Travel Artikel Utama

Sebelas Hari "Terperangkap" di GBK

13 Juli 2018   21:16 Diperbarui: 14 Juli 2018   18:08 1781 0 0
Sebelas Hari "Terperangkap" di GBK
Sumber ilustrasi: Antara Foto | ABDUL MALIK

"Chuck, gelem ngancani aku njogo stand buku neng GBK?" (Chuck, mau nemenin aku jaga stand buku di GBK?)
"Pirang ndino, Suf?" (Berapa hari, Suf)
"10 hari," ujar Yosef, "Tapi nanti dihitung 11 hari, karena sehari sebelum acara kita menata stand. Sama kantorku, perhari dirimu dibayar 100 ribu. Gelem ra?"
"Wis gelem." (Ya, mau.)
"Pikiren sik. Wektune ijek suwe." (Dipikir dulu. Masih lama kok.)
"Halaah, pokokmen gelem. Ra masalah 100 ewu sedino. Mangkat!" (Halah, pokoknya iya. Gak masalah 100 ribu sehari, berangkat!)

Tawaran itu langsung aku samber. Ini kali pertama job yang aku dapatkan berhubungan dengan dunia buku.

Ternyata ada penyebab kenapa job itu sampai ke aku. Yosef Effendi bercerita, biasanya teman sekantornya yang mendapat jatah. Sudah beberapa kali pameran mereka berdua siap mengawal stand. Tapi sejak kasus kehilangan laptop di pameran sebelumnya, temannya tersebut wegah. Trauma. 

Jadi, namanya musibah itu tidak pilih-pilih momen. Saya pikir, embel-embel Islam di event tersebut menjadi jaminan bahwa event tersebut nirkejahatan. Tapi ya sudahlah, pasti ada hikmah di balik sebuah peristiwa. Akhirnya Yosef merekomendasikan diriku ke bosnya. O iya, pembaca pasti mikir, nama temen saya Yosef Effendi, tapi kok manggilnya Suf? Itu panggilan dah lama dan paten. Kami pikir namanya Yusuf, ternyata di KTP bernama Yosef.

Apakah pembaca juga pernah mendengar atau mengetahui sebuah kalimat "Apa yang kita dapatkan saat ini, sebenarnya sudah kita pikirkan jauh-jauh hari" hubungannya dengan job ini, bahwa dulu pernah terlintas dipikiranku, Kapan ya sekali-kali jadi penjaga stand buku? Dan ternyata Allah SWT mengabulkan asaku.

"Chuck, bosku kepingin ketemu dirimu."
"Ok, siap!"

Bertemu dengannya merupakan interview singkat. Selanjutnya saya panggil bos W. Ternyata bos W itu dulu pernah tinggal sekampung denganku. Dia di ujung barat kampung, saya di ujung timur. Saya tidak begitu mengenal, karena mainku kerap di seberang. Darinya keluar beberapa penjelasan tentang seluk beluk pameran buku. Bahkan bos W menguatkan agar jangan mudah terkesima oleh penampilan seseorang.

Sebab, dari pengalamannya berkecimbung di dunia penerbitan, dirinya-dalam hal ini kantornya-beberapa kali terperdaya oleh pemesan yang hilang tanpa diketahui rimbanya-tidak bayar. Padahal tutur kata serta penampilannya meyakinkan. Mencari orang yang bisa dipercaya serta jujur sungguh sulit, itu ungkapan bos W. Kalimat tersebut seperti todongan laras panjang kepadaku. Tenang bos, Yosef sudah tahu rekam jejakku. Saya akan pegang kepercayaannya.

Keberangkatan telah dijadwalkan. Perjalanan kami berdua dari stasiun Balapan ke Jakarta diangkut oleh KA Argo Dwipangga. Sedang barang-barangnya (buku dan item pendukung) dikirim lewat perusahaan kargo. Sebenarnya, bos W minta kami naik KA Bengawan (kelas Ekonomi), tapi Yosef beralasan, "Bos, kalau naik Bengawan, turunnya tidak di Gambir".

Yosef kepinginnya jangan gonta ganti moda biar mudah serta cepat nyampe di lokasi. Dan benar, ketika turun stasiun Gambir tinggal naik TransJakarta sekali dah sampai ke GBK. Tapi ada alasan lain, kami ingin sesekali menikmati KA kelas eksekutif. Lagian yang bayar kantor.

Setelah berjam-jam di kabin kereta dengan tubuh dibebat selimut karena kedinginan (AC-nya sangar), saya sampai menggigil, padahal pakai jaket dan selimut yang disediakan KA, tibalah kami di suatu subuh. Stasiun Gambir menyambut tanpa ekspresi. Usai berjamaah di musholla stasiun, kami istirahat sebentar. Menunggu Jakarta terang. Karena terang sangat menyenangkan. Kota ini tidak asing bagiku. Antara tahun 1992 sampai 1996 saya pernah tinggal di wilayah bagian timur (Jakarta Timur). Biasa, cari remahan rupiah.

Adalah Islamic Book Fair 2013 yang berlangsung dari tanggal 1 Maret hingga 10 Maret 2013 di Istora Gelora Bung Karno, Senayan. Gelaran ini diklaim terbesar se-Asia Tenggara. Tajuk yang di gaungkan yaitu Menuju Umat Berkarakter Qur'ani.

Stand kami di zona kenanga dengan posisi hampir ke sudut tepatnya berhadapan dengan Stand Pro-U Media Jogja yang sedang mempromosikan buku terbaru karya Salim A Fillah "Menyimak Kicau Merajut Makna". Untuk menarik pengunjung sebuah sangkar burung baru di isi buku digantungkan di depan stand ditingkahi kicauan burung dari sebuah HP yang sekalian dikandangkan.

Kemudian buku karya Fuad Baradja (pemain sinetron Jin Dan Jun) berjudul "Hari Gini Masih Ngerokok.... Apa Kata Dunia" mengisi rak. Bahkan kedua penulis itu turun langsung menyapa, membubuhkan tandatangan di lembar bukunya.

Sebelahan dengan kami toko buku dari Surabaya. Otomatis kumpulane karo arek-arek Surabaya. Karena sebelahan, keakraban mudah terjalin.

Stand kami menyediakan buku-buku Islam hasil terjemahan penulis luar. Walau tidak semuanya, penulis dalam negeri juga kami terbitkan. Ukuran stand kami standar dan hanya sewa satu. Maklum, bukan penerbit besar. Tapi kami bahagia terutama saya. Beberapa peserta mendapat stand luas (apakah mereka memborong beberapa stand lalu dijadikan satu?) Bahkan ada yang mendapatkan 2 stand tapi lain lokasi (mungkin strategi dagang).

Ketika layar resmi berkibar pada Jum'at, 1 Maret 2013, dimulailah "persembahan" untuk menarik pengunjung. Tiap stand memaksimalkan penataan. Beberapa penerbit kelas berat mempunyai posisi stand yang gemerlap. Di antaranya Kompas Gramedia, Republika, Mizan, dan seterusnya. Wajar saja mereka mampu menyedot perhatian, karena selain kondang (siapa sih yang tak kenal mereka?) juga dipercantik pernak pernik serta hamparan buku dengan diskon lumayan.

Di hari pertama masih sepi melambai. Pengunjungnya sih sudah ada. Tapi stand kami belum diserbu. Ada pengunjung yang lihat dari luar, setelah itu permisi (mirip Monopoli,"Hanya Lewat").

Malam menjemput keramaian pun surut. Usai lapak ditutup kami berdua berembuk,

"Suf, kaya'nya letak penempatan buku kita keliru."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4