Mohon tunggu...
Syamsiah
Syamsiah Mohon Tunggu... Insinyur - Trainer

Instruktur TIK Kemenaker RI Love Purple and Eat Purple \r\nwww.syamthing.blogspot.com, \r\nwww.syamhais.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Membangun Kesehatan Reproduksi dan Mental Remaja

25 Juli 2016   22:28 Diperbarui: 25 Juli 2016   23:01 419
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Contoh status galau. Source: http://sebilasinpo.blogspot.com/2015/07/pacar-kamu-suka-curhat-di-media-sosial.html

Pengakuan seperti ini adalah pengakuan yang salah dan keblinger. Masalahnya, media pun kerap mengumbar kecantikan paras dan keseksian tubuh sebagai pesona utama wanita. Untuk itu, peran media juga sangat diperlukan untuk memperbaiki pola pikir remaja. Jangan lagi menjadikan orang cantik dan seksi sebagai orang yang banyak tampil di televisi. Namun jadikanlah orang yang berprestasi disertai akhlak yang baik sebagai tokoh yang ditampilkan di banyak acara televisi.

Kembali ke Agama

Dalam agama ditekankan adanya dosa dan ancaman siksa-Nya. Keimanan yang ditanamkan sejak dini dapat menghindari seseorang dari berlaku yang tidak sesuai norma agama dan norma sosial. Selain itu, pembelajaran agama sejak kecil sudah memberikan pendidikan seks secara jelas namun tidak vulgar.

Pendidikan seks dalam agama Islam disesuaikan kebutuhan. Sejak dini sudah dijelaskan apa itu akil-baligh[2]. Dewasa secara fisik dalam Islam adalah ketika wanita mengeluarkan darah haidh sekurang-kurangnya satu hari, sebanyak-banyaknya 14 hari. Lebih dari itu bisa dianggap sebagai darah istihadlah[3]. Darah haidh pertama kali keluar paling awal di usia 9 tahun. Sedangkan laki-laki ditandai dengan mimpi basah[4].

Saat itu keduanya dinyatakan telah mampu melakukan reproduksi. Rasa suka terhadap lawan jenis pun mulai dirasakan. Karenanya, berbagai kewajiban pun diberikan. Mulai kewajiban shalat lima waktu hingga kewajiban menutup aurat. Tujuan kewajiban-kewajiban ini adalah untuk menunjukkan bahwa mereka sudah dianggap dewasa dan bertanggung jawab. Tujuan lainnya, untuk menghindari berbagai perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma masyarakat. Termasuk salah satunya adalah perilaku seks di luar nikah.

Karenanya, berbagai perilaku umat manusia sejak itu sudah dicatat dalam catatan amal. Apapun yang dilakukan ada kosekuensinya. Jika yang dilakukan adalah kebaikan, anjuran, dan perintah agama maka berbuahkan pahala yang menjanjikan surga. Jika yang dilakukan adalah pelanggaran-pelanggaran aturan kehidupan dan beragama, maka akan berbuahkan dosa yang menjanjikan neraka.

Tanpa perlu mempelajari organ intim wanita, ilmu Fiqih[5] telah mengulas masalah kesehatan reproduksi dengan cara yang halus. Cara penyampaian yang menyesuaikan dengan perilaku sehari-hari bagi para remaja belasan tahun. Tanpa perlu visualisasi sehingga remaja tidak perlu mencoba atau penasaran dengan perilaku seksual itu sendiri. Dalam Islam pun ada kitab tersendiri untuk pembahasan seksual, salah satunya Qurratul Uyun. Kitab ini membahas khusus tentang hubungan suami-istri dan hanya diperuntukkan bagi mereka yang sudah siap ke jenjang pernikahan.

Agama mengajarkan kita untuk patuh pada pemimpin[6]. Baik itu orang tua, guru, ataupun presiden. K.H Hasyim Asyari, sebagai pendiri Nahdathul Ulama mengajarkan untuk cinta tanah air yang dapat dilakukan dengan berbagai hal positif.

Di sisi lain, banyak remaja yang sangat bergairah dalam mempelajari agama namun minim arahan dari lingkungannya. Hal ini terjadi karena mereka tidak adanya keterbukaan dalam keluarga. Keluarga pun merasa aman-aman saja dengan anaknya yang dilihat giat belajar agama. Mereka tidak memantau apa saja yang dipelajarinya.

Semangat tinggi dan minim keteladanan lingkungan terdekatnya membuatnya lebih percaya pada guru agama yang baru dikenalnya. Dikiranya semua yang membawa agama pasti benar. Hingga mereka tidak sadar telah dimanfaatkan berlaku keras dan ekstrim pada sesama. Dari mulai gemar mengkafirkan sesama hingga perilaku terorisme yang mengatasnamakan agama.

Karena itu, peran bimbingan dan teladan orang tua sangatlah penting bagi tumbuh kembang remaja. Para orang tua janganlah menilai anak selalu dari sisi negatifnya. Setiap anak memiliki keunikan tersendiri yang kelak menjadi nilai lebih mereka. Sehingga mereka tidak perlu mencari eksistensi diri di luar keluarga. Karena pengakuan kedua orang tua atas anaknya adalah jauh lebih menyenangkan ketimbang mencari pengakuan di luar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun