Mohon tunggu...
Sri Romdhoni Warta Kuncoro
Sri Romdhoni Warta Kuncoro Mohon Tunggu... Buruh - Pendoa

• Manusia Indonesia. • Penyuka bubur kacang ijo dengan santan kental serta roti bakar isi coklat kacang. • Gemar bersepeda dan naik motor menjelajahi lekuk bumi guna menikmati lukisan Tuhan.

Selanjutnya

Tutup

Trip Artikel Utama

Pantai Kalimirah, "Perawan" di Pesisir Wonogiri

22 Mei 2018   22:09 Diperbarui: 23 Mei 2018   04:56 3050
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Petunjuk ke Kalimirah minim, hanya di luar desa. Belak-belok mengandalkan feeling ternyata dapat bisikan hati agar bertanya saja pada penduduk. Terlihat 3 perempuan sedang melakukan aktifitas peladangan. Motor saya matikan. Langkah kaki menuju ke obyek sasaran.

"Kulo nuwun, bu". Mereka sedang membersihkan gulma atau tumbuhan liar yang ada disekitaran tanaman. Wajah separuh baya tampil di rerimbunan daun. Bercaping untuk menangkis sengatan sinar matahari.

"Wonten nopo, mas?"
"Bade tanglet, bu. Pantai Kalimirah niku arah e pundi nggih?"
"Mase saking pundi?"
"Kulo saking Solo"
"Oooo, mase Solo
"
ketiga perempuan itu bergantian memberi petunjuk serta menguatkan agar saya paham dengan keterangan mereka.
"Maturnuwun, bu..."
"Ngatos-atos, mas"
"Oo... nggih"

Dok. Pribadi
Dok. Pribadi
Kembali menempelkan pantat ke jok, sekalian kick stater. Tarik gas... dan menghilang. Disebuah persimpangan desa saya ambil kanan. Tapi ternyata bukan itu jalan ke pantai. Seorang petani tua menyuruh saya berbalik,

"Saking mriki mase lurus-Notok-mangke menggok tengen. Pun, lurus mawon"

"O inggih, pak", balasku.

Kembali pada posisi semula. Jalan makadam memanjang mengular. Beberapa petak tanaman akan kita jumpai sepanjang arah. Ciri khas tanaman peladangan disini adalah kacang tanah, jagung, ketela pohon.

Setelah 2 jam lebih beberapa menit diatas motor-usai melahap tanjakan terakhir-sampai juga pada tujuan. Horizon menjadi pemandangan awal. Dari jauh laut sudah terlihat. Biru langit dan biru laut menciptakan garis batas. Jalan makadam berakhir. Disuguhi kebuntuan, "ke mana masuknya?"

Dok. Pribadi
Dok. Pribadi
Jalan bercor semen hanya sampai disini. Saya celingak celinguk. Ternyata saya alpa pada papan bertulisan 'Parkir Motor Roda Dua'. Mengikuti arah panah dihadapkan pada kondisi jalan yang masih berupa tanah beserta batu karst yang ditata sedemikian rupa. Ada keraguan menyelip.

Posisi jalan menurun. Ah, nekat. Jalan gronjal memaksa saya berhati-hati. Sedikit kesulitan ketika memarkir motor di jalan menurun. Tampak dua motor teronggok ditutupi dedaunan.

"Pasti ini milik penduduk desa sekitar sini", bisikku.

Akhirnya berhasil juga motor saya letakkan berdekatan dengan milik mereka.

Dok. Pribadi
Dok. Pribadi
Udara panas menusuk tajam. Kalau ingin ke pantai harus mengambil jalan setapak. Saya melihat situasi. Ini siang, tapi suasana mencekam.

Betapa tidak, tiba-tiba bulu kuduk saya berdiri. Wah, berat nih. Pandangan mata saya edarkan keseluruh penjuru mata angin. Berdiam diri selonjor di bawah papan-terpahat PANTAI KALIMIRAH. Merinding belum juga surut. Kalau menurut suara hati, pasti ada makhluk astral disekitar lokasiku. Bisa jadi mereka memperhatikanku. Komat kamit baca ayat kursi terus-terusan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun