Mohon tunggu...
Safitri Nurrohmaningrum
Safitri Nurrohmaningrum Mohon Tunggu...

Homo Ludens

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Halo, Mart!

18 Mei 2018   14:17 Diperbarui: 18 Mei 2018   14:36 0 0 0 Mohon Tunggu...
Halo, Mart!
Mart!

Butuh waktu satu minggu lebih untuk merangkai cerita tentang Mart! Berpikir beberapa kali untuk membagikan foto Mart! yang saya ambil diam - diam tanpa sepengetahuan dia. Ketika saya mengirimkan foto ini via WhatsApp, dia membalas dengan foto kami sewaktu kami turun sekembalinya kami dari Goa Kambing. 

Namanya Mart! Apakah hanya Mart! saja namanya? Bukan, dia memiliki nama panjang, memiliki marga yang ia dapat dari ayahnya yang telah meninggal. Usia Mart! 17 tahun, tepatnya menjelang 17 tahun, hari itu saya mengenal dia pertama kali sebagai salah satu guide saya. Kami tak banyakk bicara satu sama lain. Melewati perkebunan karet penduduk setempat, menyebrang sungai yang tak terlalu dalam, dan menyusuri hutan yang cukup lebat. 

Dia membawa tas dipunggungnya, pertanyaan pertama yang kulontarkan adalah "Ngga berat?" dengan sedikit cuek dia menjawab "Berat sih engga, ribet aja".  Lalu kami berjalan dengan tiga orang lainnya, Jempol dan Pandi serta satu orang lain, yang dalam cerita ini dia tak terlalu memberi banyak ruang untuk dapat saya bagi ceritanya. 

Jempol dan Mart! melaju dengan cepat semacam kereta tanpa rem, tentunya dengan beban dipunggung mereka. Tiba lebih dulu daripada saya yang hanya membawa badan saja.

Kami bermalam di sebuah Gua, namanya Gua Kambing, konon banyak Kambing Hutan, atau yang biasa kita sebut Rusa, tinggal di Gua itu. Kambing - kambing itu entah kemana pergi, mungkin manusia - manusia seperti kami yang membuat mereka tidak betah dan memilih untuk pergi. Sebuah tenda alakadarnya dibuat di dalam gua. Beberapa kerangka tenda sudah terpasang dengan kokoh batang kayu, entah jenis kayu apa yang dipakai. 

Air terjun yang tak begitu deras membuat suasana tak terlalu sepi. Air terjun itu tak begitu deras, cenderung kecil, airnya segar, membasuh diri dengan air menjadi sebuah kewajiban. Sore itu suasana masih sangat canggung hingga Mart! memanggilku dan memunjukkan dua ekor Siamang yang sedang mengawasi kami dari salah satu pohon di sisi barat.

"Kak, apa itu namanya? Aku hanya tau mereka itu monyet" Mart! terlihat sangat lugu dan berani di satu waktu yang sama

"Siamang namanya, Mart!"

"Hahahaha lihat! Mereka tatap aku dari tadi, sama hitamnya aku dengan mereka, kak!"

Kami tertawa. Saat itulah sebuah cerita marting terungkap. Rangkaian cerita dari kami duduk memandangi tingkah Siamang hingga malam hari menjelang tidur, setelah berjam - jam kami main kartu.

Inilah Mart! yang kukenal, dari mulutnya sendiri ia bongkar kehidupannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3