Rumi Silitonga
Rumi Silitonga Guru

Menulis itu fun, gak bayar dan bisa mengekspresikan isi hati lewat tulisan bahkan 'isi hati' lingkungan di mana pun saya berada. writing will calm your mind n attitude

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Kekuatan Ketulusan

12 Januari 2018   20:58 Diperbarui: 12 Januari 2018   21:13 241 0 0
Kekuatan Ketulusan
img-20171103-140931-5a58c28c16835f0be51bf282.jpg

Berpikir penuh pertimbangan sebelum berbuat kebaikan? Mahfun saja sampai akhirnya selesai dengan membaca artikel ini, dan pikiran kita akan berubah- setidaknya menyoal sebuah konsep; dasar pemikiran. Memberi atau melakukan hal baik tentu saja berdasar.

Jika saya memberi saya dapat apa? Setelah memberi apa yang terjadi? Itu pikiran usang. Namun demikian tetap juga harus tertanam dalam pikiran kita  tentang tuntutan  professional  dalam  dunia kerja.  

Diminta  bekerja tanpa dibayar namun jasa  kita dikomersilkan,  itu  gegabah   atau   tak pintar  membedakan   situasi.   Dimintai   tolong  untuk  mengerjakan sesuatu malah justru disalahgunakan. Untuk membedakan pemberian tanpa pamrih-tulus dan kewajiban-hak perlu kebijaksanaan.

Kurang bijaksana? Mintalah pada sumbernya-Sang khalik. Tak akan ada orang yang berkekurangan hikmat jika meminta pada sumber yang benar. Alih-alih belajar menikmati proses menjadi bijaksana, banyak orang gemar mencari jalan pintas dengan pergi ke orang pintar.

Buah memberi dengan tulus, tak ada iri dan dengki meski orang lain yang diuntungkan selalu saja manis. Dalam hal memberi dengan tulus buang jauh-jauh pikiran apa yang kita dapat. 

Hanya berfokuslah pada satu hal memberi untuk orang lain yang memang bisa kita lakukan titik. Ingat bukan dalam hal berkaitan dengan hak dan kewajiban ikatan pekerjaan. Ketulusan kita tak pernah tak dibayar  Sang Pencipta. Tak ada ketulusan yang  luput dari pandanganNya.

Memberi dengan  tulus subyek utamanya adalah orang lain bukan kita- bukan kepentingan dan demi kebahagiaan kita. Memberi artinya mengeluarkan apa yang berharga dari kita; milik kita untuk dimiliki orang lain. Memberilah sedapat mungkin terlebih bagi orang yang benar-benar membutuhkan dan tak dapat membalas apa yang kita perbuat.

Memberi, melepaskan apa yang kita miliki juga mengajarkan kita untuk menyadari bahwa apa yang kita miliki bukan hanya kita habiskan untuk diri sendiri. Sungguh sangat egois dan kerdilnya kita jika hanya memperhatikan kepentingan diri sendiri. Bahkan binatang saja masih saling membantu. Bukan saja membantu sesama binatang namun sesama mahkluk hidup. 

Beberapa waktu lalu ramai dibicarakan orang di mana seekor gorila menyelamatkan balita yang masuk ke kandangnya di sebuah kebun binatang. Jika binatang yang memiliki insting dapat berbuat sebuah ketulusan, terlebih kita yang memiliki akal dan budi?

Jika belum merasakan indahnya berbuat baik bagi orang lain, mulailah melakukannya. Terlebih pentig adalah mengingatkan diri sendiri agar berbuat baik bagi orang lain sebagai gaya hidup. Sebagai manusia kita menjadi berarti ketika kita dapat melakukan sesuatu hal bagi orang lain. Inilah perbuatan welas asih yang nyata, bukah  hanya sekadar ucapan belaka.

Tak perlu menjadi besar, sukses dan mendapat ratusan atribut lain sebagai syarat untuk kita dapat berbuat sesuatu yang penuh ketulusan. Mulailah dari sekarang bahkan dari hal kecil sekalipun, memberi semangat pada orang yang hilang asa. 

Kemudian ia pun mulai semangat lalu kita dapat apa? Menolong teman yang sedang membutuhkan ide segar untuk usahanya. Sepertinya tak lazim, namun jangan mau dipermainkan oleh sebuah hasil; upah; balasan yang berbentuk fisik saja. 

Dengan memberi saat itu pula kita belajar untuk tidak egois, sebab kodrat kita adalah manusia sosial. Kita tidak dapat hidup sendiri, kita perlu saling- dalam hal positif dan membangun diri. Saling menolong, saling mendukung dan saling menghargai. (Rumi)