Politik

Anies Baswedan, Joker Milik Siapa?

10 Agustus 2018   22:51 Diperbarui: 10 Agustus 2018   23:04 489 0 0

Hari ini adalah hari terakhir bagi para kubu peserta kontestasi pemilihan presiden 2018 untuk mendaftarkan calon presiden dan cawapres yang diusungnya. Setelah fase itu dibuka KPU sejak 4 Agustus lalu. .

Bilamana hingga batas hari ini tiba belum ada dua pasang calon yang siap berlomba, maka waktu pendaftaran bisa kembali diulur. Mekanismenya, dua kali tujuh hari,

Mari berharap, agar koalisi parpol, entah dua atau tiga pada akhirnya nanti, cukup arif dan bijaksana. Sehingga, tidak penundaan waktu yang menyita tenaga dan banyak hal lain.

Namun memang, harus diakui, bagi kedua kubu yang tampak saat ini, menentukan calon tidak cukup mudah. Bicara kubu incumbent, kesulitan bukan saja muncul akibat politik identitas yang kian masif.

Tapi juga kritikan terhadap kinerja, capaian di berbagai program prioritas, juga soal kemiskinan, pengangguran, utang asing dan lainnya.

Kesemuanya bagaikan keping logam, bermata dua. Yang membuat jalan bagi petahana menuju pendaftaran masih cukup berliku. Konteks persoalan utamanya tentu seputar sosok cawapres.

Jika di incumbent saja terjadi penggodokan yang sangat riuh terkait itu, apalagi di koalisi tandingan. Boleh jadi, di sana lebih riuh dan complicated persoalannya.

Salah satu bukti keriuhan itu adalah saat akhirnya kubu koalisi dideklarasikan pasangan Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin, serta-merta aktivitas politik digelar kubu penantang. Prabowo  Subianto disebut menemui SBY, Kamis (9/8/2018) petang. Pada saat bersamaan, di Kertanegara, kediamannya, seluruh elite parpol berkumpul.

Sedikit bisa tertangkap, memang keajegan sikap dan pilihan belum tercapai di kubu penantang. Kendati sebelumnya, kubu penantang justru  lebih dulu melakukan tes air dengan melempar nama Wakil Gubernur DKI Sandiaga Uno, sebagai pasangan Prabowo. Sebenarnya, sosok cawapres seperti apa yang dinantikan oleh kelompok penantang?

Benar, sejumlah nama telah disandingkan dengan sang capres penantang, Prabowo. Mereka di antaranya, Gatot Nurmantyo, sang jenderal militer yang dikenal dekat dengan kalangan hijau, lalu AHY yang notabene adalah putra Mankato Demokrat, Sandiaga Uno yang memang merupakan kader Gerindra, dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Namun dari sederet nama tersebut, hanya satu nama yang sesungguhnya menarik perhatian saya. Dia adalah Anies Baswedan. Alasannya mungkin kelewat subjektif dan sederhana. 

Ceritanya begini, sekitar setahun lalu, bahkan sebelum kontestasi demokrasi di DKI berlangsung, seseorang mengatakan kepada saya, betapa Jokowi mencemaskan satu nama yang bakal menjadi rivalnya di 2019. Uniknya, nama itu ternyata adalah Anies.

Ketika itu saya berpikir, apa hebatnya Anies? Bahkan sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan di Kabinet Kerja pun dia dinilai tidak kapabel. Sehingga harus di-resuffle.

Jauh sebelum itu, seorang kawan yang lain bahkan mengatakan, Anies tidak cukup memiliki etika yang baik sebagai profesional. Kawan yang lain juga menyoal kemampuan Anies dalam merealisasikan “orasi-orasinya”.

Namun, belakangan, saya memahami kekhawatiran Jokowi, sebagai incumbent. Potret kedekatan Anies dengan tokoh politisi senior, Jusuf Kalla, adalah salah satu penyebabnya. Apalagi, kedekatan itu nyatanya tak sekadar karena keduanya adalah kader HMI. 

Dalam banyak kesempatan, JK bahkan tak ragu-ragu menyampaikan betapa moncernya kepemimpinan dan sosok Anies. JK bahkan pernah mengatakan, terlalu banyak persamaan dirinya dengan Anies. Sebuah ucapan yang agaknya bukan ditujukan untuk merendahkan diri, tapi sanjungan bagi Anies. 

Jika ditarik lebih ke belakang, tentu belum pupus dari ingatan betapa Anies-Sandi sesungguhnya merupakan pasangan yang diusung last minute dalam Pilkada DKI. Tapi, pasangan itulah yang justru berhasil memenangi kontestasi.  

Oleh karena itulah, sebelum akhirnya Jokowi memilih Ketua MUI Kiai Ma’ruf Amin sebagai pendampingnya, saya menilai sejatinya Anies adalah calon terkuat bila disandingkan dengan petahana. Anies telah membuktikan kemampuannya merangkul kelompok umat, yang jelas-jelas berada di seberang Gubernur DKI ketika itu, Basuki Tjahaja Purnama. 

Kemampuan Anies yang sudah ceto welo-welo itu tentu menjadi amunisi andalah incumbent RI1 yang memang tak kunjung reda didera kesan antiislam. Namun agaknya, situasi petahana menjadi terkunci karena beberapa saat sebelumnya, kubu Prabowo keburu melempar nama Sandiaga Uno sebagai cawapres.

Dalam kondisi itu, menjadi langkah yang blunder, bilamana kubu incumbent memaksa untuk meminang sang gubernur. Yang artinya, sama saja membiarkan Ibu Kota kehilangan langsung kedua leader-nya. Sungguh hal itu bisa dipandang sebagai tindakan yang cenderung tidak bertanggung jawab.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2