Mohon tunggu...
Choirul Huda
Choirul Huda Mohon Tunggu...

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Ramadhan, Pamungkas: Antara Sebelum, Saat Bulan Puasa, dan Sesudah Idul Fitri...

4 September 2011   16:33 Diperbarui: 26 Juni 2015   02:14 0 1 0 Mohon Tunggu...

22 Juli 2011 "Ilham..." Teriak beberapa kawannya. "Permisi Bu, Ada Ilhamnya." "Ada, ayo masuk Ded." Jawab Ibu Ilham mempersilahkan masuk teman-teman Ilham "Ilham, ayo kita main. Kurang kaki ne..." (maksudnya kurang orang untuk bermain dimeja judi) "Wah, sorry deh. Gw mau ke Masjid, ada Tabligh Akbar tuh. Lo mau kesana ga?" Jawab Ilham begitu keluar dari kamarnya. "Hah, tumben amat lo, mau nonton ceramah. Ga salah? Lo salah makan obat kali...!" Ujar Ahmad, kawannya menyindir. "He he he, sekali-sekali, tobat kenapa? Udah mau bulan puasa, masak main judi terus. Lagian ntar kayak lebaran tahun kemarin lagi, duit gw ludes. Akhirnya sama lebaran sekali ga megang duit. Kalah maen kyu-kyu..." (permainan seperti domino) "Ah, lo. Sengak... Baru semalam lo ngejablay dipangkalan. Tiba-tiba aja sekarang udah Insyaf..." Pian, kawannya yang satu lagi ikutan menimpali. "Bukan begitu, Pian. Entah kenapa pas gw bangun sore tadi, gw pengen sholat. Mungkin karena sudah mau Ramadhan kali. Lagian dosa gw udah numpuk, sekali-sekali tobat..." Jawab Ilham, mantap dan tegas.

*  *  *

1 Agustus 2011 (pukul 17:57 wib) "Alhamdullilah, hari ini puasanya lancar" Imam berseloroh sambil meneguk segelas es ketimun suri. "Ya iyalah, masak udah gede ga puasa malu atuh..." Jawab adiknya, mengejek. "Iyalah sekarang Aa, mesti kuat puasa. Buat bayar hutang puasa tahun lalu yang banyak bolongnya." "Ntar jangan lupa, abis buka ke Musholla buat Sholat Maghrib. Jangan keterusan makan, ntar kekenyangan akhirnya tidur lagi, ga Sholat Taraweh..." Ibunya Ilham kembali mengingatkan. 2 Agustus 2011 (pukul 00:10 wib) يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون Sayup-sayup terdengar suara Ilham yang sedang mengaji di Musholla. Ia sedang membaca Surah Al-Baqarah ayat 183 yang berbicara tentang kewajiban seorang muslim untuk Berpuasa. Sementara itu dijalan raya,  teman-temannya sedang berlarian akibat diserang kampung sebelah akibat tawuran ribut main bola... (pukul 03:20) "Semoga puasa yang kedua ini Ilham kuat menghadapinya ya, Bu?" "Iya, iya. Kamu harus kuat, apalagi hari ini masuk kerja. Biasanya kalau hari kedua, ketiga dan seterusnya, godaan makin bertambah kuat. Setan-setan pada berkeliaran disiang hari, apalagi warung dekat kantor kamu itu buka..." "Ya, semoga saja Ilham kuat..." Ilham kembali mencoba, meyakinkan diri sendiri. (pukul 19:25) "hmm, ngantuk juga ya. lama juga Sholat Taraweh disini." Ujar Ilham pada seorang kawannya. "Ya, ialah kan dua puluh rakaat. Beda kalau di Masjid sana yang delapan rakaat plus witir. Tapi Imamnya sudah tua semua, bacaannya lambat. Mending disini duapuluh rakaat, tapi bacaanya cepet." Seno Kawannya menjawab. "Lha, emangnya ada gitu yang sebelas rakaat? (plus Sholat Witir)" "Ada lah, Sholat Taraweh kan ada dua pilihan. Tergantung bagaimana Imamnya, mau sebelas atau duapuluh rakaat. Lagian Taraweh kan artinya nyantai, jangan terlalu lama tapi juga ga cepet-cepet banget sih..." Ujar sang kawan, menjelaskan panjang lebar.

*  *  *

15 Agustus 2011 (pukul 17:59 wib) "Wah, enak nih buka puasa sama ketupat ayam." Ilham terlihat bernafsu saat buka puasa. "Ya ialah kan ini sudah malam ke enam belas Ramadhan*." Jawab sang Adik. "Kamu kapan liburnya? Ntar bantuin Ibu bikin nastar ya?" Ibunya ikut buka suara. "Paling tanggal 25, ia deh dibantuin. Tapi ntar jangan lupa, sisain kue kejunya." "Asyik... Aa dapet THR gede, dong... Jangan lupa, bagi-bagi buat beli baju." Adiknya menyahut cepat. Iya, ntar kalo dapat kita pergi Pasar Baru, sekalian Aa juga mau beliin Iqbal (saudara sepupu yang masih kecil) baju Bang Mahdid..." jawabnya mantap.

*  *  *

26 Agustus 2011 (pukul 01:15 wib) "Tadz, (panggilnya kepada Pak Ustadz didaerahnya) cuaca diatas cerah ya, emang kata nabi kalau malam hari cuaca tenang itu adalah malam laitlatul Qadar?" Tanyanya kepada Pak Ustad. "Iya sih, kebetulan ini malam yang ke duapuluh tujuh ya. Kalau menurut Rasullulah, malam Lailatul Qadar itu jatuhnya di malam-malam ganjil. Bisa di malam ke 19, 21, 23, 27, atau juga 29. Makanya kamu mesti tambah rajin baca Qurannya, siapa tahu kamu dapat anugerah malam Lailatul Qadar..." Pak Ustadz yang juga masih muda itu menjelaskan. "kira-kira, ini malamnya bukan?" lanjut Liham lagi. "wah, kalau soal ini malamnya atau bukan, saya sendiri kurang tahu. Sebab yang bisa tahu hanya kita-kita yang memang merasakan bahwa malam ini adalah malam seribu bulan. Terus kamu ngaji sudah mau khatam belum?" Jawab sang Ustad bijak. "Belum, Tadz. Baru aja sampe juz 21, masih banyak lagi. Semoga aja, sebelum Idul Fitri saya dapat khatam Qur-an..." Ilham menjawab dengan keyakinan yang mantap. "Amin..." Pak Ustadz mengiayakan.

*  *  *

29 Agustus 2011 (pukul 19:45 wib) "Ya... Akhirnya besok ga jadi Lebaran, tapi untung juga sih masih sempat buat rapih-rapih rumah sekalian mau dicat." "Iya, Aa. Sekalian besok juga Ima mau pergi ke Pasar Baru lagi, buat beli Mukena." Jawab sang adiknya ketika mereka sedang menyaksikan tayangan langsung di salah satu stasiun televisi tentang sidang Itsbat penentuan 1 Syawal 1432 Hijriah. "Terpaksa, lebaran kita ga makan ketupat lagi..." Sang Ibu menyelak obrolan mereka. Kenapa memangnya Bu? Serempak Ilham dan Ima bertanya. "Sebab kalau dimakan hari Rabu, ketupat Ibu sudah basi. Kan bikinnya aja dari hari minggu yang lalu. Lagian kan, rencananya Lebaran hari selasa, eh ini malah diundur..." Jawab sang Ibu. "Hah" Ilham dan Ima saling bertatapan, bingung.

*  *  *

31 Agustus 2011 (pukul 07:45) "Bu, maafkan Ilham ya Bu. Kalau selama ini Ilham sudah banyak salah..." Ilham terisak lirih saat sungkeman kepada Ibunya. "Iya, sama-sama Nak. Yang terpenting sekarang kamu sudah jauh berubah dibandingkan tahun lalu. Ibu juga minta maaf ya, apabila banyak membuat kamu kecewa." Ibunya berkata dengan bangga. "Ayah, Ilham juga minta maaf." Ilham kembali menangis tersedu-sedu, sewaktu mencium tangan Ayahnya. "Ga apa-apa Nak, kamu sudah dewasa. Puasa kamu juga full sebulan penuh, sekarang kamu harus pertahankan untuk sebelas bulan kedepan..." Ayahnya menjawab dengan senyum. Lalu, setelah usai sungkeman kepada Ibu dan Ayahnya. Ima, adiknya mendatanginya. "Aa, Ima juga minta maaf, selama ini udah banyak ngerepotin Aa. Minta baju lah, minta sepatu lah. Ima benar-benar minta maaf kalau Ima banyak salah ke Aa..." "Ia, Ima. Adikku tersayang, maafin Aa juga ya." Ujar Ilham dengan bahagia. "Ia, Dosa Aa, udah Ima maafin deh. Tapi jangan lupa, Persenannya. THR kemarin kurang tuh..." ^_^

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x