Mohon tunggu...
Imam Rofii
Imam Rofii Mohon Tunggu... Aktivis dan Jurnalis

Mahasiswa Pasca Sarjana Manajemen Bisnis Universitas Kanjuruhan Malang, Alumnus PAI dan Agroteknologi Unira Malang

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Memaknai Bakar Sate Qurban dalam Rasa Kebersamaan

13 Agustus 2019   23:43 Diperbarui: 13 Agustus 2019   23:49 0 12 9 Mohon Tunggu...
Memaknai Bakar Sate Qurban dalam Rasa Kebersamaan
Dok. Pribadi

Hari Raya Qurban telah datang, selain shalat ied ada hal lain yang ditunggu umat muslim dunia. Yakni penyembelihan hewan qurban. Hari kemenangan, bagi yang mampu melaksanakan qurban. 

Persembahan kepada yang maha kuasa, inspirasi kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam atas ketaatannya kepada Allah untuk melakukan pengorbanan. Menyembelih sang permata hati, anak semata wayang, Ismail Alaihissalam.

Tak hanya bagi yang berkesempatan melakukan penyembelihan pun bagi mereka yang diberi bagian daging kurban, menjadi bagian dari penerima, hari itu merupakan hari gembira dengan dibagikannya daging kurban secara cuma- cuma.

Berdasarkan kategorinya secara umum ada tiga kelompok penerima daging kurban. Seperti dikatakan Bincang Syar'ah. Com

Pertama, orang yang berkurban dan keluarganya. Orang yang berkurban dan keluarganya dianjurkan untuk makan sebagian daging hewan kurbannya. Hal ini karena Nabi Saw. pernah makan dari daging hewan kurbannya sendiri.

Disebutkan dalam hadis riwayat Imam Al-Baihaqi disebutkan,
Rasulullah Saw." Ketika hari Idul Fitri tidak keluar dulu sebelum makan sesuatu. Ketika Idul Adha tidak makan sesuatu hingga beliau kembali ke rumah. Saat kembali, beliau makan hati dari hewan kurbannya."

Kedua, kerabat, teman dan tetangga sekitar. Dalam kitab Alfiqhul Islami wa Adillatuhudisebutkan, bahwa ulama Hanafiyah dan Hanabilah menganjurkan agar sebagian daging hewan kurban dibagikan kepada kerabat, teman dan tetangga sekitar meskipun mereka kaya.


"Dan menghadiahkan sepertiga daging hewan kurban kepada kerabat dan teman-temannya meskipun mereka kaya."

Ketiga, orang fakir dan miskin. Ulama sepakat bahwa fakir miskin berhak menerima daging hewan kurban. Bahkan ulama Hanabilah mengatakan bahwa hukum membagikan sebagian daging hewan kurban kepada fakir miskin adalah wajib.

Hal ini karena Allah memerintahkan untuk memberikan makan kepada orang fakir miskin dari daging hewan kurban, sebagaimana difirmankan dalam dua ayat berikut;

Dalam surah Alhajj ayat 28,

"Makanlah sebagian dari daging kurban dan berikanlah kepada orang fakir."
Juga dalam surah Alhajj ayat 36,

Halnya saya, ikut menikmati bagian daging itu berdasarkan kelompok yang kedua. Saya bukan orang yang berkurban sebagaimana kelompok 1 pun bukan fakir miskin sebagaimana kelompok 3. 

Namun saya adalah kelompok 2, merupakan kerabat atau tetangga orang yang berkorban. Maka ada kebolehan saya menerima bagian daging kurban itu, bahagia tentu saja ketika diberi, senyum terkembang, membayangkan ada menu istimewa untuk dimakan. Ya, menyantap olahan daging kambing merupakan hal yang jarang saya lakukan.

 Berkah hari Raya Idhul Qur'ban,  banyak daging kambing berdatangan,  usai sholat Ied kemarin,  ada 3 panitia penyembelihan daging Qur'ban mengantarkan daging ke rumah. Jika ditotal kurang lebih satu kilogram daging kambing saya terima. Jumlah yang cukup banyak bagi keluarga saya.

Karena sate merupakan salah satu makanan favorit saya maka muncul ide untuk mengolah daging tersebut. Bergegas saya mulai mengambil langkah mewujudkan keinginan, mengolah daging tersebut untuk dijadikan Sate.

Berbeda dengan sate mainstream dipasaran atau dipinggir jalan, dimana mereka menggunakan arang dan tempat khusus untuk membakar, maka saya membuat  sendiri pembakar sate itu dirumah. Dengan alat dan bahan seadanya tapi saya yakin hasilnya lumayan bisa membuat lidah  bergoyang .

Dok. Pribadi
Dok. Pribadi
Maka segera saya menyiapkan langkah-langkahnya,
Pertama,  menyiapkan tungku pemanggang sate yang terbuat dari tumpukan batu bata dengan disusun rapi menyesuaikan panjangnya tusukkan sate.


Kedua,  proses pemberian arang dan api sampai siap untuk memanggang.

Ketiga, mempersiapkan bumbu sate sederhana yang meliputi kacang, garam, bawang merah, cabai, kecap dan ditambah sedikit air.

Keempat, penataan daging kambing dengan ditusukkan ke tusuk sate.

Kelima adalah, pemanggangan dengan disertai perasaan riang gembira.

Keenam, terakhir, sate siap disajikan dan dituangkan bumbu diatasnya sate siap saji dan disantap.

Bukan hanya hasil jadi sate itu yang membuat suasana semarak, kehangatan keluarga menjadi satu poin yang saya garis bawahi. Keponakan, kakak, orang tua, terlibat suka menyaksikan proses pemanggangan.
Dok. Pribadi
Dok. Pribadi
Ada rasa kebersamaan hadir, ada keakraban dalam canda tawa. Rindu ini pada tatapan bahagia mereka. Sesuatu yang rasanya telah cukup lama hilang, mengingat saya jarang pulang. Sebagai mahasiswa semester akhir,  saya biasanya habiskan waktu lebih banyak di luar rumah. Bersama kawan, bersama dosen pembimbing skripsi, bersama laptop menyala semalam penuh.
Maka ketika kesempatan pulang liburan berkumpul dengan keluarga, merayakan Iduladha di rumah, momen itu ternyata sungguh saya rindukan. Keindahan Idul Qurban dalam kebersamaan adalah hal lain yang telah saya dapatkan lebih dari sekedar kegembiraan menerima pembagian daging kurban, atau ketika tusukan sate siap disajikan. Meski tak saya pungkiri, nikmatnya sate itu mampu membuat lidah saya bergoyang.

Mengunyah satu persatu potongan daging sate sungguh nikmat. Ditingkah ulah lucu keponakan menumbuhkan keinginan dan harapan. Semoga tahun depan saya bisa menjadi pihak pertama, yakni orang yang berkurban. Dengan tambahan do a, semoga tahun depan saya bisa pula menikmati acara bakar sate dengan pendamping belahan jiwa. Ahay



Imam Rofi'i|11-08-2019

VIDEO PILIHAN