Mohon tunggu...
syarifuddin abdullah
syarifuddin abdullah Mohon Tunggu... Penulis - Penikmat Seni dan Perjalanan

Ya Allah, anugerahilah kami kesehatan dan niat ikhlas untuk membagi kebaikan

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Covid-19, Mengantisipasi dan Mencegah "Skenario Italia"

26 Maret 2020   00:35 Diperbarui: 26 Maret 2020   13:25 978
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kesehatan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Schantalao

Semua negara Eropa tanpa kecuali, dan saya yakin juga negara-negara lain, saat ini mempersiapkan diri menghadapi skenario terburuk penyebaran Covid-19, dan itu berarti mengantisipasi skenario Italia.

Lantas apa sesungguhnya yang terjadi di Italia?

Kronologis kasus Italia

Sejak tanggal 31 Januari sampai 20 Februari 2020 (selama 21 hari), di Italia sebenarnya sudah ada tiga kasus positif Covid-19: yakni lelaki-30-tahun, yang merupakan bagian dari 56 warga Italia yang dievakuasi dari Wuhan pada 2 Februari 2020; plus dua wisatawan China, yang dirawat di RS Lazzaro Spallanzani National Institute di kota Rome (dan keduanya dinyatakan negatif pada 22 dan 26 Februari 2020).

Sebagai langkah antisipasi, sejak 31 Januari 2020, Pemerintah Italia sudah memberlakukan "State of Emergency (keadaan darurat nasional) yang bersifat umum dan berlaku sampai 31 Juli 2020, dan salah satu kebijakan taktis perdananya adalah menangguhkan semua penerbangan ke-dari China. Dalam catatan saya, Italia termasuk negara paling awal mengambil kebijakan penangguhan penerbangan ke-dari China.

Namun sekitar tiga minggu kemudian, pada 21 Februari 2020, tiba-tiba muncul beberapa kasus baru di wilayah Lombardy (wilayah regional di utara Italia yang mencakup kota Milan), dan mengakibatkan korban meninggal pertama pada 22 Februari 2020, yakni seorang wanita-77-tahun.

Lalu pada 23 Februari 2020 (saat total kasus di Italia baru 155 kasus positif Covid-19), pemerintah Italia mengambil kebijakan drastis: memberlakukan lockdown terbatas terhadap 10 kota di Lombardy dan satu kota di Veneto. Hanya memang, mekanisme lockdown ini tidak seketat yang diberlakukan oleh Pemerintah China terhadap kota Wuhan.

Karena kebijakan lockdown pertama dianggap belum efektif, sekitar dua minggu kemudian, pada 08 Maret 2020 (kasusnya sudah berjumlah 7.375orang), Pemerintah Italia kembali memutuskan mengisolasi seluruh wilayah regional Lombardy (mencakup kota Milan) plus 15 provinsi lainnya di wilayah utara, yang mewakili sekitar seperempat luas teritori Italia, dan dinyatakan berlaku efektif sampai 3 April 2020.

Namun, kebijakan peningkatan wilayah lockdown pada 08 maret 2010 tersebut hanya berlangsung kurang dari 48 jam. Sebab pada 9 Maret 2020, PM Italia akhirnya mengumumkan total lockdown untuk seluruh wilayah Italia, yang dinyatakan berlaku hingga 3 April 2020 (yang hampir pasti akan diperpanjang).

Guna mengantisipasi pelanggaran terhadap kebijakan lockdown, Pemerintah membuat aturan denda: 206 euros (sekitar Rp3,3 juta) bagi yang melanggar. Tapi ancaman denda itu ternyata belum efektif juga, masih banyak yang melanggar. 

Akhirnya, pada Selasa 24 Maret 2020, Pemerintah Italia kembali mengumumkan denda baru: dari 400 (empat ratus) sampai 3.000 (tiga ribu) euros atau sekitar (Rp6,4 juta sampai Rp50 juta) bagi yang melanggar peraturan pembatasan mobilitas warga. Kebijakan berjenjang seperti ini menunjukkan adanya ketidakpatuhan warga dalam mengikuti peraturan lockdown.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun