Mohon tunggu...
Rosari Octavia
Rosari Octavia Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Mahasiswa biasa penyuka Twitter

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Tekno Pilihan

Welcome To TikTok, Media Bagi Budaya Populer di Masa Pandemi

4 Juli 2021   23:51 Diperbarui: 5 Juli 2021   00:17 680
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: theshorthorn.com

Perlawanan yang diberikan pun terlihat dalam dua hal, pertama dalam kebudayaan itu sendiri dan juga dalam hal politik. Seperti kita tahu drama musikal ala opera merupakan salah satu kebudayaan yang dianggap sebagai budaya tinggi yang hanya bisa di akses oleh kelas atas sebagai bentuk budaya yang adiluhung. 

Nada musikal ala opera yang dahulu hanya bisa dinikmati kelompok atas dan di tampilkan di gedung teater kini bisa dinikmati oleh semua orang melalui media sosial Tiktok, tidak hanya dinikmati saja tetapi juga dapat di produksi oleh pengguna media sosial Tiktok lainnya. 

Bisa kita lihat dalam analisis ini bawa sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Fiske  bahwa budaya populer tidaklah murni tetapi diciptakan dari sumber budaya yang bertentanga yaitu budaya tinggi. 

Dan seperti yang dinyatakan oleh McDonald bahwa budaya populer mengaburkan segala macam perbedaan, fenomena ini pun seolah mengaburkan pembeda anatra budaya kelas atas dan budaya kelas bawah karena kini semua bentuk kebudayaan dapat diakses oleh semua kalangan yang mempunyai media sosial.

Bentuk perlawanan lainnya yang bisa kita lihat adalah bentuk perlawanan dalam hal politik. Sebenarnya penggunaan produk kebudayaan sebagai bentuk kritik dan perlawanan sudah ada sejak lama, misalnnya lahirnya Punk sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya dominan atau counter cultur, selanjutnya ada budaya hiphop dan R&B sebagai bentuk budaya perlawanan kelompok kulit hitam. 

Di Indonesia sendiri penggunaan musik sebagai sarana perlawanan berupa kritik sudah ada salah satu yang paling kita kenal adalah Iwan Fals. Lirik yang dibuat oleh para content creator tiktok sangat menunjukkan kritik dan perlawanan pada pemerintah Indonesia mengenai praktik KKN yang masih terus terjadi dikalangan pejabat.

Sebenarnya media sosial sendiri adalah bentuk penanding dari media konvensional yang kita kenal, seperti radio, tv dan media massa. Bila media konvensional biasannya hanya memproduksi kebudayaan populer dari perusahaan-perusahaan saja, kini media sosial telah menjadi media untuk memproduksi dan menyebarkan kebudayaan populer lainnya hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yofiendi dan Faiz[2] (2020:103) yang mengatakan bahwa Media sosial memberikan konsep baru dalam praktek budaya populer. 

Menurt penelitian yang dilakukan oleh Ropingi dan Prima (2018:26)[3] menunjukan peran dari media sosial Pertama, media sosial dimanfaatkan oleh berbagai lapisan sosial masyarakat untuk penyebaran informasi , sosialisasi, ekspresi diri, dan hiburan. 

Kedua, sebagai sarana mengisi ruang publik dengan diskusi mengenai isu aktual menyangkut kepentingan umum, politik dan permasalahan sosial. 

Ketiga, bagian dari perkembangan budaya pop  menjadi sarana penyemai gagasan, ekspresi diri serta menjadi bagian dari komodifikasi pesan. 

Dari ulasan penggunaan Trend video tiktik welcom to Indonesia bisa kita lihat bahwa Tiktok telah menjadi sarana penyemai gagasan dan ekspresi diri dalam kasus ini dengan mengangkat kekecewaan kemarahan dan kekecewaan terhadap isu sosial yaitu pemerintah yang korup melalui lagu dan video.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya
Lihat Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun