Mohon tunggu...
R Sugiarti
R Sugiarti Mohon Tunggu... writerpreneure

writerpreneure, freelance writer, communications consultant, yogini

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Telkomsel Bagi-bagi Kuota Belajar, Operator Lain Kapan Menyusul?

24 Agustus 2020   08:41 Diperbarui: 24 Agustus 2020   08:37 80 10 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Telkomsel Bagi-bagi Kuota Belajar, Operator Lain Kapan Menyusul?
Sebuah meme tentang PJJ - sumber foto: briliantpreschool.com

Salah satu kendala utama pelaksanaan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) selain ketersediaan dukungan gawai adalah ketersediaan kuota untuk mendukung koneksi internet yang diperlukan.Terkait kendala tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional (Kemdikbud) telah mengeluarkan kebijakan berupa subsidi pemberian gawai dan kuota/pulsa di masing-masing lembaga pendidikan dengan memanfaatkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Dus program subsidi ini segera bisa dijalankan oleh masing-masing institusi pendidikan yang ada. Sepanjang pengalaman dan pengetahuan saya, saat ini pihak-pihak sekolah pun telah mendata daftar siswa yang mempunyai keterbatasan kepemilikan gawai dan kuota/pulsa internet.

Pendataan tersebut dilakukan agar subsidi yang digelontorkan benar-benar disalurkan secara tepat sasaran kepada para siswa yang benar-benar membutuhkan.

Tentunya pelaksanaan program subsidi gawai dan kuota internet tersebut akan menghabiskan dana yang sangat besar, mengingat kebutuhan yang berkesinambungan serta banyaknya target yang membutuhkan.

Sementara itu, berseberangan dengan kondisi pemerintah yang kalang-kabut dalam mengatasi kendala penyelenggaraan PJJ kali ini, ada beberapa institusi bisnis yang justru panen keuntungan karena penyelenggaraan PJJ tersebut.

Beberapa diantaranya yaitu perusahaan produsen gawai (hape, ipad, laptop dsb) sebagai  produsen alat utama penunjang PJJ serta perusahaan-perusahaan operator telekomunikasi yang merupakan produsen sarana penunjang utama pelaksanaan PJJ.

Toko-toko hape menorehkan peningkatan penjualan yang cukup besar karena kebutuhan masyarakat pun dengan perusahaan operator telekomunikasi.

Jika kebutuhan pembelian gawai bisa ditunda karena siswa bisa memanfaatkan penggunaan gawai milik orang tua atau saudara lainnya yang memungkinkan, maka kebutuhan untuk pembelian kuota internet justru tak bisa ditunda-tunda lagi.

Fenomena pentingnya pembelian kuota internet ini sampai diceritakan secara memprihatinkan oleh seorang pedagang pulsa.

"Selama beberapa tahun menjual pulsa dan kuota internet, baru kali ini saya mendapatkan uang banyak tetapi isinya kebanyakan uang receh semua. Banyak sekali pemasukan lima ribuan, sepuluh ribuan yang berasal dari siswa-siswa sekolah atau orang tua mereka yang kurang mampu yang katanya untuk belajar online," begitu diceritakan seorang penjual pulsa di Jakarta yang enggan dituliskan identitasnya.

Kebutuhan akan kuota internet bagi siswa kurang mampu itu pulalah yang telah menggerakkan kepedulian berbagai kalangan masyarakat untuk melakukan inisiatif pemberian bantuan.

Tercatat ada warung kopi yang menyediakan wifi gratis, ada pemimpin desa yang berinisiatif menggalang bantuan untuk membuat wifi gratis bersama dan banyak lainnya.

Hanya saja karena sifatnya kolosal maka pemberian bantuan berupa wifi gratis tersebut justru kembali menciptakan kerumunan massa sehingga menyalahi prinsip PJJ sendiri yaitu belajar mandiri dari rumah masing-masing untuk menghindari kerumunan, serta berbahaya karena bisa menciptakan kluster penyebaran virus corona tersendiri.

Padahal sebenarnya salah satu golongan yang paling berpeluang besar untuk memberikan bantuan gawai dan pulsa internet kepada peserta didik yang kekurangan tersebut adalah kalangan produsen gawai dan perusahaan operator telekomunikasi itu sendiri.

Mungkin mereka bisa menyisihkan atau mengalokasikan budget investasi sosial atau corporate social responsibility (CSR) mereka untuk bantuan gawai dan kuota internet tersebut.

Entah karena keterbatasan pengetahuan saya, sayangnya saya melihat belum ada produsen gawai dan perusahaan operator komersial yang melakukan inisiatif kepedulian tersebut. Lagi-lagi yang tergerak hanyalah perusahaan yang terkait dengan pemerintahlah, yaitu Telkomsel yang notabene merupakan perusahaan milik negara atau BUMN.

Jika di awal pelaksanaan sekolah daring atau PJJ dulu, Telkomsel pernah memberikan bantuan kuota gratis untuk akses institusi pembelajaran seperti ruang guru dan lain-lainnya, maka kali ini Telkomsel kembali memberikan bantuan pulsa murah, 10Gb hanya Rp.10,- kepada para peserta didik atau orang tuanya yang membutuhkan.

sumber foto: kangarif.net
sumber foto: kangarif.net
Dipayungi oleh tajuk "paket kuota belajar 10Gb Rp.10,-" Telkomsel memberikan kuota murah untuk menikmati akses layanan ilmupedia dan Conference, seperti Rumah Belajar, Zenius, Quipper, Udemy,  Duolingo, Sekolah.mu, Cakap, Bahaso, Cambridge, AyoBlajar, Zoom, CloudX, UMeetMe, Microsoft Teams, Cisco Webex, Google Meet, Google Classroom, dan paket-paket e-learning kampus dan universitas lainnya.Lalu apa sebenarnya yang disebut Kuota Belajar tersebut?

Kuota Belajar adalah layanan kuota gabungan antara ilmupedia dan Conference yang dapat digunakan untuk mengakses aplikasi atau website edukasi dalam proses belajar mengajar siswa dan guru.

Periode Program Paket Kuota Belajar berlaku dari tanggal 21 Agustus 2020.

Pelanggan yang membutuhkan, dapat menemukan layanan Kuota Belajar pada:
1. Paket Internet 10GB Kuota Belajar Rp10 di MyTelkomsel atau UMB *363*844#.
2. Kartu Perdana 10GB Kuota Belajar Rp10 (hanya berlaku untuk kartu perdana bertanda Kuota Belajar).
3. Paket Renewal 11GB (Kuota Internet 500MB + Kuota Chat 500MB + Kuota Belajar 10GB) Rp5.000 (berlaku untuk sekali pembelian dan dapat diaktifkan oleh nomor kartu perdana bertanda Kuota Belajar).
4. Paket pada kartu perdana InternetMax, UnlimitedMax, dan Paket Internet OMG! dengan tambahan Kuota Belajar sebesar 30GB.

Kabarnya setelah progran kepedulian ini diluncurkan Telkomsel, Indosat pun segera menyusul dengan melakukan hal yang sama.

Bahkan Indosat memberikan paket kuota belajar yang jauh lebih besar meskipun dengan harga yang sedikit lebih mahal. Untuk kuota belajar sebesar 30Gb, Indosat hanya memberikan harga sebesar Rp.5000,-.

Ingin membuktikannya, coba saja dengan mengirim pesan
*123*369# untuk INDOSAT dan
*363*844# untuk TELKOMSEL

Tentu saja program kepedulian ini segera mendapatkan apresiasi positif dari masyarakat. Sayangnya bisa jadi program ini kurang terpakai merata. Pasalnya sudah menjadi rahasia umum bahwa kartu Telkomsel tergolong sebagai kartu premium yang kurang akrab digunakan oleh golongan masyarakat ekonomi lemah.

Kasus heboh bantuan pulsa yang dilakukan oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) beberapa waktu lampau bisa menjadi contohnya. Ternyata janji bantuan kuota sebesar 10Gb yang diwujudkan oleh pengelola UNS dengan pemberian uang Rp.50000,- memicu protes mahasiswa, karena besaran kuota yang didapat oleh pengguna Telkomsel, Indosat, Tri, Smartfren dan XL sangat berbeda-beda besarannya.

Nah, jika sekarang Telkomsel dan Indosat telah menunjukkan kepeduliannya terhadap kelancaran program PJJ yang tengah berlangsung sekarang, tinggal kita tunggu operator telekomunikasi apa lagi yang akan segera menyusul? Tabik.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x