Ekonomi Pilihan

Apa Manfaat dan Bagaimana Prospek Ekonomi Nale di Sumba

9 Maret 2018   07:14 Diperbarui: 9 Maret 2018   07:23 612 3 2

(Hari Selasa 8 Maret, Festival Pasola Sumba putaran kedua tahun 2018 dimulai. Sejak sore 7 Maret dan pagi/malam 8 Maret, masyarakat melaksanakan tradisi Panen Nale/Nyale)

 SEJAK zaman nenek moyang masyarakat di wilayah suku Kodi Kabupaten Sumba Barat Daya dan suku Gaura, Lamboya dan Wanukaka Kabupaten Sumba Barat, merka melaksanakan tradisi Pico Naleatau panen nale di perairan laut sekitar mereka. Kata Nale adalah sebutan dialek orang Kodi atau Nyale adalah sebutan dialek orang Gaura, Lamboya dan Wanukaka. 

Tradisi ini merupakan salah satu "pakem" dari "Prosesi Ritus Nale" yang terstruktur, meliputi yaitu Kabukut (semedi), Kawoking (berpantun adat), Hangapung (sebar sirih-pinang), Pico Nale (panen nale), Pasola/Paholong,dan Tunu Manu Nale (bakar ayam nale).

Tradisi tersebut berlangsung dua kali setiap tahun sesuai dengan gelombang masa waktu munculnya nale. Berdasarkan tata musim bulan adat, dikenal "Tri Bulan Nale". Pertama, Wulla Nale Kiyo, dari pertengahan Desember sampai  pertengahan Januari. Kedua, Wulla Nale Bokolo,dari pertengahan Januari sampai pertengahan Pebruari. 

Pada pertengahan atau minggu ketiga bulan Pebruari inilah dilaksanakan panen nale pertama. Dan Wulla Nale Wallu,dari pertengahan Pebruari sampai pertengahan Maret. Pada pertengahan atau minggu ketiga bulan Maret inilah dilaksanakan panen nale kedua.

Nale yang dipanen tersebut dikonsumsi sebagai bahan lauk yang rasanya sangat lezat, tentu saja setelah diolah. Tentu orang awam akan bertanya-tanya, apakah nale itu? Apakah ada manfaatnya? Dan apakah juga bisa menjadi sesuatu yang mempunyai prospek yang bermanfaat?

Nale adalah Cacing Laut

Berdasarkan pendekatan ilmu biologi, dilihat dari fenotipenya maka jelas bahwa nale adalah makhluk hidup sebangsa cacing laut. Klasifikasi ilmiahnya, termasuk Filum Annelida dalam Kerajaan Animalia. Jenisnya adalah Eunice viridis (cacing palolo) dan Lysidice oele (cacing wawo).

Secara morfologis, nale mempunyai tubuh yang menyerupai cincin atau gelang kecil sehingga seolah-olah beruas. Bisa juga disebut tubuh nale terbagi dalam segmen-segmen. Ukuran besar tubuhnya seperti lidi kecil dan panjangnya sekitar 20 -- 40 cm. Sepintas lalu tidak dapat dibedakan kepala dan ekornya. Kepalanya berbentuk sekop dan ditumbuhi beberapa rambut. Pada sepanjang separuh tubuhnya, terdapat rambut-rambut halus. Warna tubuhnya berbeda-beda. Ada yang merah, ada yang coklat, ada yang biru kehijauan dan ada juga yang hijau lumut.

Habitat atau lingkungan tempat hidup dan berkembang nale adalah pada batu-batuan berlubang atau berongga di daerah pasang surut air laut. Pada area itulah anak-anak nale muncul bertumpuk-tumpuk seolah-olah berselimut kista sehingga menyerupai bola-bola kista ketika tiba siklus waktunya dipanen. Kemudian anak-anak nale itu terurai dan menyebar ke seluruh permukaan air laut karena hempasan pukulan ombak. Pada saat itulah masyarakat memanennya.

Manfaat Nale

Bahwa Nale bermanfaat sebagai bahan lauk yang sangat lezat, kiranya tidak diragukan lagi. Bukan hanya terasa pada lidah orang Sumba tapi juga menjadi rasa lidah orang-orang dari luar Sumba yang sempat mencicipi lauk Nale. "Wow lezatnya, ingin tambah terus. Tak terlupakan. Mau datang lagi," begitulah ungkapan teman-teman dari luar Sumba ketika dijamu dengan lauk Nale dan nasi beras gogo wangi kodi, varietas Pare Wangi Kodi.

Pertanyaannya kemudian adalah apakah Nale mempunyai kandungan gizi? Jangan-jangan Nale hanya sekadar lauk penyedap rasa sesaat saja, lezat dilidah tapi tidak bermanfaat bagi tubuh manusia. Tidak perlu ragu, Nale memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi melebihi telur ayam dan susu sapi. Hasil penelitian Universitas Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, mencatat bahwa kandungan gizi Cacing Wawo, yaitu  protein 43,84 %, kadar lemak 11,57 %, kadar karbohidrat 0,543 %, fosfor 1,17 %, kalsium 1,06 %, magnesium  0,32 %, natrium 1,69 %, kalium 1,24 %, klorida 1,05 %, dan kadar besi 857 ppm.

Kemudian terkait cara pengolahan cacing laut sebelum dikonsumsi, tentu setiap daerah memiliki caranya masing-masing. Jika masyarakat di Lombok dan Kepulauan Raja Ampat, sudah melakukan "loncatan teknologi" pengolahan sampai pada tingkat kripik yang rasanya gurih seperti krispi, maka bagi masyarakat di Sumba masih bersifat a'la kadarnya secara tradisional.

Di kodi misalnya, masyarakat mengolah Nale untuk dijadikan lauk dengan dua cara. Pertama, untuk kebutuhan konsumsi langsung atau dapat bertahan beberapa hari sampai seminggu, Nale dicampur dengan daun kemangi berdaun sempit (kemangi nale), jeruk nipis, bawang dan lombok secukupnya, digoreng atau disangrai dengan santan kelapa yang kental atau kelapa parut. 

Kedua, untuk kebutuhan konsumsi yang dapat bertahan lama, bisa satu tahun bahkan sampai dengan saat Nale baru muncul lagi. Nale yang dicampur dengan daun kemangi berdaun sempit (Royo Ndagha Nale), jeruk nipis, bawang dan lombok secukupnya, disimpan dalam wadah periuk tanah atau ruas bambu dan ditutup rapat-rapat, lalu disimpan secara baik. Sebulan atau dua bulan berikutnya baru diambil untuk dikonsumsi sebagai sambal. Rasanya bisa lebih nikmat dari yang dikonsumsi langsung tadi. Inilah proses fermentasi tradisional a'la kodi yang disebut Habodo atau Nale Habodo.

Prospek Ekonomi Nale

Nale sesungguhnya dapat mempunyai prospek ekonomi bernilai tinggi jika dilakukan input teknologi yang sesuai. Sebagai gambaran yaitu dapat dibuat menjadi kripik yang rasanya krispi atau yang lain. Di cina cacing serupa ini bukan saja sudah biasa dijadikan makanan, tapi juga berfungsi sebagai antibiotik, untuk kekebalan tubuh terhadap penyakit. Kemudian Jepang juga memiliki kebutuhan tersendiri terhadap cacing ini, sejak tahun 2010, Indonesia telah melakukan ekspor cacing laut yang berasal dari perairan Batam.

Gambaran lain, dalam catatan Joko Pamungkas, di Inggris, cacing laut sejenis Nale, yang bernama ilmiah Nereis virens, telah sukses dibudidayakan dan menjadi salah satu komoditi ekspor penggeruk keuntungan yang cukup besar. Cacing tersebut digunakan sebagai pakan alami pada budidaya ikan dan udang karena kandungan proteinnya yang tinggi. 

Nereis virens yang secara alami hanya bisa dipanen setahun sekali pada musim tertentu saja melalui teknik kultur laboratorium yang baik, bisa dipanen satu minggu sekali. Dan sebagai gambaran keuntungan, salah satu eksportir cacing laut Polychaeta di Inggris menjual per 1 kg basah cacingnya seharga 33 poundsterling, suatu nilai yang kira-kira setara dengan Rp. 594.000.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2