Mohon tunggu...
Rizal Maulana
Rizal Maulana Mohon Tunggu... Lainnya - Pemimpi dari sudut desa

"Jangan melihat dirimu lewat mata orang lain"

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Merdeka 77 Tahun; Sejumlah Persoalan, Cek Pondasi Paling Dasar Keindonesiaan

16 Agustus 2022   14:47 Diperbarui: 16 Agustus 2022   14:54 147 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Proklamasi 1945 (Foto: Dok. Kemedikbud)

Kita akan memperingati Hari Kemerdekaan yang ke 77 Tahun. Diusia kemerdekaan yang sudah tidak muda bangsa ini masih mengalami banyak persoalan. Krisis multidimensi yang kita hadapi saat ini menimbulkan pesimisme sebagian anak bangsa sehingga memilih untuk tidak mau tau. Sebagian lagi memilih untuk masuk kedalam arena namun harus takluk dalam sistem yang sudah ada. Niat melakukan perubahan yang menggebu diawal mesti bernegosiasi dengan berbagai kepentingan untuk tetap eksis. Selain itu juga muncul kelompok-kelompok yang tidak tahu akan melakukan apa, namun mereka beranggapan bahwa semuanya salah dan harus diganti dengan sistem baru, misalnya menggemanya tuntutan khilafah.

Kita memang tidak sedang baik-baik saja bermacam persoalan berbangsa terus menerus datang menumpuk sebagai pekerjaan rumah yang harus diurai. Masih tingginya angka pengangguran, kemiskinan, ketimpangan sosial orang kaya semakin kaya orang miskin semakin miskin, merosotnya akhlak, korupsi yang tidak pernah ada ujungnya dan bermacam persoalan lain terus menjadi berita setiap hari.

Banyaknya persoalan ini menimbulkan tanda tanya besar bagi kita, apa sebenarnya yang salah? Sebagian besar akan menjawab bahwa persoalan dasarnya adalah masalah kepemimpinan. Benarkah masalah kita adalah kepemimpinan, bukankah kita sudah beberapa kali sukses melakukan pemilu lansung yang demokratis. Artinya siapa yang terpilih adalah orang yang ditunjuk oleh sebagian besar rakyat indonesia.

Dari pemilu ke pemilu kita menemukan fakta bahwa sebenarnya persoalan berbangsa tidak pernah diselesaikan dengan tuntas namun menjadi kondisi untuk melakukan janji-janji politik saat pemilu. Kita selalu terpana ketika ada calon presiden misalnya, masyarakat begitu berharap ada perubahan mendasar yang akan dibawa oleh calon yang didukungnya. Kita lupa sebenarnya ada proses sebelum seseorang muncul dipanggung politik ada proses politik dipartai politik yang orang-orangnya itu-itu saja dari dulu. Inilah sebenarnya oligarki, walaupun dalam kenyataan politiknya kadang mereka berbeda terkadang bersama. Sehingga berharap terlalu banyak tidak mungkin dalam sistem politik seperti ini, akan selalu ada tarik menarik kepentingan antar elit politik.

Namun kita tidak akan membahas persoalan politik praktis ini terlalu jauh karena yang ingin kita lakukan adalah mencari titik dimana sebenarnya bangsa ini harus memulai perubahan, karena tidak mungkin lahir pemimpin yang buruk ditengah-tengah masyarakat yang baik atau sebaliknya tidak mungkin lahir pemimpin yang baik ditegah-tengah masyarakat yang buruk. Dasar berpijak yang sebenarnya sudah dirumuskan oleh para pendiri bangsa namun tidak digali lebih dalam sehingga kita berdiri menjadi tidak kokoh. Pondasi dasar itu adalah apa yang terdapat dalam sila pertama yaitu "Ketuhanan Yang Maha Esa".

