Mohon tunggu...
Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Mohon Tunggu... Penulis - PENULIS
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Hutan kata; di hutan aku merawat kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Sumbangan Masjid

1 April 2019   16:43 Diperbarui: 1 April 2019   17:14 217
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber ilustrasi: pixabay

"Tak bisa!" Seseorang berpeci miring langsung menyalip. "Pak Lubai itu, selain tauke karet yang tak jujur, duitnya pasti dari anak perempuannya yang penggatal di Jakarta itu. Bisa hancur rencana kita. Masa' dananya dari jalan haram. Tidak, Tidak!"

Suara dengung serupa gempuran lebah, membuat langgar itu gaduh. Nyala api lampu teplok, meluik-liuk diterjang angin. Sebagian kecil dari peserta rapat menolak mentah-mentah rencana Kartolo dan ide si Lubai itu. Sisanya yang lebih besar, setuju. Mereka dari pihak yang lebih muda, dan tak ingin bersusah-payah mencari dana dari rumah ke rumah penduduk. Kalau ada yang langsung menimpa dengan uang besar, mendapatkan sisanya tentu lebih mudah.

Rapat kacau. Ketika nyala di teplok itu padam karena kehabisan minyak, semua bubar. Haji Samauan menggerutu. Ini semua gara-gara Kartolo. Mulutnya tak ber-rem. Ingin dia menggonyoh mulut lelaki itu dengan cobek yang berlumur cabe. Ingin dia menyentak nyali si Kartolo. Namun tak sanggup. Jauh-jauh hari dia sudah tahu Lena mencintai lelaki yang satu ini. Bila dibentak, dan Lena mengetahuinya, bisa berabe. Itu bisa dijadikan putri sulungnya alasaan untuk berhenti bersekolah di pesantren. Karena sejak dulu dia bercita-cita menjadi tukang salon seperti Martini yang bekerja di ibukota kecamatan. Martini selalu kelihatan cantik. Martini berlimpah uang. Bahkan dia banyak dikenal orang. Dari sepanjang kampung sampai ke ibukota kecamatan.

* * *

Haji Samaun mencangkung di pinggir kolam belakang rumahnya. Dia kasihan mengingat kondisi langgar yang hampir rubuh. Andaikan seluruh orang kampung mau menyumbangkan dananya, tentu tak sulit merubah langgar itu menjadi masjid. Tapi andai-andai itu sulit terwujud. Jangankan merubah langgar menjadi masjid, membenarkan dindingnya yang doyong, seorang pun enggan. Kalau tidak Haji Samaun berinisiatif  berjibaku membenarkannya bersama Haji Pardosi dan Kartolo. Pun untuk memasukkan aliran listrik tak ada niatan orang kampung sama sekali. Padahal listrik sudah hampir lima tahun masuk kampung, meski menyala di malam hari saja.

Memang memasukkan aliran listrik, tepatnya instalasinya, ada seorang dua yang bersedia membiayai. Tapi untuk membayar rekening bulanan, semua saling tuding. Termasuk Haji Samaun. Bedanya dia tak menuding orang lain, melainkan dia dituding sang istri karena tak ingin uang belanjaan disisihkan demi membayar rekening listrik langgar. Padahal jangankan Haji Samaun, rata-rata penduduk di kampung itu tak ada yang miskin sampai berkarat-karat. Semua memiliki pekerjaan yang menjanjikan. Menjadi petani, pemilik kebun karet, kayu manis, lada dan kopi, tauke, pemilik warung dan masih banyak yang lainnya. Intinya yang menjadi pengemis tak ada, terkecuali mereka yang merantau ke negeri orang dan menjadi orang-orang gagal.

* * *

Kekisruhan hati Haji Samaun semakin menjadi. Hampir seluruh peserta rapat kedua malam ini, terkecuali dia dan Haji Pardosi, menyetujui rencana gila Pak Lubai dan Kartolo. Kebetulan Pak Lubai hadir demi mewujudkan aspirasinya. Padahal seumur-umur, dia belum pernah mendatangi langgar. Kalau pun pernah, itu hanya melintas di teritisnya saja. Karena dia senang berburu langsung hasil karet dari kebun-kebun karet penduduk. Selain harganya murah, untuk mendapatkan karet yang murni lebih mungkin. Sebab bila ditunggu di depot karet, alhasil karet yang gendut dibalut airlah yang diperoleh. Mutunya jelek, dan lebih susah mengeringkannya. 

Haji Samaun manyun. Dia tak ingin berdebat, sampai akhirnya Pak Lubai berbicara, "Saya tahu di antara bapak-bapak ada yang tak setuju dengan niat baik saya. Padahal keinginan saya sangat kuat membantu pembangunan masjid ini." Dia menarik napas pelan. "Untuk menghindari anggapan bahwa sebagian besar sumbangan saya adalah dari hasil pekerjaan putri saya yang kata orang-orang penggatal di Jakarta, maka telah dirancang sebuah malam penggalangan dana. Saya dengan pihak kecamatan telah sepakat menanggap dangdutan semalam suntuk di lapangan bola ibukota kecamatan. Bapak-bapak tahu pedangdutnya, kan? Yang pasti anak-anak saya diiringi band terkenal dari Jakarta."

Lelaki berjambang yang kini mengenakan celana jins dan kaos longgar bertuliskan Devil Society, menyambung. "Kabarnya dari kecamatan-kecamatan lain datang berkunjung. Kapan lagi nama kampung kita tersohor. Bahkan dengan kesuksesan acara kelak, bapak camat bermaksud mengaspal jalan di kampung kita sampai ke langgar ini. Bukan begitu, Pak Lubai?"

Hati Haji Samaun dan Pardosi  meradang. Suara mereka pasti sangat kecil melawan peserta  rapat yang malam ini sangat banyak sehingga meluber ke halaman. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun