Mohon tunggu...
Rifqi Muhammad ďab
Rifqi Muhammad ďab Mohon Tunggu...

warga pantura, dibesarkan di sepanjang Jalan Daendels; menimba ilmu di universitas gadjah mada; tinggal di rifqi.web.id, berinteraksi di @rifqidab

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Hasil Pergumulan 1 Perempuan 14 Laki-laki

29 Januari 2011   06:48 Diperbarui: 26 Juni 2015   09:05 0 1 1 Mohon Tunggu...

Tulisan ini juga dipublikasikan di sini Saya mengetahui kumpulan cerpen ini dari teman kos. Sejenak memerhatikan covernya, sebuah kalimat menyentil menghadang mata kita. “Perlu 14 laki-laki untuk menulis buku ini dan hanya 1 perempuan untuk mengisahkannya,” demikian katanya. Ternyata buku ini dibuat secara kolbortif oleh Djenar dan 14 rekan lelakinya. Tiga atau empat tahun tidak menulis cerpen, ternyata tak membuat Djenar tercerabut dari gayanya, sebagaimana yang ditampakkna dalam Mereka Bilang Saya Monyet! Demikian pula topik yang selalu seputar tubuh dan diri perempuan. Bahkan kini ketika ia menakik ide bersama 14 laki-laki yang Djenar pilih secara berbeda bedasarkan profesi, cerita-cerita dalam buku ini nampak tetap berbau ‘Djenar’. Ke-14 laki-laki itu adalah Agus NoorArya Yudistira SyumanButet KartaredjasaEnrico Soekarno, Indra Herlambang, JRX “Superman is Dead”, Lukman Sardi, Mudji Sutrisno, Nugroho Suksmanto,Richard Oh, Robertus Robet, Sardono W. Kusumo, Sujiwo Tejo, dan Totot Indarto. Sepenuhnya kolaborasi, kumpulan cerpen ini berisi 14 cerpen yang masing-masing ditulis berdua oleh Djenar dan 14 partner lelakinya. “Ditulis berdua” di sini, dari pengakuan salah satu lelaki Djenar, maksudnya benar-benar sangat harfiah. Djenar menulis kalimat pertama, teman menulisnya menyambung dengan kalimat kedua, lalu Djenar menyambung lagi satu kalimat, dan seterusnya. Terkadang menulis lebih dari satu kalimat. Demikian karya ini dibuat secara mengalir kami. Apakah dengan demikian pembaca akan mengenali mana kalimat Djenar atau rekannya? Sesekali kita bisa merasakan perbedaannya, namun kerap tidak. Cara berkolaborasi demikian bisa jadi begitu serampangan, karena masing-masing bisa jadi sejak awal tidak mengetahui alur dan karakter yang ditulis rekannya. Saya pernah merasakan cara menulis ini ketika sesekali mengikutianonymous writers club dalam situs Kunci Cultural Studies. Namun barangkali sedikit berbeda. Dalam forum tulis Kunci kita tak perlu memikirkan alur cerita atau karakter tokoh. Sedangkan dalam kolaborasi cerpen 1 Perempuan 14 Laki-laki mereka tentu memikirkan pelbagai unsur cerita juga. Ini hanya perkiraan saja. Semacam resensi singkat. Perkiraan saya sebagai orang luar, yang tidak bisa diklarifikasi kebenarannya. Barangkaliendorsement dari 14 partner Djenar selama menganggit bisa memberikan gambaran buku secara keseluruhan.

  1. Agus Noor: “Kita bisa memesan bir, namun kita tak bisa memesan takdir.”
  2. Arya Yudistira Syuman: “Onggokan baju-baju kami tengah berpelukan di atas lantai.”
  3. Butet Kartaredjasa: “Sejak Mas Gun menyandang gelar anumerta dalam urusan ranjang, ia selalu gugur sebelum berperang.”
  4. Enrico Soekarno “Masih jelas benar mata-mata tanpa bola mata hitam merubuhkan patung. Membakar kampung.”
  5. Indra Herlambang “Tanpa hilang senyum, ia minta saya berakting di depan kamera untuk sebuah adegan mesum.”
  6. JRX “Superman is Dead”: “Kadang sunyi. Kadang ramai seperti adegan ranjang yang melibatkan borgol, topeng, dan cemeti.”
  7. Lukman Sardi: “Melongo di depan buku berdebu nostalgia masa lalu kala masih berseragam putih biru. Buat gue it sucks!”
  8. Mudji Sutrisno: “Sepasang jari bersayap, terbang mengitari seputar celana yang dipakai laki-laki dengan dada telanjang.”
  9. Nugroho Suksmanto: “Ayu tak segan mengajak kencan duluan. Dan laki-laki tak kuasa menolak seperti kucing disodori ikan.”
  10. Richard Oh: “Antonio tidak ingin perlahan mati. Tidak tanpa Roselyn, yang ia tahu akan berakhir sunyi.”
  11. Robertus Robet: “Aku mencintaimu maka aku ada! Aku mencintaimu maka aku membunuhmu!”
  12. Sardono W. Kusumo: “Setiap kali kita bertemu, aku menabung rindu.”
  13. Sujiwo Tejo: “Di tangan Raditya, gitar jadi berbicara. Dan saat Raditya memetik putingnya, Prita melambung ke angkasa.”
  14. Totot Indrarto: “Tubuh saya seakan lumpuh saat tubuhnya menyatu ke tubuh saya seluruh dan penuh.”

Jogja, Seusai makan siang. Tulisan ini juga dipublikasikan di sini,

KONTEN MENARIK LAINNYA
x