Mohon tunggu...
Rullysyah
Rullysyah Mohon Tunggu... Wiraswasta - Penulis

Belajar dan Berbagi

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Bila Teori "Surinc Passed" Benar, Jokowi akan Kalah di Pilpres 2019

22 Maret 2019   08:41 Diperbarui: 23 Maret 2019   19:18 9057
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sudah hampir  10 tahun menulis artikel di Kompasiana membuat  banyak  pembaca yang bertanya tentang siapa saya sebenarnya.   Banyak yang berpikir bahwa saya adalah Pengamat Politik.  Tentu saja itu salah.  Sebenarnya saya ini bukan siapa-siapa melainkan hanyalah masyarakat pemerhati masalah social, politik dan demokrasi.

Kebetulan saja  dulu  tahun 2012 Prediksi  yang saya buat  untuk  Pilgub DKI  cukup tepat hasilnya. Begitu juga dengan Prediksi saya di Pilpres 2014 cukup tepat sehingga banyak orang yang menganggap saya sebagai Pengamat Politik. Padahal semua  itu hanyalah kebetulan  belaka  karena latar belakang   pernah kuliah di Fakultas Matematika  sehingga  sudah terbiasa  mengutak-ngatik angka.

Pada momen Pilgub DKI 2012 Putaran Kedua  sebuah Prediksi yang saya tulis di artikel saya : Jokowi-Ahok  54,28% dan Foke-Nara 45,72% dan hasil KPUD DKI  adalah Jokowi-Ahok 53,82 dan  Foke-Nara 46,18%. Jadi prediksi saya meleset 0,46 %. 

Sementara untuk Pilpres 2014 dalam artikel  tanggal 7 Juli 2014, saya menuliskan prediksi untuk Jokowi-JK 53,69% dan  Prabowo-Hatta 46,31%  dan hasil KPU waktu itu adalah Jokowi-JK :53,15% dan  Prabowo-Hatta 46,85%.  itu artinya prediksi saya  meleset 0,54%.

Dalam kedua artikel prediksi tersebut saya menggunakan basis data Survey Elektabilitas dari berbagai lembaga survey dan mengolah angka-angkanya menjadi sebuah prediksi. 

Saya menyebut teori yang saya gunakan itu sebagai  "Teori Proporsi Pemilih".  Teori ini mengabaikan angka Undecided Voters dimana angka Undecided Voters  kemudian saya proporsikan (dibagi secara proporsional ) kepada  kedua kandidat.

Saya menamai seperti itu karena saya bukan pakar Survey ataupun  Pakar Politik sehingga memang tidak tahu istilahnya. Dan kemarin ternyata saya baru paham bahwa teori yang saya pakai d itahun 2012-2014  itu disebut juga oleh Litbang Kompas sebagai "Extrapolasi Elektabilitas".

Baiklah kita tinggalkan dulu soal teori itu. Teori itu mungkin sangat layak dipakai untuk memprediksi hasil Pemilu ataupun Pilkada.  Berikutnya saya ingin mengajak pembaca untuk menelaah  soal Potensi Melesetnya Hasil Survey Lembaga Survey di Pilpres 2019.

Tapi sebelum itu saya jelaskan sedikit tentang sebuah teori  lagi yang  baru saja saya temukan dalam beberapa hari terakhir ini. Silahkan disimak dan silahkan disanggah di kolom komentar kalau anda menyimpulkan teori ini salah.

BENARKAH SETIAP SURVEY PILKADA UNTUK  KONTESTAN INCUMBENT PASTI MELESET?

Mungkin pembaca setia Kompasiana sudah hapal dengan kalimat-kalimat saya dalam banyak artikel yang sudah saya publish dalam sebulan terakhir ini.  Bahwa saya meragukan Hasil-hasil Survey Pilpres 2019 yang sudah ada.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun