Mohon tunggu...
Choirul Huda
Choirul Huda Mohon Tunggu... Wiraswasta - Kompasianer sejak 2010

Pencinta wayang, Juventini, Blogger. @roelly87 (www.roelly87.com)

Selanjutnya

Tutup

Catatan Artikel Utama

Tradisi Imlek, Berbagi Rezeki Kepada Sesama yang Kurang Mampu

23 Januari 2012   04:33 Diperbarui: 25 Juni 2015   20:33 447
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

[caption id="attachment_157067" align="aligncenter" width="614" caption="Ratusan warga yang sedang menunggu pembagian sedekah"][/caption] Asap hio bertebaran di segala penjuru, gema lirih doa terdengar dari balik sebuah altar pemujaan. Sementara di luar ruangan, riuh rendah suara anak-anak yang sedang menunggu pemberian angpao. Sepasang Ibu muda yang baru turun dari mobil tampak dikerubuti oleh warga yang meminta sedekah. Dua orang petugas keamanan menyerukan kepada warga untuk tertib dan tetap antre didalam barisan yang dipisahkan tali berwarna hijau. Itulah suasana perayaan Imlek yang terjadi di Wihara (Vihara) Dharma Bakti, di kawasan Pecinan Petak Sembilan Glodok, Jakarta Barat. Menjelang prosesi ritual sembahyang siang nanti, makin banyak saja warga yang berdatangan untuk menunggu pemberian sedekah atau angpao dari pengurus Wihara. Entah itu warga sekitar kawasan Pecinan sendiri, maupun dari berbagai tempat lainnya di Jakarta. Tidak kurang sekitar ratusan orang lebih tumplek menjadi satu, di areal wihara, juga tidak ketinggalan beberapa wartawan dan reporter dari televisi nasional ikut meliput acara sembahyang tersebut. Wihara Dharma Bakti, salah satu yang terbesar dan tertua di Jakarta, memang kerap didatangi oleh warga keturunan Tionghoa untuk melakukan sembahyang sekaligus berderma kepada warga yang kurang mampu. Karena saat Imlek dan juga Cap Go Meh nanti, adalah waktu yang tepat untuk saling mengasihi kepada sesama manusia tanpa membeda-bedakan suatu golongan dan sebagainya. Seperti yang saya tanyakan pada dua orang yang datang dari tempat tinggalnya di kawasan Kebon Jeruk, Taman Sari, Jakarta Barat. Menurut mereka, Imlek itu adalah hari untuk mengucap syukur dan merenungi akan apa yang telah terjadi setahun kemarin sembari berdo'a agar setahun kedepannya dapat hidup lebih baik lagi. Sang Bapak yang terlihat sumringah karena tahun ini usahanya berhasil, berdoa agar di tahun Naga ini situasi ekonomi sekaligus politik dapat lancar dan kondusif. Pernyataan itu langsung diiyakan oleh sang anak yang sedang menyalakan beberapa batang hio serta turut bersamanya sedari pagi tadi. Tepat depan pintu masuk ruangan altar pemujaan, terlihat sosok kakek tua sedang menuliskan sesuatu di lembaran berwarna kuning. Kakek Tua yang bertugas sebagai pencatat tamu, nampak ramah ketika saya ajak untuk mengobrol sejenak. Dengan tangan kiri memainkan pipa rokoknya, beliau pun menerangkan bahwa nanti siang di Wihara Dharma Bakti ini rencananya akan dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo. Menurut beliau, sebelumnya sekitar pukul 13 rencananya juga akan dibagikan sedekah kepada beberapa warga yang telah menunggu subuh tadi bahkan ada yang dari kemarin. Menurutnya lagi tradisi membagikan sedekah kepada beberapa warga yang kurang mampu sudah berjalan sejak lama, sedari beliau kecil pun tradisi seperti itu sudah ada. Dan, memang gaungnya menjadi bertambah kencang, usai perayaan Imlek dibebaskan kembali oleh Almarhum Mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gusdur) dan ditetapkan sebagai hari libur nasional oleh Mantan Presiden Megawati pada tahun 2003 lalu. Semenjak itulah, Wihara Dharma Bhakti dan beberapa Wihara lainnya di kawasan Pecinan, kerap dibanjiri ratusan warga. Saat saya bertanya kepada salah satu warga yang sedang duduk menunggu pembagian sedekah, mereka tampak bersemangat sekali bahkan banyak yang datang bersama keluarga. "Kami dari jam 6 subuh datang kesini Mas, malah ada yang dari semalam sampe nginep segala disini." Ujar salah seorang Bapak menerangkan sembari mengipas-ngipas karena suasana panas yang agak terik. Namun tidak semua dari mereka yang mengantri pembagian sedekah adalah kaum pengemis dan tidak mampu, ada juga yang sekadar ikut-ikutan meramaikan saja sambil berharap mendapatkan sedikit rezeki. Ada yang berprofesi sebagai juru parkir dadakan, ada yang berjualan makanan, juga ada yang ikut menjaga ketertiban selama acara berlangsung. Semoga saat pembagian sedekah, siang nanti dapat berjalan lancar.

*   *   *

[caption id="attachment_157068" align="aligncenter" width="614" caption="Lorong masuk Wihara, berjejer kalangan warga yang kurang mampu"]

1327286866297056732
1327286866297056732
[/caption]

*   *   *

[caption id="attachment_157069" align="aligncenter" width="614" caption="Antrean dengan dibatasi tali"]

1327287246219546443
1327287246219546443
[/caption]

*   *   *

[caption id="attachment_157071" align="aligncenter" width="614" caption="Uang yang akan dibagikan kepada beberapa warga yang kurang mampu"]

13272878981289057469
13272878981289057469
[/caption]

*   *   *

[caption id="attachment_157072" align="aligncenter" width="614" caption="Dua orang Ayah dan Anak sedang menyulut hio"]

13272882971881885913
13272882971881885913
[/caption]

*   *   *

[caption id="attachment_157076" align="aligncenter" width="614" caption="Asap bertebaran dimana-mana"]

1327288542744094771
1327288542744094771
[/caption]

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Catatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun