Mohon tunggu...
Risma Indah
Risma Indah Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

I'm a Guidance and Counseling student at the State University of Surabaya who has an interest in psychology, education, and social issues. Other than that, I'm also interested in literacy

Selanjutnya

Tutup

Parenting

Anak Punya Kebiasaan Begini, Kira-kira Kenapa?

21 Desember 2022   00:57 Diperbarui: 21 Desember 2022   09:33 254
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dilansir dari salah satu akun tiktok yang mengunggah video seorang anak berusia sekitar lima tahun yang menggesekkan area vital ke benda di sekitarnya, seperti sofa, kasur, dsb. Pemilik akun yang diketahui adalah orang tua si anak menyertakan kalimat di dalam isi video dan memberi caption mengaku bingung mengapa anaknya berperilaku demikian. Sebagai orang tua wajar apabila mendapati anak seperti itu di saat usianya yang masih di bawah umur. 

Namun, bagaimana ilmu psikologi memandang peristiwa ini? bagaimana sebenarnya respon sebagai orang tua?

Sigmund Freud dikenal sebagai salah satu tokoh psikologi yang sangat populer. Teori-teori yang dikembangkan sangat memengaruhi revolusi dunia psikologi. Salah satu teorinya yang sangat populer adalah teori tentang perkembangan kepribadian. Freud dikenal sebagai tokoh psikologi pertama yang berfokus terhadap perkembangan kepribadian. Freud memandang usia 0-5 tahun atau fase pregenital berkontribusi yang mendominasi terhadap pembentukan kepribadian seseorang atau bisa disebut golden age. Freud mengatakan,"the child is the father a man". Dari pendapatnya tersebut, nayris seluruh problematika psikis seseorang di tahap usia selanjutnya dapat digali faktornya pada fase pregenital.

Teori perkembangan Freud ini dimaknai sebagai mengeksplorasi upaya baru untuk mengurangi krisis serta mendapatkan kepuasaan, di mana krisis tersebut bersumber dari empat aspek sebagai berikut.

Pertumbuhan Fisik

Ketika menstruasi dan mimpi basah pertama kali akan menyebabkan transformasi aspek psikologis dan ketentuan baru dari lingkungan, seperti perilaku, cara berbusana, dsb.

Frustasi

Freud berpendapat bahwa individu yang tidak mengalami frustasi, maka tidak akan tumbuh. Hal ini juga berlaku pada anak yang terlalu dimanja tidak akan memiliki rasa tanggung jawab dan mandiri.

Konflik

Terjadinya konflik didasari oleh id, ego, dan superego yang tidak seimbang. Jika individu dapat menyelesaikan konflik pada id, ego, dan superegonya, maka ia mengalami perkembangan yang sehat.

Ancaman

Selain kepuasaan yang di dapatkan terhadap kebutuhan individu, lingkungan juga menjadi sumber ancaman bagi individu. Jika individu dapat menanggulangi ancaman, ia akan mencapai perkembangan yang diinginkan.

Selanjutnya, Freud membagi tahapan perkembangan kepribadian menjadi beberapa tahapan perkembangan seksual yang berpengaruh di tahap perkembangan individu selanjutnya. Menurut Freud beberapa tahap periode model perkembangannya adalah pada tabel berikut.

Tabel Perkembangan Kepribadian Sigmund Freud
Tabel Perkembangan Kepribadian Sigmund Freud

Jadi, berdasarkan tahap perkembangan kepribadian Sigmund Freud, ketika orang tua menemui anaknya berperilaku seperti menggesek-gesekkan area vital ke benda di sekitarnya, seperti sofa, kasur, dsb itu merupakan tahapan yang memang dialami oleh seorang anak atau anak berada pada tahap phalik. Orang tua dapat meresponnya dengan tenang dan tidak langsung memberikan larangan keras pada anak. Meskipun demikian, orang tua juga tidak lantas mengabaikan dan menormalisasi. Perlunya komunikasi antara anak dan orang tua serta pengawasan lebih dari orang tua sangat diperlukan, sebab anak memiliki rasa keingintahuan yang tinggi.

Pada tahap ini, anak sudah bisa diberikan edukasi terkait hal ini dengan memberikan narasi, seperti "bagian tubuh yang ini cuma boleh dipegang sama kamu aja, ya" atau "bagian tubuh ini harus dibersihkan dengan ekstra dan hati-hati ya", dll. Pada tahap ini, orang tua diharapkan menjaga keharmonisan keluarga, ayah dan ibu diharapkan dapat memelihara perannya dalam keluarga, ayah dan ibu memiliki komitmen yang tinggi dalam memanifestasikan nilai-nilai keagamaan yang dianut, dan ayah diharapkan bersikap demokratis, penuh perhatian, memiliki hubungan baik dengan anak, dan jujur.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Parenting Selengkapnya
Lihat Parenting Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun