Mohon tunggu...
Ririn Handayani
Ririn Handayani Mohon Tunggu... Freelance Writer, Fulltime Blogger

Writer n Mom

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Menyemai Benih Kreatif di Tanah Kutukan

30 September 2018   04:51 Diperbarui: 30 September 2018   06:09 352 0 0 Mohon Tunggu...

Meski negeri kita sering mendapat julukan negeri yang gemah ripah loh jinawi (kekayaan alamnya berlimpah), kenyataannya tidak semua daerah kita adalah tanah surga. Ada beberapa daerah yang bahkan seolah seperti 'tanah kutukan' karena begitu kompleksnya persoalan yang ada di sana. Berada di pelosok hingga sulit terjangkau dan kadang bahkan terisolir dari dunia luar, tanahnya gersang sehingga perekonomian sulit, kondisi kesehatan dan pendidikan masyarakatnya tertinggal, dan kadang masih ditambah dengan tipikal masyarakatnya yang kadang dicap enggan maju dan sebagainya. Di 'tanah kutukan' ini, benih-benih radikalisme bisa saja tumbuh subur dalam diri masyarakatnya. Karena rasa putus asa, merasa tertinggal, merasa berbeda. Berbagai perasaan negatif ini jika terus dibiarkan bisa membuat orang-orang yang memilikinya akan menempuh cara-cara radikal untuk mengejar ketertinggalannya. Keadaan ini tentu saja tak bisa kita biarkan karena di sinilah esensi keadilan dipertaruhkan. Kita tidak bisa maju sendiri dan membiarkan mereka terus tertinggal, membiarkan kesenjangan antara kita dan mereka menganga kian lebar.

Tentang masyarakat di 'tanah kutukan' yang pada akhirnya mampu bermetamorfosis menjadi masyarakat yang dinamis, bukanlah sebuah mitos. Masyarakat Ledokombo di Kabupaten Jember adalah salah satu yang mampu membuktikannya. Membuktikan bahwa perubahan itu nyata. Bahwa 'tanah kutukan' itu perlahan mampu menarik perhatian dunia. Membuktikan juga bahwa mereka berhak memiliki asa sama untuk membangun cita-cita yang tinggi yang perlahan mereka wujudkan satu demi satu.

Agent of Change adalah Kunci

Sejarah panjang dan fenomenal masyarakat Ledokombo tidak terlepas dari kiprah Farha Ciciek dan suami, Suporahardjo, yang memioniri terbentuknya Komunitas Tanoker Ledokombo. Dua orang ini adalah sosok anak bangsa, yang jika mau, keduanya bisa memilih banyak kesempatan untuk berkiprah di luar sana, di luar Ledokombo, di luar Jember, bahkan di luar Indonesia. Pulang ke kampung halaman yang awalnya ditujukan untuk merawat orang tua yang mulai sakit-sakitan pada 2009 lalu, ternyata menjadi titik awal bermulanya Komunitas Tanoker yang fenomenal.

Ledokombo adalah sebuah kecamatan di wilayah Jember Utara yang berjarak sekitar 35 km dari pusat kota Jember. Mayoritas penduduknya adalah suku Madura yang dikenal berkarakter keras. Banyak warganya yang bertaruh nasib ke negeri orang sebagai pekerja migran. Sebuah potret perjuangan saudara-saudara kita yang umumnya tinggal di daerah-daerah kantong kemiskinan. Bekerja sebagai pekerja migran memberi secercah harapan untuk mengubah nasib. Harapan yang kadang harus mereka bayar dengan sangat mahal. Salah satunya, meninggalkan anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan.

Bermula dari Egrang, sebuah permainan tradisional yang mulai dilupakan, yang diperkenalkan Suporahardjo kepada kedua anaknya, interaksi intens Farha Ciciek dan anak-anak sekitar dimulai. Semakin banyak anak-anak yang berkunjung dan betah berlama-lama di rumah Farha Ciciek dan keluarga. Tabir problematika sosial masyarakat Ledokombo pun sedikit demi sedikit mulai tersingkap. Tentang anak-anak yang terlantarkan yang terancam mengalami lost generation. Ada 'kekosongan' peran dan kehadiran orang tua. Padahal anak-anak itu terus tumbuh dan berkembang tanpa menunggu ayah ibunya pulang dari negeri orang. Pengasuhan adalah utang. Yang jika tidak ditunaikan saat anak-anak masih kecil, maka mereka akan menagihnya saat besar melalui sejumlah sikap dan tabiat yang menjengkelkan atau bahkan bisa dalam bentuk yang radikal. Sangat mengkhawatirkan. Dalam komunitas Tanoker yang berarti kepompong dalam Bahasa Madura, Farha Ciciek berusaha merangkul anak-anak Ledokombo untuk terus bermain dan belajar dengan senang. Proses belajar yang menyenangkan membuat mereka tumbuh menjadi anak yang lebih percaya diri, toleran dan terus berusaha untuk berbagi dan memandang dunia tidak hanya hitam dan putih. Mereka belajar untuk menerima dan menghormati orang lain yang berbeda dengan mereka. Mereka tumbuh menjadi multikulturalis .

Tak cukup hanya merangkul anak-anak yang yatim piatu secara sosial, Farha Ciciek juga mencoba membangun kesadaran dan solidaritas masyarakat setempat untuk turut peduli dan ambil bagian secara nyata guna menyelamatkan anak-anak Ledokombo dari lost generation.  Lahirlah konsep collaborative parenting yang memberdayakan ibu-ibu, bapak-bapak, bahkan kakek nenek di Ledokombo untuk menjadi 'orang tua' bagi anak-anak Ledokombo terutama yang ditinggal ayah, ibu, atau bahkan keduanya menjadi pekerja migran di luar negeri. Maka, akhirnya bukan hanya anak-anak yang bersekolah di desa itu, tapi juga para ibu, para bapak, bahkan para kakek nenek. Adalah sekolah Bok Ebok untuk ibu-ibu, sekolah Pak Bapak untuk bapak-bapak, juga sekolah Yang Eyang untuk para kakek dan nenek. Semua dilibatkan agar merasa memiliki dan bertanggung jawab untuk membawa anak-anak Ledokombo meraih masa depan yang lebih baik. Untuk mengubah stigma dan kondisi daerah mereka yang seolah dianggap sebagai 'tanah kutukan' menjadi 'tanah yang diberkahi'.

Hadirnya agent of change atau agen perubahan seperti Farha Ciciek dan suami telah menjadi perantara bagi tumbuh dan berkembangnya kreativitas dan optimisme masyarakat di daerah yang terpencil dan tertinggal untuk berusaha mengejar ketertinggalannya dengan cara-cara yang baik dan benar. Proses metamorfosis masyarakat akan semakin optimal dan kian terarah mana kala mereka memiliki modal sosial yang mumpuni. Dan salah satu modal sosial yang utama dalam perubahan sosial adalah kearifan lokal setempat.

Kearifan Lokal sebagai Modal

Kearifan lokal menjadi penentu utama berikutnya untuk mendukung proses transformasi sosial masyarakat. Dalam kasus masyarakat Ledokombo, salah satu kearifan sosial yang menjadi modal utama mereka adalah permainan tradisional Egrang. Egrang-lah yang mulanya menyatukan mereka. Filosofi Egrang pula yang kemudian menjadi inspirasi untuk menapaki perjuangan dan langkah perjuangan dengan lebih optimis dan terarah.

Egrang, sebuah permainan tradisional dengan berjalan menggunakan bambu ini mengajarkan sejumlah falsafah hidup. Bahwa kita harus optimis dan yakin bisa dengan apa yang menjadi cita-cita dan tujuan hidup. Sportif dan mau bekerja keras serta menyeimbangkan antara hubungan vertikal dengan Sang Maha Pencipta dengan hubungan horizontal dengan sesama. Semangat inilah yang menginspirasi anak-anak Tanoker untuk terus berlatih keras hingga bisa menunjukkan pada dunia bahwa mereka adalah generasi yang gemilang dan berprestasi. Dari desa yang dulu identik dengan berbagai problematika sosial itu, semangat dan kreativitas telah mengantarkan anak-anak Ledokombo bisa melanglang buana ke sejumlah belahan dunia, bersama Egrang. Sebuah permainan tradisional yang awalnya hampir punah dan terlupakan. Dunia akhirnya kembali mengingat Egrang, mengenal anak-anak Ledokombo, dan tentu saja semakin mengenal baik Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x