Mohon tunggu...
Rizki WindaSari
Rizki WindaSari Mohon Tunggu... mahasiswa

Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Penyuluh , Pahlawan yang Tak Kenal Mengeluh

24 Januari 2021   22:20 Diperbarui: 24 Januari 2021   22:36 130 2 0 Mohon Tunggu...

Indonesia merupakan negara yang dikenal sebagai negara agraris yang mengandalkan sektor pertanian baik sebagai sumber mata pencaharian maupun sebagai penopang pembangunan. Selain memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pendapatan nasional Indonesia, sebagian ekspor Indonesia juga berasal dari sektor pertanian, sehingga sektor pertanian mempunyai peranan penting dalam penyerapan tenaga kerja dan penyediaan kebutuhan pangan dan sandang bagi penduduk (Wibowo, 2012).

Salah satu pahlawan pertanian Indonesia adalah penyuluh pertanian.  Keberhasilan pembangunan pertanian bukan hanya ditentukan oleh kondisi sumberdaya pertanian, tetapi juga ditentukan oleh peran penyuluh pertanian yang sangat strategis dan kualitas sumberdaya manusia yang mendukungnya, yaitu SDM (Sumber Daya Manusia) yang menguasai serta mampu memanfaatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengelolaan sumberdaya pertanian secara berkelanjutan.

Penyuluh pertanian merupakan usaha untuk memberikan keterangan, penjelasan, petunjuk, bimbingan, jalan dan arah yang harus ditempuh oleh setiap orang yang berusaha tani agar menaikkan guna, mutu dan nilai produksinya sehingga lebih bermanfaat. Pada prakteknya penyuluhan pertanian adalah suatu sistem pendidikan di luar sekolah (non formal) yang ditujukan kepada petani, dimana mereka belajar sambil berbuat untuk mengetahui dan bisa menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi secara baik. Penyuluhan pertanian dapat juga diartikan sebagai sistem pembelajaran luar sekolah (non formal) untuk para petani dan keluarganya (ibu tani dan petani muda) dengan tujuan agar mereka mau dan mampu, sanggup dan berswadaya meningkatkan kesejahteraan sendiri serta masyarakatnya (Padmanagara, 2012).

Penyuluh pertanian di Indonesia sudah ada sejak zaman penjajahan hingga sekarang. Mulai dari zaman penjajahan belanda, zaman penjajahan jepang sampai dengan zaman kemerdekaan. Penyuluhan zaman penjajahan tahun 1905 lebih berupa pemaksaan-pemaksaan yang dilakukan dalam rangka pelaksanaan “menanam-paksa” atau cultuurstelsel. Peran serta penyuluh semakin diperlukan dalam zaman modern seperti sekarang ini, selain untuk membantu meningkatkan hasil pertanian terutama bahan pangan seperti beras, penyuluh pertanian pun juga harus memotivasi dan ikut serta dalam mensejahterakan para petani. Kesejahteraan sosial ialah suatu tatanan kehidupan dan penghidupan sosial maupun spritual yang diliputi keselamatan, kesusilaan, dan ketentraman lahir dan batin ( Rosmita dan Aslati, 2011).

Peran penyuluh pertanian adalah mengemban tugas dan memberi dorongan kepada petani agar mau mengubah cara berpikir, cara kerja dan cara pertanian yang lebih maju, dengan demikian penyuluh pertanian dalam melaksanakan tugasnya mempunyai peran di antaranya, penyuluh pertanian berperan sebagai pendidik adalah jelas mereka harus mampu meningkatkan pengetahuan-pengetahuan dan wawasan para petani sehingga mereka bisa mendapatkan informasi-informasi yang up to date mengenai perkembangan dan teknik-teknik pertanian. Disinilah seorang petugas penyuluh pertanian harus bisa responsif terhadap perkembangan arus teknologi, sekarang banyak sekali teknologi seperti internet yang menyediakan berbagai jutaan bahkan milyaran informasi yang bisa bermanfaat bagi para peningkatan kesejahteraan para petani.

Peran penyuluh pertanian di Nagari Talu Kecamatan Talamau sudah mengemban tugas dan kewajibannya sebagai penyuluh, hal ini dapat dilihat dari keberhasilan para penyuluh di WKP (Wilayah Kerja Penyuluh) masing-masing.

Menjadi seorang penyuluh bukanlah hal yang mudah, karena penyuluh harus berhadapan langsung dengan petani yang memiliki ilmu dan pola pikir yang berbeda. Suka dan duka yang dijalani oleh penyuluh pertanian salah satunya adalah, jam kerja yang harus siap ditempatkan kapan saja diperlukan, ketika pegawai kantoran masuk jam 08.00 pagi dan pulang jam 16.00 sore, berbeda dengan penyuluh pertanian, harus mengikuti waktu yang disepakati oleh para petani. Tidak jarang para penyuluh harus melakukan penyuluhan pertanian pada siang, sore bahkan pada malam hari sekalipun. kondisi seperti ini memang sudah biasa dikarenakan harus memaklumi kondisi para petani. Biasanya petani yang siap untuk menerima materi penyuluhan disaat sedang santai dan tidak terganggu oleh kegiatan sehari-hari.

Selain itu, tidak semua petani mau dan mampu mengikuti/melaksanakan kebijakan dari penyuluh, Ada petani yang merasa ilmunya lebih tinggi dari pada penyuluh karena sudah lama menjadi seorang petani, ada petani yang merasa terganggu dengan kedatangan penyuluh karena menyita waktu bekerja petani. Penyuluh juga harus memilih bahasa yang mudah untuk dipahami oleh petani. Ada beberapa petani yang relatif susah untuk diajak berdiskusi tentang pertanian, karena beberapa faktor diantaranya, usia petani, pendidikan petani, perilaku petani dan lain sebagainya.

Kegiatan penyuluhan akan berjalan lebih efektif bila sasaran suluh berada pada usia produktif (15-64 tahun). Pada usia ini petani dinilai cukup aktif dalam  kegiatan bertani, dalam usia yang produktif akan lebih responsif dalam menerima inovasi dibandingkan dengan orang yang telah lanjut (Yunasaf dan Tasripin, 2012). Semakin tua umur seseorang (di atas 50 tahun), maka dia akan cenderung sulit menerima inovasi dan lebih memilih untuk mengikuti pola kebiasaan-kebiasaan yang telah dilakukan di masyarakat setempat. Kelompok usia dibawah 40 tahun digolongkan sebagai petani muda, kelompok usia 40-50 tahun digolongkan sebagai petani usia sedang dan kelompok usia 50 ke atas digolongkan sebagai petani usia tua (Manyamsari dan Mujiburrahmad, 2014). Usia para petani yang relatif lebih tua dari pada penyuluh pertanian membuat para penyuluh harus lebih aktif dan pandai mengambil hati para petani. Selain usia, pendidikan juga merupakan salah satu faktor sulitnya petani diajak berdiskusi.

Latar belakang pendidikan petani digolongkan pada seberapa lama petani mengenyam pendidikan formal, di bawah 10 tahun digolongkan sebagai petani berpendidikan dasar, antara 10-12 tahun sebagai petani berpendidikan lanjut dan di atas 12 tahun sebagai petani berpendidikan tinggi, setiap golongan pendidikan akan menetukan kompetensi petani tersebut (Manyamsari dan Mujiburrahmad, 2014). Petani dengan latar belakang pendidikan rendah cenderung tertarik pada informasi-informasi baru yang bersifat praktis. Sedangkan petani yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi (SLTA dan di atasnya) cenderung tidak tertarik pada kegiatan penyuluhan, hal ini karena petani tersebut cenderung memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih berkembang dari materi penyuhan itu sendiri, namun mereka lebih mampu menerima informasi-informasi yang teoritis dan mampu menerapkan ke dalam praktik di lapangan.

Masyarakat dengan pendidikan rendah cenderung mudah menerima metode penyuluhan dengan arus informasi satu arah, mereka lebih memilih untuk hanya menerima informasi dari sumber yang mereka anggap terpercaya. Sedangkan masyarakat dengan tingkat pendidikan yang relatif tinggi cenderung memeilih metode penyuluhan yang bersifat interaktif dan kooperatif, mereka memiliki keinginan untuk mengasah dan mengembangkan informasi yang ada dengan pola fikir kreatif mereka sendiri (Pratomo, 2015). Selain faktor usia dan pendidikan, perilaku petani juga merupakan salah satu faktor sulitnya petani untuk diajak berdiskusi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x