Mohon tunggu...
V Quiserto
V Quiserto Mohon Tunggu... wiraswasta -

Mengelola Blog Keuangan: http://www.duwitmu.com\r\n\r\n"Writing and sharing is my stress-relieve". Saya seorang ex-banker yang hobby menulis soal keuangan keluarga.\r\n\r\nDosen Manajemen Risiko, MM Atmajaya

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Membangun Manajemen Risiko Perbankan, Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan

14 November 2014   06:39 Diperbarui: 5 September 2015   23:59 2149
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

 

Meskipun begitu, sejumlah tantangan perlu diantisipasi BI, yaitu:

 

Pertama, perhitungan modal masih menggunakan pendekatan standard (standardized approach) dimana penetapan berapa prosentase modal yang perlu disediakan untuk setiap kategori asset adalah sama untuk semua bank. Padahal, kita tahu bahwa kemampuan manajemen risiko antar bank itu berbeda. Jenis pinjaman yang sama mungkin punya kemungkinan gagal bayar (default rate) yang berbeda  antar bank karena cara mengelola risiko di masing – masing bank yang tidak sama.

 

Kedepannya, seiring dengan penerapan Basel II, BI selayaknya mulai berpindah ke internal-rating based (IRB) approach, yang tidak lagi mematok standard yang sama untuk semua bank, tetapi menggunakan patokan sesuai kondisi masing-masing bank. Metode ini akan mencerminkan secara lebih akurat tingkat kesehatan masing- masing bank.

 

Kedua, seiring dengan pendekatan IRB tersebut, bank harus membuat pengukuran risiko dan kebutuhan modal sendiri (internal), bukan lagi dipatok oleh BI. Meskipun ini cara yang lebih ideal dari pendekatan standard sekarang, namun menuntut kecakapan dan kecanggihan infrastruktur bank dalam manajemen risiko. BI harusnya membantu bank membangun infrastruktur manajemen risiko tersebut.

 

1.2 Memperkuat Pengelolaan Risiko Operasional

 

Beberapa waktu lalu, dunia perbankan nasional dikejutkan oleh kasus  pembobolan di sebuah bank swasta besar dengan jumlah cukup fantastis Rp 22 M oleh karyawan internal IT bank tersebut. Kejadian ini mengingatkan kalangan perbankan untuk selalu waspada terhadap risiko operasional, yang mencakup fraud, internal proses, sistem teknologi dan kejadian eskternal.

 

Risiko operasional relatif baru mendapatkan perhatian. Selama ini fokus manajemen risiko adalah risiko kredit dan risiko pasar. Tapi, seiring waktu, ternyata banyak kerugian dalam jumlah masif yang bersumber dari risiko operasional.

 

Mengelola risiko operasional punya  tantangan tersendiri. Pertama, cakupan area risikonya cukup luas. Mulai dari proses internal, sistem teknologi, sumber daya manusia sampai kejadian eksternal. Kedua, kesadaran karyawan bank akan pentingnya risiko operasional masih relatif rendah karena ini sesuatu yang masih baru.

 

Prinsip yang perlu dibangun dalam pengelolaan risiko operasional adalah (1) harus mempertimbangkan cost & benefit , sehingga alokasi resources difokuskan pada hal – hal yang kritikal; (2) risk awareness bahwa semua karyawan bertanggung jawab dan mengelola risiko. Bukan hanya tanggungjawab direktorat Manajemen Risiko dan Internal Audit, tetapi urusan seluruh karyawan.

 

Pengalaman best-practices di negara – negara lain, pengelolaan risiko operasional dilakukan dengan fokus pada dua hal utama, yaitu governance dan assurance.

 

Governance (Tata Kelola) merupakan pembentukan dan pengelolaan atas proses pengambilan keputusan dan struktur tanggung jawab guna membuat manajemen risiko yang efektif.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun