperti yang lagi hit di berita itu lho. Kalau dinarasikan ketiga larangan tsb, kira-kira beginikah... dilarang bawa Pistol di Duren tree, kalo ketahuan pacaran....

Turun di Jati Negara. Saya mencari Bakmie Siantar. Ternyata, sudah tutup warung itu.

Saya pindah cari makan ke WarTeg. Wartegnya bersih lho. Indikatornya jelas. Tidak ada lalat maupun sarang laba-laba. Juga tidak ada pengamen. Dengan Rp 21 ribu sudah dapat dua lauk plus kerupuk. Saya sempatkan berfoto dengan penjaga warung

Seterusnya... saya pulang ke rumah pakai go car. Soal e... belum ada moda terintegrasi hingga ke rumah kami di bilangan Cikunir.

Semoga Pemimpin Kota yad juga menseriusi konkritisasi penuntasan sistem transportasi terpadu JABODETABEK. Selain menambah kenyamanan, hal tsb juga akan sangat mendorong pengurangan pemakaian kendaraan pribadi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun