Mohon tunggu...
Rizqi Fadhilah
Rizqi Fadhilah Mohon Tunggu... Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

manusia yang sehat akal dan intuisinya

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Dakwah Refleksi Diri

25 Januari 2021   16:01 Diperbarui: 25 Januari 2021   16:10 84 1 0 Mohon Tunggu...

Ucapan terimakasih saya sampaikan kepada Ibu Anisah yang telah menuntun dan membimbing saya khususnya dan teman-teman pada umumnya di mata kuliah fiqh dakwah selama 14 pertemuan yang tak lengkap pada semester ganjil ini, sepertinya begitu singkat rasanya 14 pertemuan itu, karena terlalu nyaman dengan penyampaian materi dan juga pesan-pesan bu anisah yang sangat hangat selalu mengena di hati para mahasiswanya di kolom chat whatsapp.

Sebenarnya menurut saya pribadi perkuliahan menggunakan whatsapp grup itu dapat mudah dipahami bila disampaikan dengan gaya yang tak biasa seperti di mata kuliah ini dan satu lagi mata kuliah yang saya ambil yaitu psikologi komunikasi, bahasanya sederhana dan dengan contoh-contoh sehingga mudah dipahami, tapi terkadang bagi sebagian mahasiswa merasa kurang bisa "klik" kalo kata bu anisah, mungkin kedepannya bisa diselingi dengan video confrence agar lebih hidup lagi dan membangun suasana. Karena selama pandemi ini kegiatan sosial kita terbatasi, sebagian mahasiswa mungkin merasa sangat kesepian, terutama mahasiswa yang tidak bisa pulang bertemu dengan keluarganya. Maka dengan video confrence bisa mengobati rasa itu.

Fiqh dakwah adalah salah satu mata kuliah yang selalu mengingatkan kita kepada Allah SWT di setiap pertemuan pasti bu anisah selalu menginstruksikan para mahasiswanya untuk senantiasa bersyukur, melururskan niat lagi untuk kembali belajar dan berdakwah, dikala mata kuliah lain yang beberapa membuat jengkel karena dimintai konvirmasi tentang perkuliahan di hari itu, tetapi tak ada respon sedikitpun, dan karena situasi pandemi yang membuat kita sebagian kaum muda merasa depresi karena ambisi yang besar tak diimbangi dengan action yang nyata, 

alhasil hanya bisa scroll-scroll sosial media yang bukannya tambah menghibur malah justru tambah membuat stress dan depresi. Kuliah fiqh dakwah adalah salah satu media muhasabah bagi diri saya, ini jadi momentum yang pas. Pada awal mata kuliah sasaran dakwah kala itu bu anisah berpesan agar selalu melihat keindahan dan keharmonian di sana sini. Biar apa? Biar kita tetap bahagia, karena melihat keindahan dan keharmonian. Seperti tahu betul bahwa kaum muda perlu di support untuk menstabilkan emosinya.

Pada saat materi tentang sasaran dakwah bu anisah memaparkan bahwa sasaran dakwah yang utama adalah diri kita sendiri, dimulai dari diri sendiri kemudian pelan-pelan sembari membesarkan sayap untuk berdakwah ke luar sebisa yang dapat di usahakan oleh diri kita. 

Berdakwah terhadap diri sendiri ini sangatlah penting, saya sendiri selalu menekankan kepada diri saya pribadi saat pandemi ini agar tidak malas-malasan, harus bisa produktif lebih-lebih bisa menghasilkan sebuah karya, tapi ternyata tak semudah yang di bayangkan, awalnya sudah terpikirkan jam sekian akan melakukan ini, jam berikutnya akan melakukan ini, ternyata setelah dilakukan sangat berbeda dengan apa yang direncanakan, lalu saya berpikir saya bermuhasabah, mengintrospeksi diri, saya bertanya kepada diri saya, apa penyebabnya? Bagaimana cara mengatasinya? kenapa itu bisa terjadi?.

Terus bertanya tanya terhadap diri sendiri sambil berdoa supaya diberikan niat yang kuat, hati yang tegar dan lurus, dan pada pertemuan tentang prinsip dakwah sayapun menemukan jawabannya, memang awalnya untuk melakukan hal-hal positif untuk lebih produktif itu banyak mendapatkan halangan-halangan, tapi jika kita melakukannya terus menerus itu akan jadi habbit, akan jadi kebiasaan, 

berarti kuncinya adalah dipaksakan, karena jika tidak dipaksakan kita akan jatuh ke hal-hal yang kurang positif atau hal-hal yang kurang begitu penting, kalau itu terus menerus terjadi maka akan menjadi habbit juga, tetapi habbit yang buruk, padahal tujuan utamanya adalah melakukan hal produktif hal yang positif.

Beberapa teman saya berkeluh kesah di story whatsappnya, salah satunya berkeluh kesah terhadap hidupnya selama pandemi ini dia merasa bahwa dirinya sangat tertinggal dengan teman temannya, teman-temannya sudah bisa melakukan ini itu, sementara dia seperti berjalan di tempat tak berkembang, padahal saya tahu betul dia telah melakukan hal-hal luar biasa, dia telah belajar dan berkembang banyak, hanya saja dia menjadikan orang lain adalah sebagai patokan dirinya, bukan dirinya sendiri, 

lalu saya menasehatinya, coba kamu jadikan dirimu sendiri sebagai patokan, jangan orang lain, maka kamu tidak akan berkeluh kesah, tetapi kamu akan lebih bersyukur atas apa yang kamu capai sendiri, bukan pencapaian orang lain. Karena ini adalah mata  kuliah fiqh dakwah, maka cerita diatas adalah salah satu dakwah yang saya lakukan kepada teman-teman di sekeliling saya, sembari memperbaiki diri untuk berprilaku lebih baik lagi, lagi, lagi dan terus sampai akhir hayat.

Sampai tulisan ini habis saya pikir enak juga mencurahkan semua uneg uneg dan perasaan kedalam bentuk tulisan. Lagi lagi saya ucapkan terimakasih kepada Ibu Anisah yang telah mendampingi kami belajar, dan tak lupa kepada teman-teman semua yang luar biasa supportnya, tak kenal lelah siang malam mengerjakan tugas, semoga kedepannya akan banyak pelajaran pelajaran yang kita dapat (hard skill), terutama pelajaran kehidupan yang tak diajarkan di sekolah manapun, semoga kita selalu di berikan kesehatan dan umur panjang agar saat pandemi ini usai kita bisa bertatap muka dan menebar kasih, Amin....

VIDEO PILIHAN