Mohon tunggu...
Ryan Perdana
Ryan Perdana Mohon Tunggu... Administrasi - Pembaca dan Penulis

Kunjungi saya di www.ryanperdana.com dan twitter @ruaien

Selanjutnya

Tutup

Music Pilihan

Orang Tua Kita dan Lagu-lagu Favoritnya

21 Januari 2019   10:49 Diperbarui: 21 Januari 2019   15:53 288
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Musik. Sumber ilustrasi: PIXABAY/Free-photos

Musik ialah perkara yang tidak akan pernah dapat dijauhkan dari hidup kita. Lagu-lagu selalu menghiasi setiap aktivitas sehari-hari, baik yang sengaja dimainkan atau terdengar sepintas dari segenap sudut sekitar.

Bahkan, jika definisi musik diperluas sampai ke wilayah apapun bunyi-bunyian, maka derap kaki, desau angin, dan ketukan di pintu akan termasuk di dalamnya. Semakin susahlah kita menghindar.

Musik memang tidak untuk dihindari. Musik ada untuk dinikmati, dihayati, dan dikaji. Baru-baru ini terdapat artikel di tirto.id yang mengkaji hasil survei yang dilakukan oleh penyedia layanan streaming musik, Deezer. Survei tersebut mendapatkan kesimpulan bahwa pendengar musik berhenti mencari musik baru rata-rata di usia 30 tahun.

Berhentinya pencarian terhadap musik baru disebut sebagai paralisis musikal, atau dalam istilah awam dapat disebut sebagai kelumpuhan musikal. Fenomena itu disebabkan oleh beberapa hal.

***

Saya penikmat musik yang sudah sampai pada taraf "can't live without". Saya bekerja harus diiringi musik. Tulisan ini pun saya ketik dengan latar lagu Rendy Pandugo, Bryan Adams, dan Voodoo.

Seperti terbahas di tulisan sebelumnya (Perjalanan Karierku sebagai Gitaris), saya dibesarkan oleh orang tua penikmat musik. Maka saya pun tumbuh sebagai sosok yang sangat tertarik pada musik dan terus berusaha mengikuti kebaruan musik yang beredar.

Balita bernama ryan akan langsung bangun makjenggirat saat menangkap lagu Untukmu milik Tito Sumarsono di telinganya. Pun, Cintamu T'lah Berlalu-nya Koes Plus yang di-recycle Chrisye sampai sekarang masih terkenang sebagai penanda kenangan saat Bapak lari-lari menuju mobil pertamanya yang terparkir di parkiran pusat perbelanjaan di Semarang yang terbakar di awal 90-an.

Yang ingin saya katakan, sejak kecil, selain diberi bubur Promina dan Sun, saya juga dijejali beragam jenis musik. Alhasil, tingkat kepentingan musik bagi saya sudah setingkat di bawah udara, air, dan mendoan.

Mulai SMP sampai awal kuliah, saya rutin membeli kaset, baik dengan menabung atau mengharap belas kasihan Bapak. Setelah era mp3 mulai merajalela di sekitar 2007, kegiatan memperbarui referensi musik berubah menjadi beli mp3 bajakan, meng-copy dari teman, dan mengunduh dari internet secara ilegal.

Saat era internet semakin menelusup ke tiap titik terkecil hidup kita, musik dapat terus terbarukan melalui aplikasi streaming seperti Joox, Spotify, Deezer, dan sebagainya. Di ponsel pintar saya terpasang Joox dan Spotify.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Music Selengkapnya
Lihat Music Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun