Mohon tunggu...
syarifuddin abdullah
syarifuddin abdullah Mohon Tunggu... Penikmat Seni dan Perjalanan

Ya Allah, anugerahilah kami kesehatan dan niat ikhlas untuk membagi kebaikan

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Di Basilika yang Menyimpan Percikan Darah Jesus

20 Juli 2019   15:06 Diperbarui: 20 Juli 2019   15:35 0 7 3 Mohon Tunggu...
Di Basilika yang Menyimpan Percikan Darah Jesus
Dokumen pribadi, dipotret dari brosur Basilica of the Holy Blood di Brugee, Belgia pada 6 Juli 2019.

Dari seorang teman, pada sebuah diner di akhir Juni 2019 di Den Haag, saya mendengar cerita tentang gereja kuno Katholik di Belgia, yang dipercaya menyimpan relik berupa guntingan pakaian yang penuh bercak darah Jesus. Tepatnya, di Basilica of the Holy Blood di Brugee, kota yang terletak dekat dengan perbatasan Belanda-Belgia, dan berjarak sekitar 130 km ke arah barat daya dari Den Haag.

Sekitar seminggu kemudian, di akhir pekan awal Juli 2019, saya meluangkan waktu untuk berkunjung ke Brugee dengan agenda tunggal: melihat relik yang ada bercak darah Jesus itu.

Sebelum melihatnya dengan mata kepala sendiri, saya sengaja untuk tidak mencari tahu lebih dulu dari berbagai sumber media online tentang Basilica of the Holy Blood dan juga relik percikan darah Jesus itu. Tujuannya untuk dapat merasakan sentuhan alaminya.

Setiba di alun-alun di depan Basilika, saya perhatikan sudah banyak orang/turis mengantri di tangga yang menuju ke lantai dua Basilika. Berdasarkan brosur yang diletakkan di depan Basilika, relik bercak darah Jesus itu disimpan di lantai dua. Saya ikut mengantri. Di depan saya mengular antrian sekitar 100 orang.

Ketika berdiri persis di depan pintu utama gereja di lantai dua, pada jarak belasan meter dari semacam panggung tempat di mana relik itu diletakkan, mata pengunjung lebih dulu akan langsung berhadapan dengan altar di bagian kiri, yang dinding depan dan samping kiri-kanannya penuh dengan lukisan-lukisan spritual yang lazim ditemukan di gereja-geraja.

Biar teratur dan tidak saling menerobos, antrian pengunjung dijaga dan diatur oleh dua lelaki petugas gereja. Lalu dari jarak sekitar 10 meter menuju relik itu, saya perhatikan setiap pengunjung hanya diberi waktu kurang dari satu menit untuk mengamati relik bercak darah Jesus itu, yang dijaga oleh seorang pastor.

Ketika akhirnya saya tiba persis di depan relik itu, saya mengamatinya penuh perhatian dari jarak sekitar 50 centimeter: tampak seperti guntingan kain yang dilipat kecil, penuh percikan atau bintik-bintik darah berwarna merah, yang disimpan rapi dalam tabung tembus pandang berukuran panjang sekitar 25 centimeter dan berdiameter sekitar 8 centimeter. Dan tabung itu hanya bisa dilihat, tak bisa disentuh, karena tersimpan lagi di dalam lemari kaca. Pengunjung juga tak diperkenankan mengambil gambar video ataupun audio.

Dalam perjalanan pulang, barulah saya mencoba membaca berbagai sumber online: Basilica of the Holy Blood itu dibangun pada periode tahun 1134 sampai 1157. Ini periode awal Perang Salib. Dikisahkan bahwa relik darah Jesus itu dibawa dari Tanah Suci Jerusalem oleh Thierry of Alsce, Bangsawan Flanders (Count of Flanders), yang ikut dalam ekspedisi kedua Perang Salib dari Eropa pada tahun 1147 dan kembali ke Brugee pada tahun 1150.

Beberapa hari kemudian, setelah kembali ke Den Haag, saya bercerita tentang kunjungan ke Basilica of the Holy Blood kepada seorang teman Katholik. Saya cukup kaget bahwa teman yang Katholik itu mengaku belum pernah berkunjung ke Basilika itu apalagi melihat relik bercak darah Jesus, meskipun ia telah bermukim di Belanda lebih dari 20 tahun dan puluhan kali telah berkunjung ke Belgia.

Syarifuddin Abdullah | 20 Juli 2019/ 17 Dzul-qa'dah 1440H