Mohon tunggu...
Roselina Tjiptadinata
Roselina Tjiptadinata Mohon Tunggu... Perencana Keuangan - Bendahara Yayasan Waskita Reiki Pusat Penyembuhan Alami

ikip Padang lahir di Solok,Sumatera Barat 18 Juli 1943

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Di Luar Ramah dan Murah Senyum, Mengapa di Rumah Tidak?

7 Februari 2020   03:44 Diperbarui: 7 Februari 2020   04:09 745
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Humor yang Berisi Sindiran Tajam bagi Para Isteri

Suatu hari saya menyaksikan  tayangan di Youtube, yang dikirim oleh seorang teman di WAG di mana pembawa acaranya adalah seorang Ustad. Sepintas kedengaran seperti cerita lawakan sehingga memancing  gelak tawa dari audience. 

Saya mencoba menulis sesuai apa yang saya masih ingat, yakni menurut Ustad tersebut, "Ibu-ibu kalau keluar rumah, selalu tampil rapi, menarik, serta ramah dan murah senyum. Tapi kalau di rumah? Ibu-ibu pakai daster yang sudah kumal dan mungkin sudah seminggu tidak dicuci. Wajah bagaikan memakai topeng karena dipoles dengan masker atau apa namanya. Tidak ada senyum sama sekali. Padahal di rumah ada suami."

"Jadi berarti, ibu-ibu bersolek bukan untuk suami sendiri, melainkan untuk suami orang. Senyum dan keramah-tamahan itu diperuntukan suami orang lain, bukan untuk suami sendiri!" Dan terdengar suara tertawa berderai dari yang hadir. 

Mulanya saya ikut tertawa mendengar ceramah Ustad tersebut. Tapi setelah dipikir-pikir, benar juga kata Ustad tersebut bahwa memang banyak ibu ibu kalau di rumah jauh dari kerapian, dengan alasan lagi masak atau membersihkan rumah. Tapi lama-kelamaan menjadi kebiasaan bahwa di rumah boleh semaunya dan tidak perlu tampil rapi. Bahkan wajah jauh dari senyum, malahan sering menggerutu.

Ketika suami pulang kerja dan berharap akan disambut istri tercinta dengan senyum manis, ternyata disambut dengan wajah tidak sedap dipandang dan mulai mengerutu. Padahal suami pulang kerja pingin disambut isteri yang sudah rapi dan wajah manis serta senyum .tapi apa yang ditemui justru sosok wanita yang mengerutu.

Terpesona

Waktu kami ke club Senior, saya mengantarkan makanan yang kami bawa ke suami saya untuk dimakan yang sebenarnya tadi sudah dipesan suami tidak perlu diantar biar nanti dia yang jemput. Tapi saya merasa tidak enak kalau suami datang ke tempat saya dan saya mengantar makanan tersebut sambil berbicara dengan senyum supaya memakan makanan tersebut.

Seorang nyonya melihat dan berkata pada suami saya, "Wah saya kagum pada isteri anda. Anda kelihatan happy sekali. Sangat beruntung punya isteri demikian. Saya salah karena mencontoh semua perbuatan ibu saya terhadap ayah saya, ibu tidak pernah melayani ayah semua dilakukan ayah sendiri jadi saya hanya mencontoh apa adanya sesuai dengan yang saya lihat dari kecil hingga dewasa. Dan saya merasa, memang begitulah seharusnya. Setiap kali suami pulang kerja di malam hari, ia mengambil makanan dan makan sendiri. 

Suatu waktu, mungkin karena kecapaian, maka suami minta supaya saya menyediakan makanan buat dirinya. Tapi karena saya malas bangun dari tempat tidur, maka saya jawab ambil sendiri. Termyata suami saya sangat berang dan pergi meninggalkan saya dan saya baru menyesal tapi sudah terlambat.."

Banyak orang lupa bahwa anak-anak merekam semua kejadian yang dialami sejak masih kecil, termasuk apa saja yang dilakukan ibunya terhadap ayahnya. Maka kelak dia juga akan berbuat demikian sesuai dengan contoh yang didapat semenjak kecil terhadap suaminya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun