Mohon tunggu...
Riska Yunita
Riska Yunita Mohon Tunggu... Karyawan Swasta

Be your own kind of beautiful

Selanjutnya

Tutup

Digital Artikel Utama

Dunia Maya dengan Segala Asumsinya

18 Februari 2021   19:41 Diperbarui: 20 Februari 2021   17:30 372 20 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dunia Maya dengan Segala Asumsinya
ilustrasi orang-orang yang main media sosial. (sumber: unsplash.com/@camstejim)

Pasti pernah diantara kita, ketika melihat beranda dari teman, kerabat, saudara atau bahkan orang yang tak kita kenal di media sosial kemudian kita akhirnya memberikan sebuah 'nilai' pada mereka.

"Wah sering banget ya liburan keluar negeri. Tempat makannya fancy-fancy ya. Couple goals banget sih ini. Santai banget ya hidupnya." Dan berbagai penilaian laiinnya.

Memberikan penilaian yang demikian sebenarnya bukan sesuatu yang kriminal jika sekadar  menilai dan bicara untuk diri kita sendiri. Karena manusia cenderung lebih mudah melihat hal yang lebih tinggi dibanding hal yang ada di bawah. 

Ya tidak heran jika banyak mungkin kita temui komentar-komentar kebencian atas kehidupan yang diperlihatkan seseorang dengan latar belakang utamanya adalah rasa iri itu sendiri.

Pada dasarnya, menggunakan media sosial bukanlah perkara sulit. Dari usia muda hingga tua, semua bisa menggunakannya namun saya rasa, tidak semua orang sudah cukup 'dewasa' untuk menjadi pengguna media sosial.

Menjadi pengguna media sosial tidak hanya perkara membagi kisah atau kehidupan pribadi kita untuk khalayak ramai. Namun terdapat hal-hal psikis yang sangat mempengaruhi kehidupan sie pengguna itu sendiri.

Semua orang pasti memilih membagikan momen atau sisi kehidupan yang baik, nyaman, dan indah untuk diperlihatkan. Namun hal dasar ini sering terlupakan oleh mereka yang terlalu cepat menilai apa yang dilihatnya di media sosial. 

Perasaan iri, buruk sangka, atau timbul rasa untuk ingin lebih dari yang lain adalah beberapa penyakit mental yang dialami oleh mereka yang belum siap melihat kehidupan di dunia maya.

Kita tidak bisa menyalahkan apa yang orang lain bagikan di halaman media sosialnya. Kita sendirilah yang punya kendali atas perasaan yang ingin kita alami. 

Jika kita merasa tak nyaman, kita bisa menghindar. Jika tidak memberi kebajikan, kita bisa menyembunyikan. Semua pilihan itu ada ditangan kita sendiri. 

Itulah mengapa pengguna media sosial haruslah mereka yang sudah dianggap "dewasa" untuk menangani penyakit mental yang demikian. Jika tidak, hal itu hanya akan membawa kita tengelam dalam pikiran-pikiran yang tidak akan membuat kita berkembang dan maju ke depan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x