Apa yang ingin ditegaskan oleh pendiri republik dengan menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama dalam dasar bernegara. Pada dasarnya semua manusia butuh kepercayaan, tidak ada manusia yang benar-benar tidak ada kepercayaan. Kelompok ateis misalnya adalah kelompok yang menolak adanya tuhan, namun tanpa mereka sadari mereka mempercayai paham tersebut dan mengagung-agung tokoh yang mempopulerkan paham tersebut juga melakukan ziarah ke makam-makam mereka.

Ketuhanan adalah sikap bathin yang dimulai dari pemahaman bahwa manusia menyadari dirinya penuh kekurangan kemudian membutuhkan sesuatu yang Maha dari segala sesuatu dan sesuatu itu Esa yaitu satu-satunya tempat bergantung. Sila pertama ini melampaui perbedaan agama-agama yang ada di Indonesia. Bung Karno dalam pidato 1 Juni 1945, menegaskan: "... Marilah kita di dalam Indonesia yang kita susun ini, sesuai dengan itu, menyatakan bahwa prinsip ke-5 daripada Negara kita, ialah Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuhanan yang berbudi pekerti yang luhur, Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain. Hatiku akan berpesta raya, jikalau saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia Merdeka berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa!".

Bung Hatta diakhir-akhir hayatnya coba menjelaskan makna Ketuhanan Yang Maha Esa dalam bukunya Pengertian Pancasila (1978) "Setelah Ketuhanan Yang Maha Esa dijadikan sila pertama tidak lagi sekedar hormat-menghormati agama masing-masing seperti yang disampaikan Bung Karno melainkan menjadi dasar yang memimpin ke jalan kebenaran, keadilan, kebaikan, kejujuran dan persaudaraan. Karena Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengajak manusia murni senantiasa, terdapatlah pasangan yang harmonis antara kelima-lima sila itu. Sebab apa artinya pengertian berpegang kepada dasar Ketuhanan Yang Maha Esa, apabila kita tidak bersedia berbuat dalam praktek hidup menurut sifat-sifat yang dipujikan kepada Tuhan Yang Maha Esa, seperti kasih dan sayang serta adil? Pengakuan kepada dasar Ketuhanan Yang Maha Esa mengajak manusia melaksanakan harmoni di dalam alam, dilakukan terutama dengan jalan memupuk persahabatan dan persaudaraan antara manusia dan bangsa. Pengakuan ini mewajibkan manusia di dalam hidupnya membela kebenaran dengan kelanjutan: menentang segala dusta. Pengakuan itu mewajibkan manusia dalam hidupnya membela keadilan, dengan kelanjutan: menentang atau mencegah kezaliman. Pengakuan itu mewajibkan manusia didalam hidupnya bersifat jujur, dengan kelanjutannya: membasmi kecurangan. Pengakuan itu mewajibkan kepada manusia di dalam hidupnya berlaku suci, dengan kelanjutannya: menentang segala yang kotor, perbuatan maupun keadaan. Pengakuan itu mewajibkan manusia di dalam hidupnya menikmati keindahan, dengan kelanjutannya: melenyapkan segala yang buruk. Semua sifat-sifat itu, yang wajib diamalkan karena mengakui akan berpegang kepada dasar Ketuhanan Yang Maha Esa - menerima bimbingan dari Zat yang sesempurna-sempurnanya, memperkuat kekuatan karakter, melahirkan manusia yang mempunyai rasa tanggungjawab".  

Seluruh persoalan berbangsa hari ini muncul adalah karena ketidakmampuan kita memahami dan menjalankan sila pertama ini. Begitu banyak tuhan-tuhan yang kita sembah hari ini apakah itu namanya uang, jabatan, eksistensi, partai dan banyak lain sebagainya bahkan ulama sekalipun.

Sekiranya sila pertama benar-benar kita jadikan dasar berpijak dalam segala aktivitas tentunya bangsa ini akan tumbuh menjadi bangsa besar nan jaya, cita-cita kemajuannya sejalan dengan cita-cita akhir semua manusia yaitu menuju Tuhan Yang Maha Esa.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan