Mohon tunggu...
Roman Rendusara
Roman Rendusara Mohon Tunggu... Roman Rendusara

Roman Rendusara sebuah nama pena, menghuni kampung Kepi, Desa Rapowawo, Kec. Nangapanda, Ende Flores NTT. Belajar filsafat sambil meneguk ilmu ekonomi di Jakarta. Beberapa kisah tercecer pernah tertuang di media lokal. Tulisan lain di: floreside.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Terapi Air Panas, "Surga" Alami di Soka Boba, Flores

14 November 2016   20:54 Diperbarui: 16 November 2016   11:09 467 13 9 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Terapi Air Panas, "Surga" Alami di Soka Boba, Flores
Pantai menuju Boba di Utaseko, Kec. Golewa Selatan. Foto: Roman Rendusara

Menuju Boba, kampung di sebelah Selatan Kabupaten Ngada, kita tak akan jenuh menikmati panorama alam nan indah. Udara sejuk tersaji apik bersama pemandangan sawah hijau dan menguning menyegarkan mata. Pegunungan menjulang di sisi utara, ditutup hutan menghijau. Di ujung selatan Laut Sawu membentang luas, dengan ombak bergulung-gulung di bibirnya.

Sedalam itulah yang tersaji ketika kita menuju Boba, persis di Desa Kezewea, Kecamatan Golewa Selatan, Kabupaten Ngada, Flores. Ia menyajikan kesan mendalam dan berbeda. Indah dan sejuk. Dan di antara keringat para petaninya, kita menyelami arti sebuah kerja keras dan perjuangan.

Pemandangan sawah nan indah di Desa Kezewea, Kec. Golewa Selatan, Ngada, Flores. Foto: Roman Rendusara
Pemandangan sawah nan indah di Desa Kezewea, Kec. Golewa Selatan, Ngada, Flores. Foto: Roman Rendusara
Perjalanan tidak berhenti di Kezewea. Terus menuju ke arah Barat, mengikuti arah matahari terbenam, dan lewat pinggir pantai, wilayah Boba akan siap menyambut, selepas Wolongizu  barisan pisang beranga siaga sepanjang jalan, disisipi kelapa dan pohon jati. Sesekali disusup tanaman jambu mente.

Daerah penghasil arak berkelas ini mencakup beberapa kampung seperti Boba Baru, Boba Lama, Bozoa, Soka dan Watutedo. Sekian tahun pelosok Ngada yang terdiri dari Desa Boba I, Boba, Watusipi, Wogowela dan Bawarani ini jarang disentuh pembangunan. Jalan raya sudah beraspal, meski beberapa ruas terkelupas oleh usia. Beberapa ruas yang lain masih berupa jalan tanah dengan kerikil berserakan. Terutama di empat kali mati tak didukung jembatan atau gorong-gorong, seperti Kali Boba, Waepana, Lekorajo dan Wae Danga. Batu-batu sebesar kelapa dibiarkan menghalangi jalan di setiap kali mati itu.

Anak-anak SD menyapa dengan ramah. Foto: Roman Rendusara
Anak-anak SD menyapa dengan ramah. Foto: Roman Rendusara
Sepanjang jalan pesisir Boba kita dapat menemui beberapa sekolah dasar seperti SDI Utaseko, SDI Soka, SDK Boba dan SDK Ngedusuba. Satu kekaguman saya, mendengar sapaan ramah anak – anak sepulang sekolah, “Selamat siang, Bapak”, kepada siapa saja yang mereka jumpai di jalan. Hal ini jarang saya temukan di kota besar seperti Jakarta.

Paling menyedihkan, wilayah penghasil pisang ini belum disentuh PLN. Penerangan di malam hari menggunakan lampu pelita dari minyak tanah. Beberapa lembaga dan keluarga memakai genset yang berbatuk-batuk bak nenek tua di belakang rumah dan kantor. Seperti di sebuah kantor lembaga keuangan KSP Kopdit Noregore memakai genset untuk melayani anggota di siang hari. Begitu pula untuk memperlancar pelayanan administratif pemerintahan desa. Bahan bakar genset dibeli dari Kota Bajawa, dua jam lebih waktu tempuhnya. Meski demikian, sinyal telepon seluler penuh di pojok kanan atas layar handpone.

Terlepas dari beberapa remah kue pembangunan yang belum dicicipi, terutama dalam pelayanan kesehatan yang memadai, masyarakat Boba tidak cemas. Tempat pemandian air panas Soka adalah “Rumah Sakit”-nya masyarakat Boba. Kolam pemandian air panas alami ini terletak seratus meter di belakang SDI Soka, desa Boba I. Belum ditakar suhu sesungguhnya, namun dipastikan dapat memasak telur dalam kurun waktu lima menit.

Kolam pemandian dan terapi air panas Soka Boba. Foto: Roman Rendusara
Kolam pemandian dan terapi air panas Soka Boba. Foto: Roman Rendusara
Sore itu (03/11), ditemani Emanuel Manto, saya bertemu dengan pemilik dua pondok Bapak Antonius Buku, di lokasi pemandian Air Panas Soka bersama tokoh masyarakat Boba sekaligus Kepala SDI Soka Bapak Vitalis Bere.

Vitalis Bere menceritakan, air panas Boba bermula dari sebuah legenda. Alkisah, hiduplah dua buah keluarga yang sedang menyusui bayi. Suatu siang, suami mereka sedang pergi ke laut, tak seorang pun tinggal di kampung itu, selain dua ibu yang sedang menyusui. Hingga sore menjelang malam, salah seorang ibu yang menyusui belum memasak, belum menyalakan api di dapur.

Lantaran menurut adat setempat seorang ibu yang menyusui belum diperbolehkan keluar rumah untuk mendapatkan api, maka tak ada jalan lain. Mereka menggunakan seekor anjing untuk mengantar api dari rumah sebelah. Seorang ibu yang menyusui mengikat sepotong kayu yang setengah sudah berbara api pada ekor anjing. Seorang ibu yang menyusui dari rumah sebelah, yang ketiadaan api, memanggil anjing itu. Dan ketika malam tiba, cerita anjing mengantar kayu dengan bara api didengar oleh suami mereka. Mereka tertawa karena merasa lucu. Hingga alam marah dan murka. Kilat dan guntur bergantian. Hujan sangat lebat mengguyur. Tenggelamlah kampung kecil itu dan memunculkan mata air panas.

Pemandangan pantai Boba dari arah Wolongizu. Foto: Roman Rendusara
Pemandangan pantai Boba dari arah Wolongizu. Foto: Roman Rendusara
Bukan hanya atas kepercayaan, kata Vitalis Bere, air panas Soka sudah memberikan banyak bukti kesembuhan terhadap berbagai penyakit, misalnya, penyakit kulit dan stroke. Selain itu, berkat berendam secara teratur beberapa hari dapat menguruskan kegemukan, memperlancar peredaran darah dan memberikan pijat alami yang menyembuhkan.

Pemandian air panas Soka dilengkapi dengan dua pondok penginapan di sekitar lokasi. Penerangan menggunakan genset untuk menyalakan beberapa lampu. Khusus di akhir pekan, pemandian air panas dikunjungi banyak orang, entah sekedar berekreasi hingga dengan tujuan khusus, seperti terapi pijat air panas untuk menyembuhkan berbagai penyakit.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x