Mohon tunggu...
Rifa Nasya Shafwa
Rifa Nasya Shafwa Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa Hukum

.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Menumbuhkan Rasa Bangga pada Generasi Muda terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia sebagai Jati Diri Bangsa

25 Desember 2020   18:07 Diperbarui: 25 Desember 2020   18:11 3748
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: idntimes.com

Salah satu bentuk upaya pemerintah tersebut adalah dengan pembinaan dan pengembangan bahasa, sehingga jati diri bahasa Indonesia tetap bertahan dan tidak lekang oleh waktu. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Effendi yang menyatakan bahwa, pembinaan bahasa Indonesia adalah serangkaian kegiatan berencana dalam memelihara dan memekarkan bahasa Indonesia sedemikian rupa sehingga masyarakat lebih mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar serta bersikap positif terhadap bahasa Indonesia (2007: 82).

Menanggapi pendapat Effendi tersebut, dalam hal ini yang dimaksud dengan masyarakat dapat diartikan pula sebagai generasi muda. Dimana apa yang dilakukan pemerintah adalah sebuah upaya untuk menciptakan dan mewujudkan generasi muda yang semakin mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Lebih jauh dari itu, generasi muda diharapkan akan semakin bangga menggunakan bahasa Indonesia dan menghormatinya sebagai bahasa negara.

Pemerintah juga memandang pentingnya upaya pembenahan sistem pendidikan nasional untuk menyiapkan SDM yang unggul, berkualitas, dan berdaya saing tinggi. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjadi dasar hukum penyelenggaraan dan reformasi sistem pendidikan nasional. Sekolah sebagai wahana pembentuk SDM yang handal diharapkan dapat menciptakan generasi penerus yang berkualitas yang dapat menjaga jati diri bangsa melalui bahasa.

Sekolah sebagai pendidikan resmi dalam hal ini juga merupakan basis pembinaan bahasa Indonesia. Lembaga pendidikan merupakan sarana yang tepat untuk mencetak generasi yang memiliki kepekaan, emosional, sosial, dan intelektual. Bahasa Indonesia akan terbina dengan baik apabila sejak dini anak-anak bangsa khususnya para generasi muda dilatih dan dibina secara serius dan intensif agar mereka mampu menggunakan bahasa dengan baik dan benar dalam peristiwa tutur sehari-hari, baik dari ragam lisan maupun tulisan.

Setelah pelatihan dan pembinaan tersebut berjalan dengan baik, maka langkah selanjutnya adalah dengan mengadakan kompetisi penggunaan bahasa untuk meningkatkan ketertarikan pelajar atau peserta didik untuk lebih mengeksplorasi bahasa Indonesia sehingga tidak hanya kompetisi dalam bahasa asing saja yang ditonjolkan. Diharapkan dengan pengadaan kompetisi tersebut nantinya para generasi muda bukan hanya menjadi gemar, tetapi dapat menguasai penggunaan bahasa pada tingkat yang lebih tinggi dan menumbuhkan rasa banggga dalam menggunakan bahasa Indonesia.

Upaya untuk menumbuhkan rasa bangga tersebut pun tidak terlepas dari peran dan kemauan diri mereka sendiri. Jika tidak ada kemauan yang dibangun dari dalam diri sendiri, maka segala bentuk upaya apapun tidak akan membuahkan hasil. Dalam hal ini upaya tersebut dapat diwujudkan melalui tingkah, pandangan, sikap, dan perilaku.

Seperti contoh, banyak anak muda menggunakan istilah-istilah tak lazim yang tidak merujuk kepada penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam pergaulan mereka. Selain itu ada juga yang menggunakan bahasa Inggris secara berlebihan sebagai bahasa sehari-hari, mencampurkan istilah-istilah asing dengan bahasa Indonesia dan menganggap bahwa bahasa asing lebih tinggi derajatnya daripada bahasa nasional mereka sendiri (Muslich, 2010: 38).

Dendy (2014) berpendapat, orang Indonesia merasa hebat ketika menggunakan bahasa asing. Banyak kata asing diserap sekadarnya meski sudah ada padanan bahasa Indonesia yang cocok dengan gagasan yang dibicarakan. Sebagai contoh, masyarakat Indonesia lebih sering memberi nama-nama, seperti Garden Hotel, Tunjungan Plaza, International Tailor, Sudirman Cup, Surabaya Shopping Center yang tidak sesuai dengan hukum diterangkan dan menerangkan, seharusnya disesuaikan menjadi Hotel Garden, Plaza Tunjungan, Penjahit Internasional, Piala Sudirman, dan Pusat Perbelanjaan Surabaya. Penyesuaian nama ini tidak akan menurunkan derajat perusahaan tersebut. Sebaliknya, penyesuaian inilah yang disebut penggunaan bahasa Indonesia yang taat asas, baik, dan benar.

Contoh lain yang juga dapat kita lihat dalam penggunaan nama makanan dan minuman pada beberapa tempat makan di Indonesia dimana harganya akan lebih tinggi dan bahkan sampai berkali-kali lipat jika menggunakan bahasa Inggris. Lain halnya jika nama makanan atau minuman tersebut menggunakan bahasa Indonesia, harganya akan relatif lebih rendah. Hal tersebut membuktikan bagaimana penggunaan bahasa asing begitu lebih dihargai dan mempunyai derajat yang lebih tinggi di negeri kita sendiri.

Melihat persoalan di atas, maka di sini lah generasi muda harus mampu meningkatkan perannya dengan cara memperbaiki sikap, tingkah laku, maupun pandangan mereka dengan cara:

1. Mempelajari dengan lebih mendalam akan pentingnya berbahasa Indonesia yang baik dan benar

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun